Bukan Istri Bodoh

Bukan Istri Bodoh
Part 15 Aku Sudah Keluar


__ADS_3

"Baiklah Nay, jika kamu merasa tak sabaran ingin mengambil hakmu sebagai istri sah. Aku akan melakukannya hari ini juga. Tapi, kamu harus berhati-hati karena aku hampir ketahuan saat meretas data internal perusahaan suamimu," ucap Rhia dalam telponnya.


Nayra menyerhitkan keningnya merasa binggung saat mendengar perkataan temannya yang professional dalam bidang IT kode html.


"Kamu beneran hampir ketahuan, Rhia? Aku hampir tidak percaya dengan keahlianmu yang suhu ini masih terdeteksi lalu bagaimana dengan aku yang tidak mendapatkan pelajaran mengenai kode html." keluh Nayra.


"Hei, jangan mengeluh dulu. Aku punya ide yang bagus dan aman untukmu. Sebaiknya, kamu menyamar nama saja untuk mengubah pemilikan perusahaan. Dengan begitu, berkurang rasa curiga suamimu padamu, Nay."


"Benar juga katamu, Rhia. Aku tidak berpikir sejauh itu aku perlu banyak berterima kasih atas ide cemerlangmu bisa membantuku."


"Sama-sama Nayra, kebaikanku ini tak sebanding dengan kebaikanmu menyelamatkan nyawaku." perkataan Rhia membuat dirinya teringat saat pertemuan pertamanya dengan sahabat baiknya di tempat rel kereta api. Dimana Nayra melihat Rhia ingin bunuh diri dan ia langsung menarik tubuh Rhia hampir tertabrak oleh kereta api.


Alasan Rhia ingin bunuh diri karena dia korban bullying di kampusnya membuat hidupnya putus asa. Sejak hadirnya Nayra di hidup Rhia sebagai sahabat baiknya yang mau berteman dan melindunginya membuat Rhia tidak bisa membalaskan hutang budinya.


Nayra hanya menghela nafas kasar saat Rhia terus mengungkit kebaikannya dulu.


"Iya, terima kasih sudah mengingat kebaikanku. Aku tahu kamu sebagai sahabat baikku sudah terlanjur mencintaiku. Aku harap kamu tetap menjadi sahabat baikku dalam keadaan apapun." sahut Nayra melalui sambungan panggilan telponnya.


"Baiklah, aku tutup dulu telponnya. Aku ingin menjahili perusahaan suamimu agar sedikit mengalami kerugian sebelum balik nama pemilikan perusahaan. Aku ingin tahu seperti apa suamimu dapat menyesal." balas Rhia membuat Nayra hanya setuju saja.


"Silahkan saja, aku mendukung apapun yang kamu lakukan Rhia. Asalkan perbuatan itu berdampak baik untukku." setelah mengatakan itu Nayra pamit menutup sambungan panggilan masuk di ponselnya.


Sebelum ia melangkah pergi dari ruang toilet, ia menatap pantulan dirinya di depan kaca toilet.


"Aku wanita cantik, baik, mandiri, setia dan berpendidikan tinggi. Aku memiliki keturunan yang lucu dan terlahir dari keluarga terpandang. Tapi, kenapa Kak Kenzo berbuat curang dengan mengkhianati cintaku? Apa kurangnya aku dengan teganya menduakanku dengan teman baikku sendiri?" tanya Nayra pada dirinya sendiri. Ia menahan buliran kristal yang ingin membasahi wajah cantiknya tapi ia memilih berpikir positif agar masalah yang dihadapinya akan mendapatkan jalan keluar.


"Lebih baik aku pesan makanan burger dan minuman dulu. Sudah setengah jam, aku disini." Nayra melangkah pergi dari ruang toilet dan ia langsung memesan makanan dan minuman untuk dirinya dan anaknya.

__ADS_1


Setelah mendapatkan pesanan makanan dan minuman yang dibawanya dalam nampan yang dipegangnya itu. Ia melihat wajah Rico cemberut dan ia melipatkan kedua tangannya di perutnya.


"Hem... Mama telat setengah jam memesan makanan Ico. Ico kesal cama mama," ucap Rico dengan suara cadelnya.


Nayra menaruh makanan dan minuman di atas meja, ia tersenyum tulus saat menatap wajah tampan anaknya.


"Iya, maafin mama ya Rico. Tapi itu Tante Rhia telpon mama, jadi mama terima telpon dulu. Rico sudah habis makanannya, ini makanlah makanannya masih hangat." sahut Nayra sembari menyerahkan makanan pada Rico.


"Mama benelan ndak bohong Ama Ico?" tanya Rico memastikan.


"Tidak nak, ayo makanlah. Mama tidak mau Rico mengabaikan makanan nanti makanannya nangis loh kalau tidak dimakan. Ayo makan biar Rico makin pintar dan tampan." bujuk Nayra membuat Rico melirik sekilas ke arah dirinya.


"Ya udah, Ico maafin Mama. Tapi, janji jangan buat Ico menunggu lama lagi." Rico mengacungkan jari kelingkingnya di hadapan Nayra.


Nayra pun mengarahkan jari kelingkingnya menuju Rico untuk menerima janjinya.


"Okey Mama." Rico mulai berdoa sebelum makan lagi. Setelah itu ia memakan makanan burger dengan lahap.


***


Messi yang telah meminum obat yang diberikan oleh perawat wanita mengenakan masker. Tiba-tiba perutnya terasa sakit luar biasa dan ia merasa heran pada dirinya. Padahal ia telah makan dan minum obat tapi kenapa ia merasa sakit perut?


"Haduh, perutku terasa sakit sekali. Rasanya aku ingin buang air besar tapi bagaimana caranya agar aku bisa berjalan ke ruang toilet?" ucap Messi yang menatap ke sekeliling ruangannya yang tidak ada siapapun yang menjaganya.


"Bagaimana ini aku harus melakukan apa? Tangan dan tubuhku terasa nyeri jika dipaksakan untuk berjalan sendiri. Ada kursi roda tapi tidak bisa aku duduki sendiri." Messi merasa binggung pada kondisinya saat ini.


"Apa aku telpon Kak Kenzo saja agar datang kesini? Pasti kelamaan dia datang dan aku sudah tidak tahan lagi mau keluar kotoran. Haduh, aku harus meminta tolong." Messi menatap ke arah tombol merah yang berada di dinding yang di sebelah meja makannya.

__ADS_1


Tit... Tit...


Tidak lama kemudian, seorang perawat wanita bermasker datang ke ruangan Messi.


Messi yang melihat kedatangan perawat bermasker yang memberinya obat tadi. Ia bisa bernafas lega dan ia ingin meminta tolong pada perawat itu.


"Bu perawat tolong aku pergi ke toilet, aku tidak mampu untuk berjalan sendiri," ucap Messi sopan pada perawat wanita yang berdiri di hadapannya.


Tidak ada respon apapun yang dilakukan oleh perawat wanita bermasker terhadap perkataan Messi. Hal itu, membuat Messi merasa binggung.


"Ayo Bu perawat, kenapa masih berdiri diam saja? Ayo bantu aku, aku sudah tidak tahan." lanjut Messi lagi.


Seketika Perawat wanita bermasker yang berdiri diam di hadapan Messi. Perawat langsung membuka maskernya dan hal itu membuat Messi membulatkan kedua bola matanya dengan sempurna.


"Kamu? Perawat gila yang menjambak rambutku hingga menjadi singa jadi-jadian tadi?" ucap Messi membuat Perawat tersenyum penuh arti.


"Ya ampun, kamu lagi! Kamu lagi! Apa tidak ada perawat lain untuk mengurusku di rumah sakit ini? Hanya kamu saja yang mampu mengurusiku? Dasar gak ada gunanya cuma diam saja, cepat bantu aku berdiri kalau tidak mau mendapatkan pekerjaan baru lagi." perkataan Messi membuat Perawat Fika merasa geram.


"Kamu sang pelakor tidak tahu diri! Berani-beraninya menyuruhku untuk mengurusiku, hem! Apa hakmu menyuruhku seperti itu?" tanya Perawat Fika.


"Aku adalah pasien di rumah sakit ini aku dirawat dan membayar biaya perawatan rumah sakit. Jika tidak mampu memberikan pelayanan yang baik untuk pasien itu berarti kamu perawat tidak berkompeten dalam pekerjaanmu. Cepat jangan banyak bicara! Aku sudah tidak tahan lagi wahai perawat gila hormat." jawab Messi cetus membuat Perawat Fika langsung melayangkan tamparan pada wajah Messi.


Tapi, Messi dengan cepat menghindar dari pukulan Perawat Fika dan ditariknya tangan itu hingga tubuh Messi hampir terjatuh di pinggir kasurnya. saat itulah Messi langsung mengeluarkan bau kecut tiada taranya.


Pret!


"Sepertinya aku sudah keluar," ucap Messi dengan santai. Ia menatap wajah masam Perawat Fika yang berada di dekat pantatnya. Lebih tepatnya mencium bau kecut secara langsung dari dirinya.

__ADS_1


__ADS_2