
Nayra terbangun dari pingsannya, ia memegangu kepalanya yang sedikit terasa pusing akibat terlalu overthingking atas kejadian tadi. Ia menatap ke sekeliling ruangan yang ternyata dirinya sudah berada di dalam kamarnya.
"Pasti kak Kenzo yang mengendongku kesini. Kalau bukan dia, mana ada orang lain berani mengendongku di hadapan Kak Kenzo yang adanya terjadi baku hantam," ucap Nayra pelan.
"Huh, drama tadi menyita mental dan pikiranku saja. Aku tidak memiliki rencana aneh seperti itu. Apa benar Rhia yang merancang rencana ini agar lebih panas lagi." Nayra tidak ingin banyak pikiran lagi, lebih baik ia mengambil ponsel yang berada di atas meja yang bersebelahan di kasur tidurnya. Ia ingin memastikan sendiri apa benar Rhia yang merencanakannya. Jika benar, ia akan menginap di rumah Rhia selama satu minggu dalam merencanakan keberhasilan rencana yang mampu menggoyahkan mentalnya.
"Hallo Rhia!" ucap Nayra saat sambungan panggilan masuk di ponselnya diangkat oleh seseorang.
"Iya Nay, ada apa menelpon pagi-pagi begini. Pasti kamu kangen ya denganku dan mau menginap di rumahku hari ini." sahut Rhia melalui sambungan panggilan ponselnya.
"Bukan Rhia, aku sangat senang atas rencanamu mengajak pria rentenir itu datang ke rumahku untuk menakuti-nakuti Kak Kenzo. Aku suka gayamu, Rhia yang super fast dalam segala tindakan." puji Nayra dengan suara bahagianya.
"Tunggu dulu, maksudnya apa Nay? Aku tidak pernah membuat rencana untuk membawa pria rentenir di rumahmu untuk mengacak-acak rumahmu. Aku hanya mengambil alih perusahaanmu saja agar berganti nama kamu. Aku tidak tahu kalau mengenai rentenir bank itu bisa saja suami kamu sendiri yang meminjamkan uang diam-diam tanpa sepengetahuan kamu." sahut Rhia panjang lebar.
Perkataan Rhia berhasil membuat Nayra sesak nafas. Bisa-bisanya suami gak ada akhlak bisa meminjamkan uang di bank tanpa persetujuannya. Semua barang di dalam rumah mewahnya, uang yang melimpah hingga perusahaan itu miliknya sedari masih gadis. Lalu, apa Kenzo tidak punya rasa malu untuk mengambil hak kekayaan istrinya. Atau Kenzo sengaja menghabiskan semua uang itu agar ia bangkrut total. Seketika Nayra menggeleng cepat akan kenyataan pahit yang baru diterimanya.
"Kak Kenzo jahat! Dia pria tak punya hati! Hartaku hampir habis dibuatnya. Tidak! Aku tidak mau benar-benar jatuh miskin. Rhia, tolong aku! Buat rumah mewahku beserta seisinya tetap menjadi milikku. Aku tidak mau kehilangan rumah mewah yang aku bangun dari hasil jerih payahku, Rhia. Hiks... Hiks... Tolong aku," ucap Nayra dengan menitikkan air matanya membasahi wajah cantiknya. Ia tidak perduli, alasan klasik Kak Kenzo lagi. Ia mau kekayaannya tetap menjadi miliknya. Bila perlu ganti saja jaminan hutang itu menjadi Kenzo masuk penjara biar dia kapok dan jera atas kejahatannya.
__ADS_1
Rhia hanya menghela nafas kasar saat teman baiknya benar-benar terpuruk. Ada rasa kasihan yang mendalam atas perbuatan keji suaminya. Temannya ini sangatlah wanita baik dan sabar. Dimana dia menyetujui kuliah S2 luar negeri untuk mengikuti kemauan suaminya tapi rupanya suaminya berselingkuh dengan teman baiknya sendiri. Hingga sekarang suaminya berani meminjamkan uang dengan jaminan rumah mewah Nayra beserta seisinya. Untung saja, perusahaan Nayra sudah ia rebut hak kepemilikannya agar tetap aman. Jika ia terlambat satu langkah saja. Bisa hancur total perusahaan Nayra ditangan suaminya.
"Baiklah, kamu tenang dulu. Aku akan mencari cara untuk menyelamatkan rumah mewahmu beserta seisinya. Mungkin cara ini mainstream seperti melindungi perusahaanmu, Nay."
"Seperti apa cara yang kamu rencanakan Rhia?" tanya Nayra cepat melalui sambungan panggilan masuk di ponselnya.
"Aku akan meretas identitas jaminan pinjaman uang suamimu menjadi nama orang lain atau aku akan berpura-pura untuk membeli rumah mewahmu. Tapi, lebih enaknya aku ganti saja identitas jaminan pinjaman uang suamimu menjadi resiko tindakan pidana penjara atas penipuan. Dengan begitu, kamu merasa tidak dirugikan." jelas Rhia dengan pikiran liciknya karena ia terlalu cedas untuk menangani segala hal yang berkaitan dengan IT seperti saat ini.
"Hem... Apa tidak beresiko besar, Rhia. Kak Kenzo meminjam uang di bank resmi Indonesia. Takutnya, kode aksesmu dapat dilacak oleh pihak hacker bank." sahut Nayra yang tidak ingin teman baiknya tersangkut paut dengan tindakan hukuman pidana di negaranya.
"Aku tahu konsekuensinya dan aku lebih takut jika rumah mewahku benar-benar diambil orang lain dan kehilangan kenangan manis di dalam rumah mewahku itu."
"Baguslah, kalau begitu aku tutup dulu telponnya. Aku mau mandi dulu."
"Apa? Kamu belum mandi Rhia? Sekarang sudah jam 10 pagi dan kamu masih mageran di kasur empuk ternyaman itu. Apa kamu tidak bosan tiduran terus di sepanjang hari?" tanya Nayra dengan wajah kagetnya atas sikap temannya yang baru pindah di Indonesia dan tidak memiliki teman selain dirinya.
"Palingan sakit pinggang saja, habisnya gak ada teman dan tidak punya pekerjaan disini. Makanya aku bisa santai dan bermalas-malasan di sepanjang hari, hahaha... Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan. Setelah aku mandi dan makan. Aku akan melancarkan rencana itu."
__ADS_1
"Baiklah, aku percaya sepenuhnya pada Rhia. Semoga berhasil dan terima kasih," ucap Nayra dengan penuh harapan pada Rhia.
"Iya sama-sama." Rhia pun memutuskan sambungan panggilan masuk secara sepihak. Ia bangun dari posisi tidurnya agar bisa mandi dan memasak roti panggang dan susu hangat untuk sarapan pagi sekaligus makan siangnya saja. Biar tidak repot-repot lagi untuk makan siang.
Sementara Nayra yang melihat sambungan panggilan telepon dimatikan oleh Rhia. Ia menaruh kembali ponsel itu di atas meja riasnya. Tubuhnya masih lemas untuk berjalan keluar kamar. Akhirnya, ia memilih berbaring saja di atas kasur tidurnya untuk menenangkan pikirannya yang kacaw karena suaminya.
Ceklek!
"Sayang, kamu sudah bangun. Aku bawakan makanan kesukaan kamu agar bisa makan siang di dalam kamar saja," ucap Kenzo yang melangkah masuk ke dalam kamarnya dengan kedua tangan memegang nampan makanan dan minuman untuk Nayra.
Nayra hanya diam menatap ke arah Kenzo yang terlihat biasa saja tanpa adanya rasa bersalah sedikit pun pada dirinya.
"Senyuman manis itu tidak berlaku lagi padaku, Kak. Kakak pasti sedang merencanakan sesuatu agar aku tidak membenci kakak. Sudah basi rencanamu itu." kata Nayra dalam hati. Ia hanya diam saja saat Kenzo mengajaknya untuk memakan makanan buatan Kenzo.
"Sayang, ayo buka mulutnya. Biar aku suapin makanan yang aku masak sendiri. Setelah itu minum obat biar tenang dan sehat," ucap Kenzo sembari memberikan satu sendok berisi nasi dan lauk di hadapan Nayra.
"Tidak! Aku sudah kenyang kak. Aku butuh istirahat saja." tolak Nayra mentah-mentah dan ia memilih berbaring kembali dengan menghadap membelakangi Kenzo.
__ADS_1