Bukan Istri Bodoh

Bukan Istri Bodoh
Part 54 Luar Negeri


__ADS_3

Dokter Anton yang melihat Rico menangis histeris di hadapan Mama Nayra. Ia memberi isyarat mata ke arah Bimo agar membawa semua tas koper di dalam mobil.


Bimo yang mengerti perintah dari Tuan mudanya, ia mengangguk pamit undur diri di hadapan Dokter Anton. Ia berjalan menuju tas koper untuk didorong keluar ruangan.


Dokter Anton melirik jam tangan yang melingkar di tangan kekarnya. Ia menghela nafas kasar untuk menghadapi sikap Rico yang labil.


"Rico tenang saja, Paman akan membuat mamamu bangun dari tidurnya. Malam ini kita akan pergi ke luar negeri. Rico jangan nangis lagi ya nak. kasihan sama mama ikutan sedih." bujuk Dokter Anton sembari mengelus pindah Rico.


Rico yang mendengar perkataan Dokter Anton membuat ia menghentikan Isak tanggisnya


Ia menatap kedua bola mata sendu milik Dokter Anton di hadapannya.


"Iya paman, Ico mau mama bangun bial bisa main cama Ico lagi." sahut Rico dengan suara cadelnya.


"Baguslah, kalau begitu ayo kita pergi dari sini dan biarkan dua perawat itu membawa mama ke dalam mobil ambulans." balas Dokter Anton lalu ia mengalihkan pandangannya menuju ke arah dua perawat pria yang telah berdiri membelakangi pintu.


"Bisa dorong sekarang ranjang tidur pasien Nayra? Semua administrasi sudah tuntas dan tinggal bawa ke laur negeri," ucap Dokter Anton pada dua perawat laki-laki yang mengangguk setuju dan menjalankan tugasnya.


Dokter Anton langsung menggendong tubuh mungil Rico agar berjalan keluar ruangan. Ia menatap wajah tampan yang terlihat sibuk memperhatikan brankas tidur yang ditempati oleh Nayra itu didorong oleh dua perawat menuju masuk ke dalam mobil ambulans.


"Ico mau macuk mobil itu, paman," ucap Rico dengan menunjukkan jari manisnya ke arah mobil ambulans.


"Okey." sahut Dokter Anton mengikuti permintaan Rico. Tetapi, sebelum itu ia menyuruh Bimo agar membawa mobilnya dan mobil Bimo dibawa oleh dua bodyguard yang menjaga dirinya.

__ADS_1


Setelah sampai di depan gedung bandara internasional Soekarno Hatta Jakarta. Brankas tidur Nayra didorong masuk ke dalam pesawat di ruang VVIP. Rico dan Dokter Anton ikut masuk untuk menjaga Nayra selama masa perjalanan.


Pesawat yang mereka naiki tidak melakukan transit dan memakan waktu 8 jam dalam perjalanan menuju ke Australia.


Setibanya di negara Australia, Nayra langsung dibawa ke rumah sakit untuk melakukan perawatan intensif.


Dokter Anton yang memiliki rumah mewah di Australia. Ia menyuruh Bimo agar menyiapkan tempat tidur untuk dirinya dan Rico yang merasa lelah di perjalanan panjang.


"Rico, mama Nayra masih melakukan penanganan perawatan intensif. Sebaiknya kita pulang saja ke rumah paman disini," ucap Dokter Anton.


"Memangnya Paman punya rumah disini? Ini lual negeli." sahut Rico dengan wajah polosnya.


Dokter Anton merasa gemas atas perkataan Rico yang belum mengenali dirinya secara jauh.


"Iya, Ico mau ke lumah paman. Tapi, Ico tatut mama kecepian kalau ditinggalin cendili disini." Rico menunjukkan kepalanya merasa sedih karena mama Nayra yang ia miliki selama ini.


"Tenang saja, Paman sudah menyuruh bodyguard pribadi paman agar menjaga mama Nayra. Ya sudah, mari pulang ke rumah paman. Di rumah paman banyak mainan disana." Dokter Anton langsung mengangkat tubuh mungil Rico agar berada di dalam pelukannya.


Nayra masih dalam kondisi komanya, ia merasa ruangan serba putih ini terasa berbeda. Apa dirinya sudah sampai di luar negeri sesuai dengan perkataan dokter Anton. Jika benar dirinya dirawat lebih canggih, ia sangat berterima kasih pada Dokter Anton yang tidak tanggung-tanggung untuk menolongnya. Apalagi, anaknya pasti diasuh oleh Dokter Anton.


"Aku harap semua akan baik-baik saja dan aku bisa terbangun dari masa komaku. Tuhan beri aku kesempatan hidup agar aku bisa menyelesaikan semua permasalahan menjadi tuntas.


Kenzo yang tiba-tiba terbangun dari tidurnya, ia terlihat panik bercampur frustasi. Entah kenapa ia sangat merindukan Nayra -- Mantan istrinya yang ia sia-siakan selama ini. Ia menoleh ke arah samping yang ternyata Messi masih tertidur di sebelahnya. Jika dibandingkan dengan wajah Nayra dan Messi. Tentu saja, Nayra lebih cantik natural dan imut. Sedangkan wajah asli Messi hancur lebur yang jauh dari kata cantik.

__ADS_1


"Ya ampun, kenapa aku bisa memilih wanita jelek ini menjadi istriku? Aku sudah mendapatkan wanita cantik, baik, berpendidikan tinggi S2 dan setia. Tetapi, aku memilih Messi karena dia memiliki harta saja. Hem... Sepertinya aku dibutakan oleh hartanya saja. Sehingga aku kehilangan wanita terbaik di dalam hidupku." Kenzo mengusap wajahnya dengan kasar. Ia bisa pusing tujuh keliling, jika memikirkan hal-hal yang membuat ia menyesal atas pilihannya.


Kenzo bangun dari posisi duduknya agar berjalan jauh dari kasur empuk berukuran king size itu. Ia masih bertelanjang dada dengan tubuh sispek kotak-kotaknya. Ia berjalan menuju balkon kamar untuk menatap pemandangan malam hari. Dingin dan sejuk itulah yang dirasakan oleh Kenzo saat angin berhembus kencang menyentuh tubuhnya. Ia membutuhkan kesendirian untuk menetralkan pikirannya.


"Jika saja, Nayra tidak koma. Dia masih menjadi istriku, meskipun Nayra sudah jatuh miskin karena kehilangan perusahaannya atas kebodohanku. Tetapi, aku tidak boleh menyesali semua yang terjadi. Semua ini pilihan terbaikku agar aku tidak susah untuk merawat Nayra. Tidak masalah aku tinggal dengan wanita bekas pelakor dan jelek. Hal terpenting sekarang aku bisa menikmati hartanya." kata Kenzo dalam hati.


Kenzo memejamkan kedua bola matanya sejenak untuk memantapkan hatinya agar tidak menyesal. Tetapi, ia merasa ada kedua tangan munggil sedang memeluk perut sispek dari belakang. Ia sangat mengenali tangan itu apalagi dengan mengusap-usap manja untuk menggodanya.


"Messi," ucap Kenzo lalu berbalik ke arah belakang yang ternyata memang Messi yang memeluknya dari belakang.


"Kenapa, Hem?" tanya Kenzo dengan suara beratnya.


"Kangen." jawab Messi dengan manja.


"Bukankah tadi sudah aku berikan untukmu?" tanya Kenzo lagi.


"Aku mau lagi." jawab Messi mulai merayu Kenzo.


Kenzo yang terpaksa mengikuti Messi karena tidak mau dirinya diusir dari rumah Messi. Akhirnya, ia menyetujui permintaan Messi saja. Dengan hati Messi yang bahagia, ia ikut hidup bahagia.


"Ya sudah, kita masuk ke dalam saja. Malam semakin larut dan cuaca menjadi dingin." ajak Kenzo melangkah masuk ke dalam kamarnya.


Messi mengangguk cepat dan ia mengandeng tangan kekar Kenzo yang berjalan di sebelahnya. Ia sangat senang karena berhasil memiliki Kenzo dan menjadi istri satu-satunya. Meskipun dirinya harus menghidupi keluarga kecil mereka. Setidaknya hati Messi bahagia karena cintanya terbalaskan oleh Kenzo.

__ADS_1


"Bahagia aku telah mendapatkan hatimu, bahagia aku karena kamu berada di sisiku. Aku harap kamu juga bahagia hidup bersamaku." kata Messi dalam hati.


__ADS_2