
Tak terasa sudah satu minggu ini Kenzo berusaha mendapatkan hati Nayra. Mulai dari Kenzo bersedia mengambil cuti selama satu minggu menjadi pembantu pribadi Nayra dan menuruti semua perintah Nayra yang aneh-aneh. Seperti hari ini, Nayra menyuruh Kenzo untuk membuatkan nasi goreng sapi rendang yang bumbunya dicampur menjadi satu. Belum lagi Nayra ingin makanan itu dipenuhi cabe rawit 20 biji untuk dimasak oleh Kenzo sendiri.
Kenzo hanya pasrah saja, demi mengambil rasa simpatik Nayra agar tetap mempertahankan rumah tangganya seperti dulu. Tidaklah mudah dan banyak cobaan yang wajib dihadapi. Ia menyadari bagaimana salah satu pasangan selalu menuruti keinginan pasangannya seperti ia menginginkan Nayra melanjutkan kuliah S2 di luar negeri dan rela meninggalkan Rico yang masih bayi.
Rasanya Kenzo ingin menangis terharu, ia menangis bukan hanya menyadari pengorbanan Nayra untuk membahagiakan hatinya. Melainkan, ia harus memakan makanan yang dimasaknya dengan citra rasa aneh dan pedas tingkat dewa.
"Kamu beneran menyuruh aku memakan masakanku sendiri dengan hasil makanan nasi goreng sapi rendang dengan cabi rawit 20 biji?" tanya Kenzo yang berdiri di hadapan Nayra yang sedang duduk manis di kursi makan. Kenzo yang telah berubah drastis seperti ibu rumah tangga. Dengan pakaian dasteran ibu-ibu ditambah celemek di tubuhnya. Pilihan baju yang dikenakan Kenzo ini sesuai keinginan Nayra. Apapun yang Nayra minta pasti Kenzo kabulkan tapi ia harus cerdas untuk menerima permintaan Nayra yang satu ini.
Nayra yang mendengar pertanyaan Kenzo yang tidak mempercayainya. Ia melipatkan kedua tangannya di perutnya. Ia menatap intens menuju ke arah Kenzo.
"Oh, jadi Kak Kenzo gak mau mengikuti keinginanku lagi, begitu?" tanya Nayra balik.
Kenzo menggeleng pelan, ia menatap sekilas ke arah makanan nasi goreng sapi rendang cabi rawit 20 biji itu dengan menelan salivanya dengan susah payah.
"Bukan begitu maksudku, Nay. Hanya saja, makanan ini memiliki sensasi dalam cita rasanya." jawab Kenzo dengan tatapan sendunya untuk meminta kasihan pada Nayra.
__ADS_1
Rasanya Nayra ingin tertawa saat itu juga dengan melihat ekspresi wajah Kenzo yang berubah-ubah. Apalagi, Kenzo ingin mencari alasan menolak untuk memakan makanannya sendiri tapi takut dirinya tidak mau menjadi istrinya.
"Hahaha... Syukurin, emang enak aku kerjain. Makanya, jadi suami sebagai imam yang baik tapi bukan imam abal-abal." kata Nayra dalam hati.
"Justru itulah makanan dengan racikan bumbu terbaru pasti rasanya enak pada cita rasanya. Apalagi makanan itu buatan kakak sendiri. Masa kakak menyuruh aku yang makan, aku kan sedang menjalani program diet agar tetap cantik dan menarik. Ayo makan saja Kak, jangan banyak drama segala." sahut Nayra.
"Tapi Nayra sayang, makanan ini mengandung banyak lemak." alasan Kenzo membuat Nayra memberikan tatapan tajam menuju ke arah dirinya.
"Iya, tidak apa-apa. Sesekali memakan makanan lemak bisa mengisi nutrisi tubuh Kak Kenzo agar sedikit berisi," ucap Nayra.
"Cukup Kak! Kalau tidak mau makan bilang saja! Jangan banyak alasan klasik segala, aku tidak suka. Kalau tidak mampu menuruti keinginanku, ya sudah mundur saja. Aku tidak mau kakak banyak drama dalam rumah tangga ini," ucap Nayra tegas.
Kenzo yang hampir terpancing emosi, pikirannya yang tidak ingin kehilangan harta, tahta dan keluarga kecil dari milik Nayra yang ia bangun selama ini. Ia hanya bisa mengelus dada untuk bersabar. Menghadapi sikap tegas dan sifat keras Nayra memang menguras tenaga dan mental. Kenzo baru sadar dengan karakter Nayra yang ia samakan dengan wanita simpanannya yang hanya bisa melemparkan diri pada dirinya dan merayu semanis madu untuknya tapi tidak berlaku pada Nayra yang tidak pernah memperlakukannya seperti itu.
Nayra yang menatap ekspresi wajah Kenzo yang sedang berpikir keras membuatnya banyak hati-hati.
__ADS_1
"Dia pasti sedang merencanakan sesuatu untuk membujukku lagi. Cih, selama seminggu ini belum puas aku mengerjaimu kak. Aku yang hanya menyuruhmu mengerjakan pekerjaan rumah layaknya ibu rumah tangga, seperti: mencuci piring satu drum besar yang aku kumpulkan selama tiga hari, menyapu dan mengepel seluruh bagian ruang rumah mewah ini, mencuci baju dan menjemur baju yang aku kumpulkan dengan pakaian diriku dan semua karyawan di rumah mewah, bersih-bersih debu yang menempel di seluruh barang mewah dan kaca jendela di rumah mewah, memotong rumput tanaman dan menyiram tanaman bunga di taman depan dan taman belakang rumah mewah, mencuci semua mobil hingga menyuruh Kenzo untuk memasak makanan sesuai resep makanan yang aku berikan."
"Aku rasa hukuman kecil seperti itu belum seberapa dengan rasa sakit hatiku dikhianati oleh teman dekatku sendiri dan Kak Kenzo masih berhubungan dengan mantan pacarnya. Belum lagi, permintaan Kak Kenzo yang selera tinggi untuk meminta modal uang untuk membangun perusahaan hingga menyuruhku untuk melanjutkan kuliah S2 di luar negeri dan meninggalkan Rico kasih bayi. Terakhir, menfitnahku yang tidak sesuai fakta dan tidak bisa meninggalkan pelakor itu. Cih, untung aku istrinya, kalau wanita lain yang diperlakukan jahat seperti itu Kenzo sudah lama mati dibunuh wanita lain." batin Nayra dengan senyuman merehkan pada Kenzo.
"Tolonglah Nay, hentikan semua penyiksaan kecil ini aku sungguh lelah menerima keinginan anehmu itu," ucap Kenzo jujur.
"Kalau sudah lelah bisa lari dari hidupku. Bukankah Kak Kenzo sendiri yang membuat rumah tangga ini tidak seharmonis dulu. Tidak ada rasa cinta dan tergantikan kekecewaan yang mendalam padaku. Wajar saja, aku meminta apapun yang aku inginkan. Aku berubah karena sikap kakak sendiri. Kalau kakak tidak setuju, kakak bisa keluar dari rumahku!" usir Nayra.
Batas kesabaran Kenzo sudah habis tanpa sisa, apalagi menerima pengusiran Nayra yang hatinya keras batu tidak mau memaafkannya.
"Tidak! Kamu tidak berhak pengusirku. Apa kamu lupa Nayra kalau semua harta kekayaanmu itu hasil jerih payahku dalam membangun perusahaan yang diberikan oleh orang tuamu," ucap Kenzo.
"Tentu saja aku tidak lupa, Kenzo. Perusahaan yang kamu jalani adalah milik papaku dan modal untuk membangun perusahaan hingga sukses sekarang ini dari modal ku berikan padamu. Apapun yang berkaitan dengan hartaku tetaplah hartaku. Lalu, aku bilang kalau aku tidak berhak mengusirmu dari rumahku sendiri, Kenzo?" Nayra memiringkan kepalanya di hadapan Kenzo dan memberikan senyuman merehkan.
"Kamu salah besar akan pikiran dangkal itu! Seharusnya yang keluar dari rumahku itu kamu tapi bukan aku! Apa kamu tidak punya rasa malu Kenzo? Dengan mudahnya mengaku kekayaan yang bukan hak dan milikmu, hem. Apa kamu tidak punya otak untuk memikirkan segala sesuatu yang dapat mengancam posisimu di hatiku agar kamu bisa hidup kaya raya?" tanya Nayra membuat Kenzo menelan salivanya dengan susah payah.
__ADS_1