
Kenzo berjalan tegas menuju ke arah Messi untuk menyerahkan kunci rumah Messi.
"Mes, kamu buka sendiri pintu rumahmu. Aku mau menjenguk Nayra di rumah sakit sekarang," ucap Kenzo lalu melangkah pergi dari hadapan Messi.
Messi yang tidak ingin memiliki hati untuk bersimpati dan berempati. Ia menahan tangan Kenzo agar tidak meninggalkannya sendirian di rumah.
"Jangan pergi Kak, jangan tinggalin aku sendirian di rumah. Aku tidak mau kakak rujuk dengan Nayra lagi. Biarkan Nayra tetap di rumah sakit saja. Bukankah ada dokter dan perawat yang merawat Nayra?" pintu Messi dengan tatapan memelasnya pada Kenzo.
Kenzo menghela nafas kasar saat dirinya ditahan oleh Messi. Ia melepaskan tangannya yang ditahan oleh Messi. Lalu, ia memegang pundak Messi dengan pelan.
"Messi, aku hanya menjenguk Nayra saja. Kondisi Nayra kritis setelah mengalami kecelakaan tabrak lari. Apa kamu merasa tidak kasihan pada Nayra yang tidak memiliki kedua orang tua lagi? Nayra anak tunggal dan ia hanya memiliki aku dan Rico saja keluarga kecilnya. Jika aku tidak menjenguknya, aku dikira suami yang jahat." jelas Kenzo panjang lebar di hadapan Messi.
"Sudahlah, kamu pasti tidak mengerti. Lebih baik aku pergi sekarang." lanjut Kenzo melangkah pergi dari hadapan Messi yang berteriak keras tidak setuju.
Kenzo membuka pintu mobilnya dan melaju kecepatan tinggi meninggalkan area pekarangan rumah Messi. Ia fokus menatap jalanan raya di sore hari yang kian ramai karena para pekerja mengais rezeki pulang ke rumah masing-masing.
__ADS_1
Satu jam kemudian, Kenzo telah memarkirkan mobilnya di area parkiran mobil rumah sakit mawar. Ia melangkahkan kakinya menuju pintu rumah sakit. Di dalam ruangan, ia menghampiri bagian repsioner untuk menanyakan ruang rawat ICU yang ditempati Nayra letak ruangannya dimana. Setelah mendapatkan jawaban dari salah satu bagian repsioner, Kenzo melanjutkan langkah kakinya menuju ruang rawat ICU Nayra.
Cekrek!
Kenzo membuka pintu ruang rawat Nayra dan ia melangkah masuk ke dalam ruangan. Ia menatap wajah pucat Nayra yang terbaring lemah di atas kasur rumah sakit. Ada rasa tak tega pada istrinya yang tubuhnya dipenuhi oleh alat-alat medis.
"Nayra, aku datang menjengukmu. Maafkanlah aku yang terus membuatmu merasa kesal," ucap Kenzo pelan. Ia menggenggam tangan mungil Nayra yang terpasang alat infus.
Kenzo merasa bersalah karena ia bertingkah anak kecil yang suka lari dalam masalah dan bersenang-senang dengan selingkuhannya. Ia menyadari semua kesalahan yang telah ia buat dan memberikan kisah kelam rumah tangganya yang menyayat hati. Ia mengakui cintanya yang luar biasa untuk Nayra telah tergantikan dengan Messi yang lebih seksi dan cantik yang pastinya dapat memuaskan hasratnya. Daripada dirinya bahagia di atas penderitaan Nayra, ia harus melepaskan salah satu wanita di dalam hidupnya. Sekalipun, ada hati yang dipatahkan dan keputusan ini lebih baik.
"Maafkan aku, Nay. Aku bukanlah suami yang baik dan papa yang baik untuk anak kita. Aku sadar diri, aku tidak punya apa-apa untuk membahagiakanmu dan anak kita. Semua yang ku miliki selama ini hartamu, aku hanya menumpang hidup saja denganmu. Sekarang ku lepaskan dirimu, aku akan menceritakanmu. Dengan begitu, kamu bisa hidup bahagia tanpa kehadiranku. Maafkan aku, aku tidak bisa bersamamu lagi. Tapi, aku yakin suatu hari pasti ada seorang pria yang tulus mencintaimu dan menerima semua kekuranganmu." Kenzo menghela nafas sejenak untuk melanjutkan perkataannya.
"Kamu bukan istri saya lagi, Nayra Miyuna! Saya talak kamu!"
"Saya talak kamu, Nayra Miyuna. Pernikahan kita selesai sampai di sini. Saya sudah melepaskanmu dan saya akan mengurus semua penceraian kita secepatnya. Terima kasih sudah menjadi istri dan ibu yang baik untuk anak saya. Untuk anak saya akan ikut dengan saya." Kenzo menatap kedua bola mata Nayra yang mengeluarkan air mata di masa kritisnya. Ada rasa kasihan bercampur bahagia karena ia sudah menyelesaikan pernikahannya dengan Nayra. Walaupun terasa kejam saat menceraikan Nayra yang sedang berjuang untuk melawan masa kritisnya. Tapi ia harus berbuat apa lagi untuk mempertahankan rumah tangganya yang usang diterpa perselingkuhannya dengan Messi. Nayra tidak punya apa-apa lagi untuk menyambung hidupnya dan ia tidak memiliki harta untuk membahagiakan Nayra. Sedangkan Messi sudah jelas mau menerimanya apa adanya dan mencintainya setulus hati.
__ADS_1
Dengan langkah kaki beratnya, Kenzo meninggalkan Nayra yang sedang terbaring lemah di atas kasur rumah sakit. Ia tidak sanggup menatap wajah pucat yang sedang menangis dalam masa kritis itu. Ia percaya orang yang mengalami masa kritis, mengetahui kondisi di sekitarnya tapi tubuhnya tak bisa bergerak untuk merespon kondisi orang-orang di sekitarnya.
Kenzo memegang gagang pintu ruang rawat ICU yang ditempati oleh Nayra. Disaat pintu ruangan terbuka, Kenzo dikejutkan dengan kehadiran Dokter Anton yang berdiri di hadapan pintu.
"Dokter Anton! Sejak kapan berdiri di sini?" tanya Kenzo spontan dan ia merasa tidak enak hati. Jika Dokter Anton mendengar kata talak yang ia berikan pada Nayra tadi.
Dokter Anton memberikan tatapan intens ke arah Kenzo.
"Baru saja, saya datang kemari untuk memeriksa kondisi Nona Nayra. Apa Bapak ini suaminya Nona Nayra?" tanya Dokter Anton balik.
Kenzo tampak terdiam sejenak, ia sudah memberikan talak tiga pada Nayra yang berarti penceraian rumah tangganya secara agama sudah sah tetapi penceraian secara hukum butuh ditindaklanjuti dalam mengurusi berkas administrasi.
"Bukan, eh maksud saya, saya ini mantan suaminya. Kalau begitu saya pulang dulu karena ada keperluan penting untuk saya urusi." jawab Kenzo lalu pamit melangkah pergi dari hadapan Dokter Anton.
Dokter Anton hanya diam menatap kepergian Kenzo yang terlihat terburu-buru dan menghindari pertanyaannya. Ia hanya cuek bebek saja dalam menanggapi permasalahan hidup orang lain. Ia tidak mau tahu urusan hidup orang lain dan orang lain tidak usah sok tahu dalam urusan hidupnya. Ia pun berjalan masuk ke dalam ruangan Nayra untuk memberikan suntikan obat dan melihat perkembangan kondisi Nayra yang terlihat sama seperti kemarin.
__ADS_1
Dokter Anton berjalan mendekati ranjang tidur rumah sakit. Ia membulatkan kedua bola matanya saat melihat wajah pucat Nayra yang basah akibat air mata yang keluar dari kedua bola mata yang terpejam itu. Ia mengepalkan kedua tangannya merasa kesal. Bisa-bisanya wanita yang terbaring lemah di atas kasur rumah sakit diceraikan oleh suaminya tak mau mengurusi kondisi terpuruk istrinya sendiri. Ia ikut sedih saat mendengar kata talak tiga dari suami Nayra.
"Jangan bersedih Nayra, kamu harus kuat dalam menghadapi cobaan hidup ini. Kamu pasti bisa bangun dari keterpurukanmu ini aku akan mendukungmu apapun yang kamu inginkan," ucap Dokter Anton terdengar tulus di indera pendengaran Nayra.