
Max menundukkan kepalanya di hadapan Zico dan Zico langsung menghela nafas kasar saat tangan kanannya tidak berhasil menemukan keberadaan Rhia untuk ketiga kalinya.
"Ayolah Max, aku tidak mengenali sosokmu yang gagal menemukan informasi satu wanita. Dulu kamu ahli dalam bidang mendapatkan informasi tetapi ada apa denganmu sekarang?" tanya Zico dengan tenang dan tetap menunjukkan wajah dinginnya di hadapan Max.
"Maafkanlah aku, Tuan. Nona Rhia sangat privasi kehidupannya dan ia bukan orang biasa yang mudah didapatkan informasinya. Aku sudah mencari cara yang tepat tetapi ada-ada saja kode aksesku dibajak oleh orang dan menolaknya." jawab Max jujur.
Zico memejamkan kedua bola matanya sejenak, ia mengerti dan menghargai perjuangan Max yang tidak ingin mengecewakannya. Ia juga mengetahui Rhia terlahir dari keluarga orang kaya dan penuh dengan keamanan hidupnya.
"Baiklah, tidak masalah. Aku mengerti kejujuranmu, Max. Biarkan aku saja yang mencari tahu keberadaan Rhia. Besok jadwal kerjaku datang ke Paris dan aku akan meminta bantuan pada rekan kerjaku." sahut Zico.
"Pesankan tiket untuk keberangkatanku malam ini Max." lanjut Zico.
"Baik Tuan." jawab Max cepat.
"Ya sudah, kamu bisa kembali bekerja," ucap Zico dan Max mengangguk setuju hingga pamit undur diri dari hadapan Zico.
Zico mengambil ponsel dari saku celananya. Di dalam tampilan layar ponselnya muncullah foto candid Rhia yang sedang berjalan ke Mall. Hasil foto inilah yang didapatkannya dari tangannya -- Max yang mengikuti aktivitas Rhia di Indonesia. Ada rasa penyesalan pada Zico karena ia tidak berani memaksa Rhia agar mau menikah dengannya atau menggunakan cara kotor sekalipun.
__ADS_1
"Rhia, dimana kamu sekarang? Kenapa sulit sekali untuk mendapatkan cintamu? Apa kurangnya aku dimatamu, Rhia? Aku tampan, kaya, berpendidikan S2 dan keturunan miliarder. Apa kamu tidak memberi satu kesempatan saja agar aku bisa menjadi pendamping hidupmu dan papa dari anak-anak kita nanti? Apa kamu tidak melihat aku serius mencintaimu, Rhia? Apa kamu takut karena aku lebih memilih kamu daripada Nayra karena Nayra itu mantan pacarku dulu? Sungguh miris tapi nyata. Sepertinya aku lebih keras untuk mendapatkan cintamu." lirih Zico dengan mengusap wajah Rhia di layar ponselnya. Ia memeluk foto Rhia di dalam ponselnya seperti memeluk Rhia secara langsung.
Sungguh takdir cintanya tidak berpihak pada dirinya. Apa ini termasuk karma karena Zico selalu mempermainkan hati wanita dan menidurinya seenak jidatnya? Jika benar, Zico akan bertobat kepada Tuhan agar mau memaafkan semua kesalahannya.
Sementara di tempat yang berbeda, Rhia yang duduk di kursi kebesarannya sebagai CEO di perusahaannya. Ia sedang disibukkan dengan berbagai berbagai berkas laporan hasil kerjasama dengan rekan bisnisnya dan hasil laporan kinerja karyawannya yang mencapai target keuangan. Begitupula ia memeriksa hasil saham perusahaan Nayra yang dipegangnya dan dititipnya oleh adiknya untuk memantau aktivitas perusahaan Nayra.
Sungguh, Rhia merasa bersalah setelah mendapatkan kabar buruk tentang Nayra koma di rumah sakit dan ia tidak menjengguk sahabat baiknya. Bukannya Rhia tidak mau menemui Nayra, hanya saja Rhia merasa risih dengan sikap Zico yang selalu mengikutinya dari pagi hingga malam. Apalagi Rhia ditembak oleh Zico dan ia mengetahui bahwa Zico adalah cinta pertama Nayra dan mantan pacarnya. Ia tidak mau menikung temannya sendiri, sekalipun Nayra tidak ada hubungan lagi dengan Zico.
"Aduh, kenapa aku terbayang dengan wajah Kak Zico? Apalagi teringat dengan perjuangannya yang selalu mengambil hatiku di Indonesia. Hahaha... Aku terlalu keras hati untuk menolak pria cassanova seperti dia agar tidak menganggu hidupku." Rhia terlihat senyum-senyum sendiri saat teringat kekonyolan Zico yang mau menuruti semua perkataannya. Mulai dari menyuruhnya mengenakan pakaian serba pink dan sepatu high heels wanita yang tingginya 5 cm hingga bernyanyi di sepanjang jalan saat mengikutinya.
"Kak Zico memang pria aneh dan gila. Dia pikir setelah semua pengorbanannya untuk mendapatkan hatiku rencananya berhasil begitu saja. Hahaha... Itu konsep pikiran yang salah, aku ini Rhia tapi bukan wanita lain yang mudah dibodohi dengan rayuan maut yang manisnya membuat orang diabetes. Jika aku tidak suka pada orang, aku tidak akan menyentuh apalagi menerima keberadaannya. Mau dia pria tampan, kaya, pintar atau bodoh. Aku tetap pada pendirianku yaitu menikah tanpa pacaran itu lebih baik." Rhia tetap memantapkan hati agar tidak salah memilih pria yang salah. Ia tidak mau sakit hati dan hidup dipenuhi oleh drama dan ia ingin hidup damai tanpa gangguan orang tocik atau julid.
Rhia pun memilih melanjutkan pekerjaannya, walaupun pikirannya terfokus pada Zico yang merindukan sikap anehnya. Entahlah pikirannya saat ini ia ingin mengetahui kabar Zico, aktivitas kesehariannya dan apa Zico masih mencintainya? Eh, tidak-tidak, Rhia tidak boleh merasa jatuh cinta juga. Ia tidak mau keturunannya mendapatkan karma yang melimpah atas perbuatan Zico sendiri. Ia wanita baik dan sukses. Ia berhak memilih pasangan hidup yang tepat dan bisa membimbing dirinya dan anak-anaknya nanti menuju jalan yang benar.
Tok! Tok! Tok!
Tatapan mata Rhia yang sedang memeriksa berkas tanpa fokus bekerja itu teralihkan dengan suara ketukan pintu kerjanya.
__ADS_1
"Masuk," ucap Rhia memperbolehkan orang yang mengetuk pintu itu masuk ke dalam ruangannya.
Pintu ruangan terbuka dan tangan kanannya -- Jino melangkah masuk ke dalam ruangannya. Pria tampan dan berpakaian rapi itu menghentikan langkah kakinya di hadapan Rhia.
"Maaf mengganggu Nyonya, saya ingin memberi informasi bahwa Tuan Zico -- Pemilik perusahaan Tektil ingin mengajukan kerjasama dengan perusahaan," ucap Jino seraya memberikan berkas laporan pengajuan kerjasama di hadapan Rhia.
Seketika Rhia membulatkan kedua bola matanya dengan sempurna saat mendengar nama pria yang membuat pikirannya tidak menentu. Dengan tangan yang sedikit bergetar, Rhia menerima berkas laporan kerjasama yang diberikan oleh Jino.
"Terima kasih, kamu bisa kembali bekerja. Saya periksa dulu berkas laporan kerjasamanya nanti jika saya setuju bisa memanggilmu, Jino." sahut Rhia dengan memasang wajah dinginnya dan sorot mata intens menuju ke arah Jino. Iya, Rhia memang terkenal wanita dingin dan baik. Ia tidak mudah tersenyum atau akrab pada orang lain, kecuali orang itu berhasil membuat hatinya tenang dan nyaman.
"Baik Nyonya Rhia, saya permisi dulu," Jino pamit undur diri dan membalikkan tubuhnya agar melangkah pergi dari hadapan Rhia.
"Tunggu!" ucap Rhia secara spontan membuat Jino yang baru berjalan tiga langkah langkah berhenti dan merubah posisi berdirinya agar berhadapan dengan Rhia.
"Iya Nyonya, ada yang bisa saya bantu?" tanya Jino dengan sopan.
"Tolong, cari informasi lengkap tentang Zico dan jangan beri tahu nama saya sebagai pemilik perusahaan saya ini. Saya tidak mau banyak orang yang cari perhatian sama saya lagi!" ucap Rhia tegas.
__ADS_1