Bukan Istri Bodoh

Bukan Istri Bodoh
Part 38 Menemani Rico Tidur Saja


__ADS_3

"Terima kasih Rhia sudah memberikan banyak oleh-oleh untuk kami. Anakku sangat menyukai mainan kamu berikan. Katanya kamu Tante kesayangan kapan punya dedek gemes," ucap Nayra membuat Rhia yang sedang menyusun barang untuk Nayra dan Rico membuat ia menatap kedua bola mata malas dengan perkataan Nayra di akhir kalimat.


"Nanti kalau sudah mendapatkan pria yang tepat, aku akan menikah." jawab Rhia cetus.


Nayra langsung menyenggol tangan Rhia yang duduk di sebelahnya.


"Biasa saja kali bibirnya kok seperti ikan hiu saja mancungnya. Mau aku cubit biar copot dan ku berikan pada Rico bisa dijadikan mainan." sahut Nayra dengan senyuman jahilnya.


"Kamu nanyeak? Ya sudah aku kasih tahu begitu. aku tidak berminat untuk bermain-main dengan pria yang tidak serius. Mendingan dicintai satu pria yang serius ke jenjang pernikahan daripada banyak pria yang cinta tapi cuma main-main saja." jelas Rhia jujur.


Nayra mengacungkan jempol atas perkataan Rhia.


"Ide yang bagus, aku setuju katamu, Rhia. Semoga sukses selalu dalam proses mencari pria yang tepat." Nayra melirik jam dinding di rumah mewah Rhia yang menunjukkan pukul 7 malam. Ia baru teringat dengan Kenzo sudah lama pulang ke rumah setelah mendapatkan kabar buruk. Ia tidak enak hati kalau meninggalkan Kenzo berlama-lama seperti saat ini. Tapi, ia sudah terlanjur datang di rumah baru Rhia dan bermain membuat ia lupa waktu dan suaminya.


"Rhia, aku pulang dulu ya sudah jam 7 malam." pamit Nayra sembari menganteng tiga plastik berukuran sedang untuk dibawa pulang ke rumahnya.


"Kenapa cepat sekali pulangnya, baru saja 4 jam disini Nay. Apa kamu tidak berniat untuk menginap saja disini? Aku merasa kesepian tidur di rumah sendirian." Rhia ikut berdiri di hadapan Nayra yang sedang memanggil Rico yang sedang bermain dengan mainannya.


"Terima kasih, Rhia. Lain kali saja aku menginap disini. Aku tidak enak hati pada suamiku yang sedang galau tingkat dewa sekarang." Nayra tersenyum tipis ke arah Rhia yang sedang menatap sendu ke arah dirinya.


"Kamu tenang saja, tidak ada lagi syaiton disini. Aku sudah adzan dan sholat di rumahmu. Jangan berpikir negatif dan cukup sholat lima waktu saja. Insya Allah, kamu pasti dilindungi oleh Allah SWT." lanjut Nayra.

__ADS_1


"Rico, ayo kita pulang! Papa pasti sudah pulang dan menunggu kita pulang!" ucap Nayra memanggil Rico yang duduk tidak jauh dari keberadaannya.


Rico langsung mengangguk cepat dan ia menyusun semua mainan untuk dibawa pulang.


"Tundu Ico, Ma." sahut Rico yang mempercepat memasukkan semua mainan di dalam plastik dan menentengnya agar bisa berjalan pulang bersama mamanya.


Nayra yang melihat kaki mungil itu berlari cepat ke arah dirinya. Ia menyuruh Rico untuk menyalami punggung tangan Rhia.


"Ya sudah, kami pulang dulu, assalamualaikum." pamit Nayra pulang di hadapan Rhia.


Rhia dengan berat hati hanya menyetujui perkataan Nayra. Ia ikut berjalan keluar untuk melambaikan tangan pada Nayra dan Rico yang masuk ke dalam mobil dan melaju pergi dari halaman rumahnya. Setelah mobil Nayra tidak terlihat, Rhia pun berjalan menuju pintu pagar keliling rumah mewahnya untuk menguncinya saja karena ia tidak berniat untuk keluar malam-malam.


"Rumah sebesar ini cuma aku saja yang tinggal. Sungguh rasanya terasa sepi dan sunyi. Apa aku terima saja perjodohan konyol itu agar aku bisa memiliki pasangan hidup dan ada pria yang menjagaku?" tanya Rhia dalam hati. Tatapan matanya tertuju ke arah setiap ruangan rumah mewahnya yang tidak ada orang lain selain dirinya.


Satu jam kemudian, mobil yang dikendarai oleh Nayra dan Rico telah sampai di depan pekarangan rumah mewahnya. Nayra menoleh ke arah samping kursinya yang ternyata Rico sudah tidur dari tadi. Pantas saja, kondisi mobil terasa sepi tanpa ocehan cadel khas anak lima tahun. Dengan berat hati, Nayra mengendong tubuh munggil Rico agar melangkah masuk ke dalam rumahnya.


Sebelum Nayra masuk ke dalam pintu utama rumahnya, ia menyuruh dua bodyguard yang menjaga halaman depan rumah untuk membawa semua barang yang diberikan oleh Rhia. Kemudian, Nayra berjalan masuk ke dalam rumahnya dengan mengendong tubuh Rico di dalam pelukannya.


"Dari mana saja kamu? Kenapa pulang malam-malam begini?" tanya seseorang membuat Nayra menghentikan langkah kakinya. Ia menoleh ke arah sumber suara yang ternyata sudah ada Kenzo yang berjalan mendekatinya dengan pakaian casual rumahan dengan penampilan rambut acak-acakan.


"Aku dari rumah temanku, Kak. Dia pulang dari Paris dan mengajakku untuk bermain di rumah barunya." jawab Nayra di hadapan Kenzo.

__ADS_1


"Bohong! Kamu pasti sedang bermain api di belakangku kan. Kamu pasti dendam atas pengkhianatan yang aku lakukan!" ucap Kenzo sedikit berteriak hingga berhasil membangunkan Rico dari tidurnya.


Nayra mendengar suara tanggisan Rico yang terkejut atas suara tinggi Kenzo.


"Cup! Cup! Cup! Sayangnya mama, jangan menangis. Kita pindah ke ruang kamar saja ya nak, papa sedang emosi." bujuk Nayra lalu melangkah pergi dari hadapan Kenzo tanpa membalas perkataan Kenzo.


Nayra sangat bosan menghadapi pertanyaan konyol Kenzo. Apa Kenzo sudah tidak tahu kalau ia sangat mencintai Kenzo hingga mengabulkan melanjutkan kuliah S2 di luar negeri hingga memberikan kesempatan kedua untuk Kenzo atas pengkhianatannya? Sudahlah, Nayra tidak mau ambil pusing. Lebih baik ia mengurusi sesuatu yang penting saja dan bisa mendapatkan hasil yang baik untuk dirinya.


Setelah berada di dalam ruangan kamar anaknya di lantai tiga rumahnya yang bersebelahan dengan ruang kamarnya. Nayra merebahkan tubuh mungil Rico di atas kasur tidurnya dan ia ikut berbaring di sebelah Rico untuk membujuknya agar tidur kembali.


"Rico sayang, tenang saja. Ada mama tidur di sebelah Rico malam ini," ucap Nayra dengan mengelus kepala Rico dengan lembut.


"Mama benelan mau bobo cini cama Ico? Mama ndak pindah bobo ama papa?" tanya Rico memastikan.


Nayra menggeleng pelan dan ia memberikan senyuman tulus di hadapan Rico.


"Tidak sayang, mama akan tidur disini saja. Mama mau menemani Rico tidur. Rico mau gosok gigi dulu?" ucap Nayra bertanya pada Rico yang dibalas gelengan cepat.


"Ndak mau, Ico mau bobo aja." sahut Rico dengan suara cadelnya.


"Ya sudah, tidak apa-apa. Jangan lupa baca doa sebelum tidur." Nayra pun melatih Rico dengan menangkup kedua tangannya dan membaca doa tidur. Setelah selesai, ia memeluk tubuh Rico agar tidur dalam pelukannya.

__ADS_1


"Lebih baik aku tidur bersama Rico saja, daripada menerima ajuan berbagai pertanyaan Kak Kenzo yang tidak jelas cemburunya." kata Nayra dalam hati.


__ADS_2