
"Kenapa kamu diam saja? Masih punya mulut untuk berbicara yang baik? Apa mau aku ajarkan untuk berbicara yang baik agar kamu bisa berpikir sebelum bertindak," ucap Nayra cetus.
"Aku tidak boleh terlalu gegabah untuk mengambil keputusan. Sepertinya Nayra tak mencintaiku lagi, dia sudah berubah. Aku tidak perlu mencari simpatik pada dia lagi. Aku cukup mencuri harta dan membuat hidupnya hancur." kata Kenzo dalam hati. Ada rasa dendam besar yang mengrogoti dirinya dan ia gelap mata untuk mengabulkan keinginannya.
"Baiklah, aku pergi dari sini. Aku sadar aku memang pria jahat dan tidak pantas menjadi papa yang baik untuk anak kita. Aku akan memberikan surat penting perusahaan dan aku tidak akan mengambil harta apapun dari milikmu," ucap Kenzo membuat Nayra menatap heran ke arah dirinya.
"Kamu serius gak mau aku kasih harta gono-gini setelah penceraian? Aku curiga kamu sedang merencanakan sesuatu untuk menghancurkanku?" tanya Nayra to the point.
Kenzo gelagapan mendengar perkataan Nayra yang mudah membaca pikirannya. Mau bersikap baik tapi ia sudah terlanjur sakit hati dan dendam. Mau bersikap jahat tapi ia tidak mampu membuat Nayra hancur tanpa harga Nayra. Haduh, susah ternyata menjadi laki-laki terlahir dari kaum miskin dan menumpang hidup dengan orang kaya. Tapi, ia tetap melanjutkan keinginannya untuk menghancurkan Nayra.
"Kenapa kamu selalu berpikir kotor seperti itu? Masih bersyukur aku tidak minta apapun. Daripada aku meminta setengah saham perusahaan kamu pastinya kamu mengamuk besar. Sudahlah, aku malas berdebat denganmu, tidak mendapatkan jalan keluar." sahut Kenzo lalu ia melangkah pergi dari hadapan Nayra.
Nayra menatap punggung Kenzo telah menjauhinya di ruang makan, tentunya mereka sedang adu mekanik karena tidak ada yang bisa meleraikannya.
"Jika Kak Kenzo tidak menginginkan hartaku, lalu, apa yang dia lakukan selama ini memang untuk membahagiakanku karena perusahaan sudah sukses sekarang? Hem... Tidak! Tidak! Kalau Kak Kenzo ingin membuatku bahagia dia pasti setia padaku tapi dia tukang selingkuh dan tukang fitnah. Otomatis dia sedang mempermainkanku. Lalu, apa yang dia rencanakan padaku setelah ini?" tanya Nayra dalam hati. Ia menatap ke arah piring berukuran jumbo berisi makaann yang dimasak oleh Kenzo tadi.
"Perasaan aku tidak aneh-aneh menyuruhnya selama ini apalagi aku hanya menyuruhnya untuk menghabiskan semua makanan nasi goreng sapi rendang cabe rawit 20 butir saja. Tapi, Kak Kenzo yang bantah tingkah dengan menolak keinginanku. Padahal kan ini permintaan terakhirku setelah aku hampir memberi nilai 90% karna aku kira Kak Kenzo sudah berubah tapi nyata salah besar. Kak Kenzo tetaplah Kak Kenzo yang jahat dan tukang selingkuh. Aku tidak akan memberikan rasa kepercayaan dan rasa cintaku padanya lagi. Jangan harap!" batin Nayra. Ia mengambil piring agar dibawanya menuju tempat sampah saja. Ia sangat jijik melihat bentuk makanan yang dibuat oleh Kenzo yang berwarna kosong dan tak layak makan. Pastinya orang yang memakannya pasti sakit perut.
Setelah berada di ruang dapur kosong, ia menghentikan langkah kakinya di depan tempat sampah kotor untuk membuang makanan itu.
"Sudah aku buang makanan dengan cita rasa aneh itu. Aku tidak ingin ada korban yang memakan masakan Kak Kenzo," ucap Nayra lalu menaruh piring di dekat westafel piring.
__ADS_1
"Nona Nayra," ucap Wiwi -- Kepala pelayan baru di rumah mewahnya.
Nayra menoleh ke arah samping yang ternyata ada pelayan rumahnya.
"Iya Bi. Ini piring kotor tolong dicuci langsung saja. Aku mau melihat Rico dulu." sahut Nayra lalu melangkah pergi dari hadapan Bibi Wiwi.
Nayra mencari keberadaan Rico di ruang kamarnya di lantai atas dan ruang bermain di lantai dasar tapi tidak ada.
"Dimana Rico sekarang? Kenapa aku tidak melihat dia? Hari ini tidak ada jadwal les privat belajar usia dini. Tapi, Rico tidak mungkin pergi keluar tanpa diriku saja." kata Nayra dalam hati.
Samar-samar suara anak kecil dengan suara cadelnya terdengar di indera pendengaran Nayra.
Nayra berjalan melewati ruang kamar utama di lantai dasar hingga langkah kakinya terhenti di ruang tamu. Ia melihat Rico menangis histeris dengan tangan kecilnya menahan tubuh Kenzo agar tidak pergi dari rumahnya.
"Papa mau kemana? Jangan pelgi dali cini! Ico ndak mau ndak punya papa, hiks..." ucap Rico di sela isak tanggisnya.
"Rico, tolong lepasin tangan papa. Papa ada urusan sebentar, nanti papa pulang." bujuk Kenzo yang mencoba melepaskan tangan mungil yang sedang memeluk tubuhnya.
"Ndak mau, papa sedang bohong ama Ico. Buktina papa pelgi kok bawa tas besal dan banyak." sahut Rico dengan menatap dua tas besar yang dipegang oleh Kenzo dan tas koper yang didorongnya.
"Bener juga ya Rico kata kamu, tapi Papa pergi kerja ke luar daerah. Papa bawa tas agar bisa menampung semua pakaian papa."
__ADS_1
"Tapi papa pelgi telasa belbeda. Biasa papa pelgi kelja bawa tas cuma satu tapi ndak semuanya." protes Rico membuat Kenzo menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal.
"Anak kesayanganku ini otaknya pintar dan cerdas. Bisa-bisanya dia berpikir seperti itu. Rico ini mirip seperti Nayra yang sulit dibohongi tapi sekali cinta serba bodoh." batin Kenzo.
Nayra hanya berdiri diam dan melipatkan kedua tangannya di atas perut berada di dekat dinding ruang tamu. Ia hanya diam menonton drama antara anak dan bapaknya.
"Huh... Ku kira ceritanya sedih karena anak kandung ditinggal pergi oleh bapak kandungnya karena pelakor tapi faktanya anak pintar menyerang bapak kandungnya karena ketahuan berselingkuh." kata Nayra dalam hati.
Ia berjalan mendekati sofa dan didudukinya sofa mewah itu. Ia merasa capek untuk berdiri saja. Ia mengambil teh kotak yang disediakan untuk tamu dan diminumnya dengan santai dan nyaman tanpa menghiraukan tatapan tajam dari Kenzo yang memintanya untuk membujuk Kenzo.
"Kak Kenzo kalau mau pergi, silahkan pergi saja tanpa meminta bantuanku. Aku akan mengajak Rico pergi ke Mall agar ia bisa jalan-jalan dan melupakanmu dari hidupnya," ucap Nayra cetus.
Kenzo yang merasa geram atas perkataan Nayra, ia langsung mengangkat tubuh mungil Rico agar bisa ikut pergi bersamanya.
"Rico ikut papa saja. Kita pulang ke rumah nenek, di rumah nenek banyak teman Rico. Rico mau pergi sama papa." ajak Kenzo dan senyuman terbit di wajah Rico.
"Ico mau Pa, Ico kangen nenek dan kakek. Mau main sama meleka dan teman Ico di kampung." sahut Rico dengan suara cadelnya.
Seketika kedua bola mata Nayra membulat dengan sempurna saat mendengar perkataan Rico.
"Rico, gak boleh pergi dari sini! Rico, anak mama," Nayra berdiri dari duduknya dan ia berjalan cepat menuju Kenzo untuk melarang anaknya agar tidak dibawa pergi.
__ADS_1