
Setelah memandikan Rico dan membuat Rico wangi dengan ketampanannya sejak dini. Nayra yang telah berganti pakaian menjadi pakaian casual kaos stelan celana berwarna coksu dibaluti hijab pashmina pink itu. Ia ingin pergi keluar untuk membeli es krim pesanan Rico dan membelikan alat make up yang habis.
Saat ini Nayra menyuruh kepala pelayannya untuk menjaga Rico di rumahnya. Ia bersiap untuk melajukan mobilnya keluar dari area pekarangan rumah mewahnya.
Suasana di pagi hari, lebih tepatnya waktu 9 pagi. Nayra dapat menatap pantulan sinar matahari yang menyejukkan tubuhnya. Ia memilih untuk pergi ke minimarket sendiri saja. Cuma membeli beberapa belanjaan tidak merepotkan bagi Nayra, kecuali kebutuhan stok makanan yang dibeli oleh pelayan di pasar.
Setibanya di depan gedung minimarket di pusat kota Jakarta. Nayra memarkirkan mobilnya di tepi jalan. Ia menatap pantulan dirinya di depan cermin kecil dalam mobilnya.
"Aku cantik, baik dan sukses di usia muda. Aku tidak boleh bersedih atas perlakuan tidak baik Kak Kenzo. Aku wanita mandiri dan memiliki segalanya, hanya pria tidak bersyukur yang tidak pantas memilikiku." lirih Nayra pelan. Ia menyemangati dirinya sendiri agar hatinya tidak gelisah saat Kenzo tidak pulang ke rumahnya.
Tidak ingin berlarut dalam kesedihan, ia memilih mengambil tas selempangnya. Lalu, ia membuka pintu mobil untuk melangkah keluar dari mobil. Tidak lupa mengunci mobilnya. Baru saja, tiga langkah Nayra berjalan keluar dari mobil. Tiba-tiba kedua kakinya ditabrak oleh mobil dari belakang hingga membuat dirinya jatuh terpental ke depan. Hal itu berhasil membuat kepala Nayra terbentur oleh aspal hitam.
Bruk!
"Aaah..." teriak Nayra merasa kaget saat tubuhnya melayang di udara hingga kedua matanya terasa gelap saat kepalanya terbentur oleh aspal jalanan hingga ia tak sadarkan diri.
Semua orang yang sedang mengendarai kendaraannya masing-masing. Mereka langsung menghentikan laju kecepatan kendaraan mereka untuk menolong Nayra yang tubuhnya sudah bersimbah darah segar.
"Hei, tolong wanita itu! Kasihan dia ditabrak lari oleh mobil itu," ucap seorang wanita yang berjalan di pinggir trotoar dan melihat kejadian Nayra ditabrak oleh mobil yang sengaja mengarahkan laju mobilnya pada Nayra.
__ADS_1
"Iya, tolong wanita ini." sahut wanita berpakaian ASN yang menghentikan laju motornya untuk membantu wanita yang terkapar di tengah jalanan.
"Hei, dia sepertinya sudah meninggal di tempat." sahut pria bertubuh kekar yang keluar dari Minimarket.
"Sudah tolong saja dulu wanita ini!" ucap wanita yang memanggil semua orang datang kesini.
"Iya, angkat saja dia, jangan cuma dilihat dan divideokan. Kasihan dia masih ada nafasnya," ucap seorang pria yang keluar dari parkiran mobil dan ia memberanikan diri untuk memegangi urat nadi Nayra yang kepalanya terus mengeluarkan darah segar.
"Kenapa masih diam saja? Apa kalian tidak mau menolong nyawa wanita ini? Kasihan dia membutuhkan pertolongan medis. Cepat bawa ke rumah sakit saja, jika menelpon ambulan takut nyawanya tidak tertolong. Jangan takut kalau kalian dituduh, aku yang bisa menjamin kalian tetap baik-baik saja. Kalau tidak ada yang mau membawanya ke rumah sakit. Tolong angkat wanita ini masuk ke dalam mobilku saja." lanjut pria tampan itu.
"Baik Pak Dokter." sahut salah satu pria yang berkerumun dan masih memegangi ponselnya.
"Terima kasih sudah membantu mengangkat tubuh wanita ini. Aku langsung bawa ke rumah sakit," ucap pria tampan yang dikenal dengan profesinya sebagai dokter oleh seluruh masyarakat.
"Iya Pak dokter, semoga wanita itu baik-baik saja." sahut mereka dengan tulus dan melihat kepergian laju mobil Pak Dokter dari hadapan mereka.
Anton -- Pria tampan berusia 30 tahun dan berprofesi sebagai dokter spesialis bedah ini masih menyandang single from birth dan tidak pernah pacaran karena trauma akan penceraian kedua orang tuanya. Sehingga Anton memilih sendiri dulu dan jika dia bertemu dengan wanita yang tepat. Ia akan mengajaknya menikah saja dan membangun cinta dalam rumah tangganya.
Anton sedang fokus menyetirkan mobilnya melewati area jalanan raya. Ia menoleh sekilas ke arah belakang untuk memantau wanita yang mengalami kecelakaan tabrak lari di minimarket tadi.
__ADS_1
"Sungguh manusia biadab tak punya hati dan tidak bertanggung jawab. Sembarangan menabrak anak gadis orang dan ditinggal begitu saja. Coba saja, kejadian tabrak lari itu terjadi pada dirinya sendiri. Pasti dia sangat menderita dan pastinya hukum karma akan berlaku sesuai perlakuanmu," ucap Anton merasa kesal karena mobil yang menabrak wanita yang terbaring lemah di kursi penumpang belakang mobilnya, dengan darah segar terus mengalir deras. Hal itu, membuat ia mempercepat laju mobilnya untuk menyelamatkan nyawanya.
Untung saja, mobil dinas rumah sakit khusus dokter terpasang sirine ambulan yang memudahkan Anton untuk memberitahu pengendara agar memberi jalan untuknya.
Setengah jam kemudian, mobil yang dikendarai oleh Anton telah sampai di depan pintu utama rumah sakit. Ia langsung melangkah keluar dari mobilnya untuk memberitahu beberapa dokter dan perawat untuk membawakan brankas tidur.
"Tolong, bawa wanita ini ke ruang UGD untuk mendapatkan perawatan medis," ucap Anton pada kedua perawat pria yang mengangkat tubuh Nayra dari mobilnya menuju ke brankas tidur.
"Baik Pak dokter. Pak dokter, mobilnya amis dipenuhi darah segar dari wanita ini." sahut salah satu perawat yang mengangkat tubuh Nayra untuk dipindahkan menuju brankas tidur.
Anton mengalihkan pandangannya dari wajah pucat Nayra menuju ke arah bekas kursi penumpang mobilnya yang basah air darah.
"Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan. Aku bisa membersihkannya nanti. Tapi, nyawa tidak bisa digantikan jika tidak cepat menolongnya." balas Anton dengan tatapan seriusnya ke arah dua perawat pria itu.
Kedua perawat pria itu mengangguk mengerti dan mereka langsung mendorong brankas tidur Nayra menuju ruang UGD.
di dalam ruang UGD, sudah ada Anton dan kedua rekan dokter lainnya yang membantu menolong Nayra. Empat perawat yang ikut membantu Nayra yang tubuhnya telah banyak dipasang alat pendeteksi detak jantung, alat bantu pernafasan, alat infus di tangannya dan beberapa alat medis untuk menjahit kepala Nayra yang robek dan perlu melakukan operasi untuk menghentikan darah di kepalanya.
Kondisi Nayra yang kritis dan tubuhnya dibantu oleh alat medis dalam melakukan operasi mendadak. Itulah Nayra saat ini ia terpuruk akan keadaan, mental dibantai habis-habisan dan hatinya dihancurkan berkeping-keping. Nayra yang tidak memiliki kedua orang tuanya lagi dan hanya memiliki suami yang bisa dipercayai untuk menjaga dan melindunginya hingga akhir hayat. Malahan, berbanding terbalik dengan harapannya selama ini. Tidak ada keluarga dan suami Nayra yang menjenguknya di rumah sakit untuk menguatkan Nayra dalam masa kritisnya. Ia hanya berbaring lemah dibantu oleh alat medis dan ditemani oleh tenaga medis untuk menyelamatkan nyawanya agar tetap hidup damai dan tenang menjadi harapan seorang pria yang menolong Nayra agar dibawa ke rumah sakit.
__ADS_1
"Aku harap wanita ini bisa bertahan dan terbangun dari masa kritisnya." batin Anton dalam hati. Ia masih fokus melakukan operasi dan memantau kondisi detak jantung Nayra dalam monitor pendeteksi detak jantung pasien.