
Setelah melewati hari-hari bersama Messi selama satu minggu ini Zico memilih untuk bekerja dari rumah. Ia ingin menikmati kehadiran Messi yang telah ia beli dari Kenzo.
Zico tidak ingin merasa rugi karena ia telah memberikan banyak uang untuk membeli Messi sebagai teman tidurnya. Dengan rayuan mautnya dan sikap romantisnya mampu meluluhkan hati Messi agar tidak menggangu rumah tangga Nayra dan Kenzo.
Saat ini Zico hanya tiduran seharian bersama Messi habis olahraga di sepanjang waktu. Ia tidak perduli dengan keluhan Messi yang merasa kelelahan melayaninya. Ia mengakui dirinya hipersex dan bisa dibilang Cassanova.
"Aku tidak perduli kamu menderita karna nafsu birahiku. Hal terpenting bagiku bisa menyelamatkan rumah tangga Nayra. Aku tidak ingin dia selalu menderita karna kehadiranmu. Anggap saja kehadiranku sebagai hukum karma bagimu yang telah menyakiti Nayra." batin Zico. Ia menatap wajah lelah Messi yang tertidur di dalam dada bidangnya.
"Jika aku bisa memutar waktu, akulah yang menjadi suami dan papa untuk Rico disaat mama menyetujui keinginanku untuk menikahi cinta pertamaku -- Nayra. Tapi, Mama lebih mementingkan harta, tahta dan nama baik keluarga yang tidak menginginkan wanita yang terlahir dari keluarga rakyat jelata. Dulu, hidup Nayra tidak sekaya ini hidupnya yang serba kekurangan selalu aku bantu untuk biaya hidupnya dulu." Zico teringat masa lalunya bersama Nayra disaat waktu masa putih abunya.
*Flashback on*
Di sebuah taman belakang sekolah, terlihat seorang siswa pria tampan dan siswi wanita cantik sedang duduk di kursi taman belakang. Mereka tampak bahagia karena sebentar lagi akan lulus SMA dan melanjutkan kuliah di universitas negeri.
"Sayang, aku janji setelah lulus kuliah nanti akan menikahimu," ucap Zico dengan menatap wajah cantik natural Nayra.
Nayra menatap wajah Zico dengan tatapan serius ke arah dirinya.
"Sayang serius mau menikahiku? Umur kita terlalu muda dan apa tidak apa-apa menikah saat kuliah? Apa keluarga kamu mau menerimaku yang terlahir dari rakyat jelata?" tanya Nayra dengan tatapan sendunya.
Zico yang mendengar perkataan Nayra yang sadar diri, ia langsung menggenggam tangan Nayra dengan lembut.
"Percayalah, aku akan mempercayaimu, Nay. Cuma kamu Wanita yang sangat aku cintai. Aku akan menyakinkan keluargaku agar mau menerimamu. Jangan khawatirkan mengenai nikah muda saat kuliah. Banyak orang yang menikah muda saat kuliah dan hidupnya baik-baik saja." jawab Zico.
"Tapi kamu tahu sendiri kalau aku diterima beasiswa masuk kuliah di universitas negeri. Jika aku menikah, otomatis beasiswa kuliah aku dicabut." sahut Nayra dengan tatapan sendunya.
"Iya, aku tahu itu percayalah Nay. Setelah kamu menikah denganku nanti. Aku akan membiayai kehidupanmu dan biaya kuliahmu. Kamu lupa aku ini anak orang kaya dan aku sedang mendirikan perusahaanku walaupun masih kecil."
Nayra terlihat berpikir keras dan ia seperti tidak yakin atas perkataan Zico. Ia tidak ingin menjadi parasit dalam kehidupan Rico. Cukup ia dihina karena terlahir dari keluarga rakyat jelata karna kedua orang tuanya bekerja di PNS kantoran tapi berbeda jauh dengan keluarga Zico yang terkenal dengan perusahaan besar dan kaya raya. Layaknya seperti bumi dan bulan yang tak sepandan. Sedari awal Nayra sadar diri atas sikap Zico yang terus mengejar cintanya. Tapi, ia wanita baik dan menghargai perjuangan Zico dan menerima cintanya.
"Apa aku bisa memegang perkataanmu, Kak?" tanya Nayra dengan tatapan memastikan.
__ADS_1
Zico mengangguk cepat atas perkataan Nayra.
"Kamu tidak percaya janjiku ini Nay? Baiklah, sepulang sekolah ini aku akan mengajakmu ke rumahku. Aku akan mengenalkanmu pada kedua orang tuaku."
"Baiklah, aku setuju." sahut Nayra tersenyum.
Sepulang dari sekolah, Zico dan Nayra pulang bersama dengan menggunakan mobil mewah Zico. Setelah sampai di depan pintu utama rumah mewah bertingkat empat. Zico mengajak Nayra agar masuk ke dalam rumah orang tuanya.
"Ayo masuk, Nay." ajak Zico dengan mengandeng tangan Nayra.
Nayra mengangguk cepat dan ia mengikuti langkah kaki Zico di hadapannya. Kedatangan mereka disambut hangat oleh pelayan rumah Zico dan menyapa dengan ramah. Nayra memberikan senyuman ramah pada mereka tapi senyuman manis Nayra seketika luntur saat melihat tatapan sinis seorang wanita cantik paruh baya. Nayra memilih bersembunyi di belakang tubuh Zico.
Zico yang melihat Nayra bersembunyi di belakang tubuhnya, ia berusaha menenangkan Nayra. Ia akui bahwa mamanya sangat sadis pada setiap wanita yang ingin mendekatinya dengan cara mengusirnya dengan kata-kata tajamnya.
"Tenanglah Nay, semua akan baik-baik saja. Aku akan bicarakan pada mamaku agar kamu diterima," ucap Zico dibalas anggukan oleh Nayra.
"Siapa wanita cantik ini Zico?" tanya Intan dengan tatapan sinisnya.
Zico menoleh ke arah mamanya, ia langsung mencium punggung mamanya dengan sopan dan mengajak Nayra agar mencium punggung mamanya.
"Nayra? Dimana alamat rumah kamu? Keluarga kamu marga mana?" tanya Intan dengan menatap ke arah Nayra yang terlihat gugup.
Zico yang melihat Nayra tidak mampu menjawab pertanyaan Mamanya. Lebih baik ia saja yang berbicara pada mamanya.
"Mama ini selalu saja mau interogasi orang dengan berdiri di depan pintu rumah saja. Coba disuruh masuk anak gadis orang, Nayra pasti capek pulang dari sekolah." sahut Zico dengan cetusnya.
"Zico, kamu ini laki-laki! Jangan judes kalau berbicara. Mama tidak bertanya sama kamu. Mama mau tahu asal-usul wanita cantik ini," ucap Intan.
"Iya, Zico mengerti rasa khawatir Mama. Tapi, ayolah mama biarkan Zico dan Nayra masuk ke dalam rumah dulu. Zico mau duduk dan minum." keluh Zico dan Intan menatap kedua bola mata malas ke arah anaknya.
Intan menggeserkan tubuhnya agar memberi Zico dan Nayra masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
"Masuklah," ucap Intan.
"Baik Mamaku yang cantik." sahut Zico lalu mencium pipi Mama Intan dengan sayang.
"Ayo Nay, kita masuk. Mama sudah mengizinkan kita beristirahat dulu." ajak Zico pada Nayra yang berdiri diam saja untuk menyaksikan perdebatan sengit diantara mama dan anak.
"Iya." jawab Nayra dengan tersenyum kaku. Ia masuk ke dalam rumah mewah Zico dan mendudukkan dirinya di atas sofa empuk. Ia melihat Zico sudah duduk di sebelahnya dan Mamanya Zico yang duduk di hadapannya.
"Baiklah, bisa jawab pertanyaan saya tadi?" tanya Intan untuk menagih jawaban dari Nayra.
"Baik Tante, Nama saya Nayra Miyuna, alamat rumah saya masih bersama tinggal bersama kedua orang tua saya di perumahan subsidi dan saya tidak memiliki marga keluarga Tante." jawab Nayra jujur.
"Apa? Kamu tinggal di perumahan subsidi yang rumahnya kecil dan pastinya kamu bukan keturunan milyader seperti saya, begitu?" ucap Intan to the point.
"Benar Tante, lebih tepatnya saya keturunan rakyat jelata." sahut Nayra dalam memperjelas perkataannya.
Seketika Intan murka dan ia berdiri dari duduknya.
"Tidak, aku tidak setuju kamu berhubungan dengan anak saya! Saya tidak sudi akan berbesan dengan keluarga miskin seperti kamu! Pergi kamu dari sini, saya tidak suka kamu berada disini!" usir Intan kasar.
Nayra hanya diam menunduk dan ia tampak sedih menerima cacian dan hinaan dari mamanya Zico.
"Baiklah Tante, saya permisi dulu. Terima kasih atas hinaannya," ucap Nayra permisi undur diri di hadapan Zico dan Intan.
Zico yang sedari tadi diam mendengar perkataan Mamanya. Ia tampak murka atas perkataan mama Intan yang mengusirnya.
"Kenapa mama mengusir Nayra? Nayra itu wanita baik-baik walaupun keturunan rakyat jelata. Zico bahagia bersama Nayra, kenapa mama tidak setuju dengan Nayra? Apa karna Nayra bukan keturunan orang kaya membuat mama tidak setuju," ucap Zico dengan sedikit berteriak di hadapan mamanya.
"Sudahlah, aku tidak butuh alasan mama. Mulai sekarang aku hidup sesuka hatiku termasuk mempermainkan perasaan wanita biar mama puas." setelah mengatakan itu Zico mengejar Nayra yang telah pergi dari rumah orang tuanya. Ia tidak ingin kehilangan Nayra.
*Flashback off*
__ADS_1
Setelah mengingat kejadian itu Zico selalu mengabulkan perkataannya untuk menyakiti para wanita dan melindungi Nayra.
"Aku akan tetap menyayangimu dan menjagamu dari kejauhan, Nay." lirih Zico terdengar tulus.