
Sepulangnya Kenzo dari kafe Mall, Kenzo memilih menjenguk Messi di rumah sakit. Kenzo berjalan melewati koridor ruangan rumah sakit. Sesampainya di depan pintu rumah sakit, Kenzo membuka pintu ruang rawat Messi. Disana ia ingin menahan tawa saat melihat seorang perawat wanita sedang membersihkan bekas kotoran Messi.
"Sayang, apa yang sedang terjadi?" tanya Kenzo yang berjalan mendekati Messi yang duduk di atas kasur tidur.
Messi tersenyum ke arah Kenzo dan memeluk tangan kekar Kenzo dengan manja.
"Biasa sayang, heters sedang menyerangku. Tapi, kali ini aku yang menang karena tidak mau mengikuti keinginanku pergi ke toilet." jawab Messi.
"Oh." sahut Kenzo cepat.
"By perawat, bisa minta tolong pulangkan Messi dari rumah sakit?" tanya Kenzo membuat kedua bola mata Messi membulat kedua sempurna.
"Haduh, gawat kalau aku dipulangkan dari rumah sakit. Aku tidak bisa leluasa untuk bertemu Kak Kenzo lagi." batin Messi karena ia sudah kepergok selingkuh dengan Nayra maka dipastikan ia tidak bisa ke rumah mewah Kak Kenzo dan bebas bertemu dengan Kak Kenzo seperti dulu.
"Kak Kenzo, kenapa menyuruhku pulang secepat ini aku kan masih sakit." bujuk Messi.
"Sudahlah, jangan membuatku merasa pusing. Gara-gara kamu merayuku membuat rumah tanggaku di ujung tanduk. Kamu diam saja kalau mau hidup tenang," ucap Kenzo membuat Messi menelan salivanya dengan susah payah.
Sedangkan Perawat Fika yang mendengar perdebatan kecil tapi sengit itu ia ingin menertawakan hidup Messi sang pelakor murahan.
"Cantik juga enggak, pintar juga enggak, kaya apalagi enggak. Cuma menghandalkan merebut suami orang kok bangga? Giliran punya suami direbut oleh wanita lain baru ngamuk gak jelas. Dasar gak punya hati." maki Perawat Fika dalam hati.
"Bu perawat, apa bisa menolong saya?" tanya Kenzo lagi.
"Iya Tuan, saya akan berusaha untuk menyakinkan dokter dulu. Dengan alasan yang tepat baru bisa dipulangkan dengan cepat." jawab Perawat Fika mantap.
Kenzo melirik sekilas ke arah Messi yang sedang menggeleng tidak setuju. Tapi, tatapan matanya teralihkan pada luka di tangan Messi yang dibalut oleh perban.
"Aku rasa lukanya sudah kering dan apa ada luka lain untuk diobati, Bu perawat?"
"Benar Tuan, luka nona Messi sudah hampir sembuh dan luka kecil lain tidak mengalami infeksi apapun."
__ADS_1
"Okey kalau begitu, beritahu dokter yang menangani temanku ini agar bisa pulang. Aku akan memberikan uang sebagai hasil kerja kerasmu."
Perawat Fika yang mendengar penawaran Kenzo membuat kedua bola matanya berbinar senang.
"Benarkah Tuan?" tanya Perawat Fika memastikan.
"Iya, jangan takut dengan janjiku. Janjiku bisa dipegang dan aku akan memberimu 10 juta." jawab Kenzo.
"Baik Tuan, terima kasih sudah memberi pekerjaan untuk saya. Saya pamit undur diri dulu untuk melaporkan pada dokter." pamit Perawat Fika di hadapan Kenzo.
Kenzo hanya mengangguk cepat dan ia melihat kepergian Perawat Fika.
"Kamu bersiap-siaplah, aku mau mengantarmu ke suatu tempat."
"Bukan pulang ke apartemenku?" tanya Messi dengan mengerutkan keningnya merasa binggung.
"Tidak, aku mau memberimu pekerjaan dengan bayaran yang fantastis."
"Sudahlah, nanti kamu tahu sendiri."
Satu jam kemudian, setelah menerima persetujuan dari dokter yang menangani Messi dan melepaskan alat medis di tubuh Messi mulai dari alat bantu nafas dan alat infus di tangannya. akhirnya, Kenzo bisa bernafas dengan lega saat Messi sudah didudukan di kursi roda. Dengan bantuan dua perawat laki-laki yang mendorong kursi roda yang diduduki oleh Messi.
"Akhirnya, Messi bisa pulang dari rumah sakit. Aku bisa memberikan pada Zico." kata Kenzo dalam hati. Ia tersenyum lebar saat melihat Messi masuk ke dalam mobilnya. Dinyalakannya starter mobil untuk mulai melaju pergi meninggalkan area pekarangan rumah sakit.
Messi yang memperhatikan Kenzo yang senyam-senyum tidak jelas saat menyetir mobil. Ia merasa heran dengan sikap Kenzo yang tidak seperti biasanya.
"Kak Kenzo, kenapa kakak terlihat bahagia?" tanya Messi yang menatap Kenzo yang duduk di sebelahnya.
"Rahasia." jawab Kenzo yang mempercepat laju mobilnya menuju ke suatu tempat.
***
__ADS_1
Nayra yang sampai di rumah mewahnya bersama Rico. Ia memilih membuatkan susu untuk Rico karena Rico terus merengek meminta susu padanya.
Saat ini, Nayra sedang mengaduk susu coklat kesukaan Rico di gelas plastik yang berbentuk dot dan ia memanggil Rico agar meminum susu di ruang keluarga. Ia menyalakan TV dan memilih siaran Tv anak-anak.
"Rico, ayo minum susunya," ucap Nayra menyerahkan tempat susu pada Rico.
"Iya Ma." Rico mengambil tempat susu dari tangan Nayra dan ia berbaring di atas kasur di ruang TV.
Nayra mengelus kepala Rico dengan lembut. Sudah lama dirinya memanjakan Rico dengan kasih sayangnya. Ia menatap wajah bulat yang berada di pangkuan kakinya setelah Rico meminta dirinya untuk duduk dan Rico berbaring di atas pakuannya.
"Kesayangan Mama, jadilah anak yang baik, sholeh, pintar belajar dan berbakti pada orang tua. Mama harap Rico tidak mengecewakan Mama dan tetap menjaga mama saat tua nanti," ucap Nayra dan Rico menoleh ke arah Nayra, lalu mencium pipi Nayra dengan lembut.
"Iya Ma, Ico janji akan buat mama bahagia nanti. Ico janji jadi anak baik, sholeh dan belbaki pada orang tua." sahut Rico dengan suara cadelnya membuat Nayra gemas.
Nayra langsung mencium semua bagian pipi bulat Rico dengan gemas. Membuat Rico tampak kesal karena ia merasa terganggu dengan aktivitas menonton film anak-anak kesukaannya.
"Mama, stop! Jangan ganggu Ico dulu. Ico mau nonton." Rico menutup wajahnya dengan kedua tangan kecilnya di hadapan Nayra.
"Baiklah, mama tidak ganggu Rico. Kalau begitu, Mama mau ke kamar dulu, mau ambil cas ponsel."
"Okey Ma. Jangan lama-lama, mama kesini lagi."
"Okey." Nayra melangkah pergi dari hadapan Rico dan ia menaiki anak tangga menuju ruang kamarnya.
Sesampainya di depan pintu kamarnya, ia membuka pintu itu lalu menutupnya kembali. Ia menghempaskan tubuhnya di atas kasur dan ia menangis sejadi-jadinya.
"Ternyata Kak Kenzo masih mencintai wanita masa lalunya? Ternyata Kak Kenzo telah lama menduakan cintaku? Apa salahku Tuhan, sehingga kisah cintaku yang sangat menyayat hati ini, hiks... hiks..." ucap Nayra di sela tangisnya.
Nayra menatap bingkai foto pernikahan dirinya bersama Kenzo yang terlihat bahagia. Ia mengambil bingkai foto yang berada di atas meja rias yang bersebelahan dengan kasur tidurnya. Ia mengusap foto pernikahannya yang penuh dengan kebahagiaan tapi semua kebahagiaan itu hanya sesaat dan tergantikan sebuah pengkhianatan yang terdalam.
"Aku harap ada pelangi setelah hujan, aku harap ada kebahagiaan setelah rasa kekecewaan dan luka yang mendalam." lirih Nayra pelan.
__ADS_1