
Setelah memastikan Rico sudah bermain dalam permainan di taman bermain. Nayra bisa berjalan kembali menuju ke tempat meja makan kafe.
"Maaf menunggu lagi, aku tidak ingin anakku ikut campur dalam masalah ini." Nayra mendudukkan diri di kursi makan yang berhadapan dengan Rhia.
Rhia yang sedang memainkan akun medsos di ponselnya itu ia mengalihkan pandangannya menuju Nayra yang telah duduk di kursinya.
"Tidak masalah, aku mengerti dengan rasa khawatirmu pada anakmu yang pintar sejak dini. Bisa berbicara to the point saja." sahut Rhia.
"Bisa, jelaskan saja hasil aktivitas yang kamu lakukan dalam mengambil alih nama perusahaan?" tanya Nayra to the point.
Rhia mengangguk cepat. Lalu, ia mengarahkan layar ponselnya di hadapan Nayra.
"Lihatlah Nay, semua saham perusahaan dari suamimu telah masuk ke dalam perusahaan barumu. Untuk mengambil alih nama kepemilikan perusahaan sudah aku balik nama menjadi namamu. Untuk kasus balik nama perusahaan ini masih aku rahasiakan karena aku tidak ingin rencana kita hancur." jelas Rhia panjang lebar di hadapan Nayra.
"Baiklah Rhia, terima kasih banyak sudah membantuku. Untuk semua berkas penting perusahaan, aku titipkan padamu, Rhia. Jika terjadi sesuatu padaku tolong amankan perusahaan dan sahamku. Tolong lindungi Rico agar tidak disakiti oleh orang-orang tidak beriman," ucap Nayra serius.
"Iya, aku janji akan menjaganya." sahut Rhia tersenyum.
"Alhamdulillah, aku bisa bernafas lega sekarang. Walaupun aku harus mengikuti alur drama menjadi hidup miskin.
Rhia menggeleng tidak setuju atas perkataan Nayra. Bagaimana bisa Nayra memiliki kekayaan yang melimpah dari hasil jerih payahnya semasa masih gadis? Walaupun Nayra terlahir dari keluarga tak berada.
"Tidak, aku tidak akan membuatmu merasakan hidup sulit lagi, Nay. Aku akan berpura-pura meminjamkan uang padamu. Dengan begitu, hidupmu bisa terbantu."
Nayra tersenyum senang mendengar perkataan Rhia.
__ADS_1
"Baiklah, terima kasih Rhia. Aku harap kamu bisa tinggal disini beberapa hari untuk menjaga perusahaanku." pinta Nayra.
"Pastinya, aku akan melakukannya."
"Hem... Tapi, bagaimana dengan perusahaanmu di Paris, Rhia?" tanya Nayra yang baru teringat dengan perusahaan yang dibangun oleh Rhia di negaranya.
"Jangan terlalu dipikirkan Nay, aku sudah menyuruh adikku yang menghandel semua urusan perusahaanku. Aku datang kesini untuk membantu perusahaanmu dan menghindari pertanyaan yang sama." jawab Rhia dengan tatapan sendunya.
"Pertanyaan yang sama?" tanya Nayra mengulangi perkataan Rhia.
"Iya, kedua orang tuaku menginginkanku menikah saja. Aku sudah lulus S2 dan memiliki perusahaan sendiri. Lalu, untuk apa lagi aku masih sendiri." jawab Rhia mengeluarkan keluh kesah hatinya yang tak henti-hentinya karena ia belum berhasil menemukan jodohnya. Walaupun ia dilahirkan di negara bebas tapi ia bukan wanita bebas ***. Ia masih menjaga kesuciannya agar tidak mengecewakan jodohnya.
Nayra mengusap punggung tangan Rhia untuk menenangkannya.
"Aamiin, terima kasih atas doamu, Nay. Aku akan memegang janjiku padamu untuk memegang perusahanmu, Nay. Kamu berhak hidup bahagia dan tenang tanpa adanya pelakor dalam rumah tanggamu."
"Benar Rhia, aku harap begitu." sahut Nayra dengan tersenyum terpaksa karena ia teringat kejadian rumah tangganya yang tidak se-harmonis dan se-nyaman dulu lagi.
Sementara di tempat lain, seorang wanita berpakaian seksi dan ber-make up glamor yang berjalan menuju meja makan di kafe tapi langkah kakinya terhenti saat melihat Nayra sedang berbicara serius dengan seorang wanita bule cantik.
Messi yang telah menerima hukuman habis-habisan dari Zico dan diobati oleh pelayan rumahnya hingga sembuh seperti sekarang. Ia terpaksa menuruti keinginan Zico menjadi pelacur pribadi teman-temannya saat bertaruh permainan judi online. Awalnya Messi menolak karena ia tidak ingin bermain cuma-cuma. Tapi, Zico yang terus membujuknya dengan memberikan gaji sebesar 1 M sebulan membuat Messi tertarik dan menyetujuinya. Di saat inilah Messi berada di salah satu Mall elit milik keluarga Richard.
Messi berdandan secantik-cantiknya agar pasien merasa nyaman. Messi membuat janji di kafe ini untuk menikmati makanan mewah dan harga fantastis sebelum bermain. Dengan rasa kurang percaya diri Messi pergi ke ruang toilet wanita. Tetapi, disaat ia ingin mencari meja makan yang dekat dengan pemandangan alam, ia tak sengaja melihat Nayra bersama bule cantik dan ia mendengar pembicaraan mereka yang membahas perusahaan Nayra agar dipegang oleh bule itu saja yang ditangkap melalui indera pendengarannya.
Entahlah, Messi tidak ingin ikut campur dengan kehidupan Nayra lagi. Ia sudah kapok disiksa habis-habisan oleh Zico. Ia merasa aneh tapi nyata, kenapa Zico memberikan ancaman keji pada dirinya agar tidak merebut Kenzo dari Nayra lagi. Tapi, apa hubungan Zico dengan rumah tangga Nayra dan Kenzo? Apa jangan-jangan Zico ingin merebut Nayra dari Kenzo? Jika itu memang benar terjadi, ia sangat bahagia karena dengan mudahnya mendapatkan Kenzo -- Pria yang sangat ia cintai.
__ADS_1
Ting!
Messi menerima notifikasi pesan masuk yang berisi pesan singkat dari seseorang.
"Oh meja makan nomor 01 VVIV, berarti aku harus masuk ke dalam tempat para pengusaha muda. Hem... Keren." kata Messi dalam hati.
Tidak ingin membuang waktu, Messi langsung melangkah cepat menuju meja makan yang ditentukan oleh seseorang. Ia memeriksa setiap meja makan hingga terfokuskan pada nomor satu yang diduduki oleh seorang pria yang membelakanginya.
"Tubuhnya kekar, pasti dia pria tampan dan mapan." lirih Messi dengan senyuman bahagianya.
"Maaf menunggu lama, jalanan macet dan aku baru bisa sampai sekarang," ucap Messi dengan memberi alasan klasik pada seorang pria yang duduk membelakanginya.
Pria yang mendengar suara merdu dari seorang wanita, ia langsung merubah posisi duduknya agar berhadapan dengan wanita itu.
"Iya abaikan saja, aku mengerti kamu sibuk." sahut Pria itu dengan suara beratnya dan senyuman manisnya.
Messi yang melihat wajah pria itu seketika mulutnya bungkam.
"Bagaimana bisa Kak Zico menyuruhku melayani pria jelek berwajah loncong mirip belalang? Mana kulitnya hitam keturunan Afrika pula? Haduh, aku jijik dengan dirinya." batin Messi dengan raut wajah masamnya dan ia tidak berniat untuk duduk di kursi itu.
"Kenapa masih berdiri? Duduklah dan pesanlah makanan yang kamu suka. Aku tidak ingin kamu lapar. Oh iya, perkenalkan namaku Bimo. Kamu Messi yang ditawarkan Zico untuk melayaniku?"
Messi hanya mengangguk saja, ia memalingkan wajahnya ke arah samping karena tidak berniat untuk berhubungan dengan pria itu.
"Kalau aku tahu prianya jelek seperti ini. Aku mana mau menerima tawaran Kak Zico. Lain kali, aku harus periksa dulu wajah pria yang akan aku layani. Dengan begitu, aku merasa tertipu seperti ini." batin Messi dengan kedua bola mata malas ke arah Bimo.
__ADS_1