
Kepulangan Zico dari tempat kafe tadi. Ia memilih pergi ke perusahaannya sebentar. Ia ingin mengambil hasil rekaman yang dilakukan oleh bodyguard yang mengawasi Messi.
Zico sedang duduk di kursi kebesarannya sebagai CEO di perusahaannya. Ia memejamkan kedua bola matanya sejenak saat teringat perkataan Nayra yang sempat ia dengar melalui headphone kecil yang disuruhnya pada pelayan wanita di kafe untuk meletakkan di meja makan Nayra agar ia bisa mengawasi aktivitas Nayra.
"Ternyata Nayra masih wanita yang cerdas dan pintar seperti ku kenal dulu. Dia pasti menginginkan sesuatu agar tidak merugikan dirinya sendiri. Aku mengerti Nayra ingin menyelesaikan perusahannya yang dibangunnya sedari dulu sebelum menikah dengan Kenzo. Aku tidak menghargai Kenzo dengan mudahnya menyuruh Nayra agar menjadi ibu rumah tangga saja dan melanjutkan kuliah S2 di luar negeri. Dengan begitu, Kenzo bisa bertemu dengan mantan kesayangannya. Dasar pria pengecut, parasit murahan bisa menumpang hidup pada wanita saja. Cih, Kenzo tidak pantas bersama wanita sebaik Nayra. Harusnya aku yang berada disana menjadi suami Nayra yang bisa menjaga dan membahagiakannya dari orang tidak punya hati seperti kalian. Jika waktu bisa ku putar, aku akan tetap menikahi Nayra waktu itu. Tapi, semesta tak mendukungku untuk memperjuangkan Nayra." Zico menatap bingkai foto kecil yang berisi foto Nayra semasa SMA bersama dirinya di taman sekolah.
Sungguh pemandangan yang romantis dan menyejukkan hati saja. Ia sangat merindukan kenangan indah bersama Nayra dulu.
"Tunggu aku, Nay. Aku akan merebut kamu dari Kenzo. Akulah jodohmu tapi bukan Kenzo." Zico memantapkan hati untuk mengambil Wanita Kesayangan dari orang yang salah. Sekalipun, Wanitanya sudah menikah dengan orang lain. Ia tetap menerima wanitanya apa adanya dan menjadikan Rico seperti anaknya sendiri.
Tok! Tok! Tok!
Zico yang mendengar pintu ruangannya diketuk oleh seseorang. Ia langsung menaruh bingkai foto di dalam laci mejanya.
"Masuk!" ucap Zico dengan posisi duduk tegasnya.
Zico menatap ke arah Bodyguard -- Rido yang berjalan menuju ke arahnya.
"Bagaimana hasilnya?" tanya Zico to the point.
"Ini Tuan hasil yang saya lakukan selama mengawasi keberadaan Nona Messi." Rido mulai memutar rekaman video di dalam ponselnya di hadapan Zico.
__ADS_1
"Kamu sudah memindahkan semua data video dari kamera?" tanya Zico memastikan.
"Iya Tuan." jawab Rido cepat.
Zico langsung menonton semua video tentang aktivitas Messi dan suaranya yang sangat jelas memudahkannya untuk mendengar percakapan Messi dan Bimo.
"Ternyata Messi bermuka dua. Dia pandai memanipulasi data di hadapan Bimo. Dia seolah-olah korban yang disakiti padahal dia yang membawa luka pada orang yang tersakiti. Cih, menjijikan. Messi layak untuk disiksa habis-habisan lagi," ucap Zico dingin dan terdengar tidak main-main.
Rido yang duduk di kursi yang berhadapan dengan Zico dan mendengar suara berat tak bersahabat itu membuat bulu kuduknya merinding disko.
"Apa Tuan memiliki rencana sesuatu untuk membuat Messi benar-benar menyadari atas perbuatannya salah dan menyesalinya?" tanya Rido mematikan.
"Benar, kamu bisa memahami pikiran saya. Kalau begitu, telpon Bimo untuk memperpanjang masa kerjasamanya dalam melayani hidupnya selama seminggu. Saya rasa satu hari tidak puas untuk membuat Bimo hidup bahagia." jelas Zico dan Rido mengangguk setuju.
Setelah menempuh perjalanan selama satu jam setengah, akhirnya Mobil mewah Nayra telah terparkir sempurna di depan sebuah rumah mewah berlantai dua di perumahan elit Jakarta. Memang rumah mewah yang baru dibeli oleh Rhia belum memiliki pagar depan dan diberikan pagar keliling rumah. Memudahkan Nayra untuk memarkirkan mobil tanpa membuka gerbang pagar.
"Wow rumah Tante Rhia keren sekali, dengan desainnya yang menarik bergaya Paris membuatku teringat hidup di Paris," ucap Nayra yang telah turun dari mobil dan membantu Rico turun dari mobil.
Rhia hanya tersenyum membalas perkataan Nayra yang memuji rumah barunya di Indonesia. Ia berjalan lebih dulu menuju ke arah pintu rumah untuk membuka pintu agar bisa mempersilahkan Nayra dan Rico agar masuk ke dalam rumahnya.
"Silahkan masuk tamu pertamaku, maafkan rumahku belum banyak perabotan rumah karena baru selesai dibersihkan dan barang-barang dalam proses pemesanan," ucap Rhia yang memberi jalan pada Nayra dan Rico.
__ADS_1
"Tidak masalah, hal terpenting sekarang kamu memiliki tempat berteduh dari hujan. Rumahmu yang terlihat bersih dan luas. Tidak apa-apa semua perlengkapan barang rumahan belum terpenuhi tapi barang yang benar-benar dibutuhkan sudah ada di dalam rumah kan Rhia?" Nayra yang telah berjalan masuk ke dalam rumah Rhia dan ia menatap ke sekeliling ruangan rumah Rhia yang bersih dan luas karena belum ada perabotan rumah.
"Ada, aku baru membeli karpet, dua tempat tidur sat set dengan bantal, seprai dan selimut. dua lemari dan gantungannya saja. Untuk bagian membersihkan diri baru beli sikat gigi, pasta gigi, sabun dan shampo saja. Kalau di bagian dapur, cuma beli kulkas, bahan makanan dan minuman, kompor gas, barang masak dan barang untuk menaruh makanan saja." jelas Rhia panjang lebar pada Nayra.
"Itu sudah cukup untuk saat ini, Rhia. Kalau perabotan rumah yang lain bisa menyusul." Nayra mengajak Rico untuk duduk di atas karpet berbulu di ruang tamu sekaligus ruang keluarga yang dipisahkan dengan lemari dinding saja.
"Ma, Ico mau inum." pinta Rico pada Mama Nayra.
"Oh biar Tante saja ambilkan minuman untuk Rico. Rico mau minum apa?" sahut Rhia.
"Ico mau inum ail putih aja Ante." jawab Rico dengan kedua bola mata bulatnya menatap ke arah Rhia.
Rhia yang melihat Rico berwajah imut dan kedua bola mata bulat membuat dirinya merasa gemas sendiri.
"Uh lucunya anakmu ini Nay. Aku ingin menggigit pipi gemoynya." Rhia mencubit kedua pipi gemoy Rico yang tampak biasa saja karena menerima oleh-oleh mainan dari Rhia.
"Ante, mana mainan balu buat Ico lagi. Mama bilang Ante mau kasih mainan yang banyak untuk Ico kalau datang ke lumah Ante," ucap Rico polos.
Rhia menatap heran ke arah Rico dan ia menoleh ke arah Nayra untuk meminta penjelasan lebih.
"Maksudnya apa Nay?" tanya Rhia.
__ADS_1
Nayra hanya menyenggir kuda karena ia asal bicara saja pada Rico tadi.
"Begini Rhia, aku sempat berbicara sama Rico seperti itu. Agar anakku mau pulang bersama kita. Kamu pasti ada mainan lagi buat Rico kan Rhia? Rico suka banyak mainan baru apalagi diberikan oleh orang lain," ucap Nayra dengan memberi kode mengedipkan sebelah mata Rhia agar membenarkan perkataannya.