Bukan Istri Bodoh

Bukan Istri Bodoh
Part 53 Rico Bertemu Nayra Di Rumah Sakit


__ADS_3

Tidak terasa sudah 2 jam lebih Dokter Anton menunggu kedatangan Bimo membawa Rico yang belum sampai di dalam ruang rawat Nayra.


Dokter Anton yang teringat jam keberangkatannya ke luar negeri satu jam lagi. Dengan cepat Dokter Anton menelpon tangan kanannya agar secepatnya sampai di dalam ruangan rumah sakit.


"Lama sekali Bimo ini tidak seperti biasanya dia terlambat datang. Apa si Rico mulai berdrama dan tidak mau ikut dengannya? Hem... Aku harus memastikannya agar tidak ada yang perlu dikhawatirkan." Dokter Anton mengambil ponsel dari saku celananya. Lalu, Ia menunggu sambungan telepon yang belum diangkat oleh Bimo.


Sementara Bimo yang baru saja melajukan mobil meninggalkan area pekarangan rumah panti asuhan. Ia mendengar suara notifikasi panggilan masuk dari ponselnya. Bimo pun meminggirkan laju mobilnya untuk mengangkat telepon itu. Ia melihat di layar ponselnya yang bertuliskan nama Tuan Muda Anton. Lalu, ia langsung menerima sambungan telepon itu.


"Hallo Tuan, maaf menunggu lama. Tadi, ada drama kecil harus diselesaikan," ucap Bimo saat menerima sambungan telepon dari ponselnya.


Benar dugaan Dokter Anton, ternyata Rico berbuat onar dan ia hanya bisa mengerti saja.


"Baiklah tidak masalah, dimana kamu sekarang?" tanya Dokter Anton melalui sambungan panggilan teleponnya.


"Saya baru keluar dari panti asuhan dan mau berangkat menuju rumah sakit." jawab Bimo cepat.


"Okey, kalau bisa secepatnya sampai disini. Tinggal satu jam lagi jadwal keberangkatan pesawat malam ini."


"Baik Tuan." setelah mendengar penjelasan dari Bimo, Dokter Anton mengakhiri sambungan telepon secara sepihak.


Dokter Anton yang menatap semua barang Nayra dan dirinya telah dimasukkan ke dalam dua koper. Ia memberi uang kepada dua pelayan yang disuruhnya untuk menyiapkan semua barang dirinya dan Nayra agar bisa dibawa dengan lengkap tanpa ketinggalan satu barang saja.


"Ini uang untuk kalian, letakkan saja tas koper itu di depan pintu. Nanti ada bodyguard saya yang membawa ke dalam mobil," ucap Dokter Anton seraya menyerahkan 10 lembar uang berwarna merah pada kedua pelayan rumahnya.


Marni -- Pelayan rumah mewah Dokter Anton, ia terlihat tidak enak hati pada tuannya selalu bersedekah dan memberikan uang untuk setiap pelayan seperti dirinya. Padahal dirinya bekerja sudah digaji perbulan dan bonus tambahan dari Dokter Anton.

__ADS_1


"Tuan, apa tidak berlebihan memberi uang pada kami sebanyak ini? Kami datang kesini atas perintah tuan untuk bekerja," ucap Marni sopan.


Dokter Anton tersenyum tipis saat mendengar perkataan polos dari pelayan rumahnya. Ia memahami maksud dari Marni karena tak enak hati pada dirinya yang terus memberi bonus atas pekerjaannya.


"Tidak apa-apa, ambillah uang ini untuk kalian berdua. Anggap saja, saya sedang bersedekah pada kalian yang bekerja dengan rajin dan sungguh-sungguh." sahut Dokter Anton dan ia langsung menyisipkan uang satu juta di tangan Marni.


Riska -- Pelayan rumah mewah Dokter Anton yang diam saja. Ia membalas tatapan dari Marni untuk menerima atau menolak rezeki dari tuannya.


"Terima kasih banyak Tuan atas kebaikan Tuan, semoga kebaikan Tuan dilipat gandakan oleh Tuhan," ucap Riska dan Dokter Anton mengaminkan perkataan Riska.


"Aamiin, kalau sudah tidak ada kerjaan lagi. Kalian bisa pulang ke rumahku untuk beristirahat." sahut Dokter Anton.


"Baik Tuan, terima kasih banyak." balas Marni dan Riska secara bersamaan.


"Sama-sama." Dokter Anton menatap kepergian kedua pelayan rumahnya yang pamit undur diri dari ruang rawat Nayra.


Dokter Anton yang menatap kedatangan Bimo dan Rico. Ia terlihat senang apalagi wajah tampan Rico yang menatap polos ke arah dirinya membuat ia ingin cepat-cepat menikah dengan Nayra.


"Hallo anak tampan, siapa namamu!" sapa Dokter Anton disaat Bimo telah berdiri di hadapannya.


Rico yang merasa takut akan pria dewasa berwajah tampan blasteran sedang tersenyum ke arah dirinya. Ia langsung bersembunyi di leher Bimo dan mengeratkan pelukannya.


"Ndak mau endong ama paman itu Ico atut," ucap Rico dengan suara cadelnya.


Bimo yang merasa ada drama berlanjut lagi, ia tidak tinggal diam. Ia langsung membujuk Rico agar bisa menurut saja.

__ADS_1


"Rico sayang, tidak boleh seperti itu. Paman tampan itu baik orangnya, paman itulah menolong mama Rico. Apa Rico tidak kasihan kalau cuekin paman tampan dan baik?" tanya Bimo membuat Rico menggeleng cepat.


"Rico mau ketemu mama kan sekarang?" tanya Bimo lagi.


"Iya, Ico kangen ama mama. Hai paman! Aku Ico, telima kasih udah menolong mama dan bawa Ico kecini. Dimana mama Ico, paman?" ucap Rico dengan wajah polosnya.


Dokter Anton yang sudah tidak tahan lagi dengan wajah bulat dan tatapan polos itu. Ia langsung merebut Rico dari gendongan Bimo.


"Bimo, biar aku saja yang mengendong Rico. Dia ini anaknya tampan dan lucu banget. Sini berikan Rico padaku," pinta Dokter Anton dan Bimo langsung menyerahkan Rico agar pindah ke dalam gendongan Dokter Anton.


Rico yang diam saja saat dirinya digendong oleh pria dewasa berwajah tampan blesteran dan mencium pipi gembulnya. Ia hanya cuek bebek saja karena pria ini sudah menyelamatkan mamanya.


"Cudah paman cium Ico na tahu Ico ini tampan dan ucu. Ico mau ketemu mama, paman," ucap Rico dengan kedua tangan mungil menutupi seluruh wajahnya.


Dokter Anton teringat dengan tujuannya malam ini ia langsung mengiyakan permintaan Rico.


"Baiklah, mari paman antar kamu menuju mama kamu. Setelah itu kita pergi ke Australia."


"Austlalia," ucap Rico mengulangi perkataan Dokter Anton dengan tatapan bingungnya.


"Iya sayang, itu negara tetangga negara kita di luar negeri. Apa Rico mau melihat tembok karang raksasa dan bukit merah uluru yang menjadi pusat wisata pemandangan alam disana?" sahut Dokter Anton mencoba membujuk Rico agar tidak memberontak.


"Oh paman mau ajak Ico libulan juga disana?" tanya Rico cepat.


"Iya dan memberikan perawatan intensif untuk mama Rico yang sedang sakit." jawab Dokter Anton yang berjalan menuju ruang kasur tidur yang ditempati oleh Nayra di rumah sakit.

__ADS_1


Rico yang menatap ke arah mamanya yang sedang terbaring lemah di atas kasur rumah sakit dan berbagai peralatan medis melekat di tubuh mamanya membuat Rico terkejut.


"Mama! Apa yang teljadi ama mama? Mama bangunlah! Jangan tinggalin Ico! Ico ndak mau tinggal di lumah kecil itu lagi. Ico mau ikut ama mama. Mama, Ico kangen cama mama. Mama, bangun!" ucap Rico dengan berteriak histeris di hadapan Nayra dan tangan mungilnya mencoba menggoyangkan tubuh Nayra agar bangun dari tidur panjangnya itu.


__ADS_2