Bukan Istri Bodoh

Bukan Istri Bodoh
Part 30 Menyiksa Messi


__ADS_3

Zico yang telah mengusir Messi dari rumahnya, ia memilih berjalan ke ruang kamarnya untuk membersihkan semua barang yang digunakan oleh Messi.


"Cih, aku tidak sudi tidur bekas tempat tidur yang digunakan oleh Messi." Zico memanggil kepala pelayan rumahnya untuk membuang semua barang di dalam kamarnya untuk mengganti baru semua barangnya.


"Lida!" teriak Zico dan tidak berapa lama muncullah pelayan rumah yang telah berdiri hormat di hadapannya.


"Iya Tuan." jawab Lida dengan nafas yang terburu-buru karena ia sedang membersihkan ruang keluarga di lantai atas hingga berjalan cepat menuju ke ruang kamar Zico.


"Ambil semua barang di dalam kamarku! Ganti dengan semua barang baru!" titah Zico pada Lida.


"Baik Tuan."


"Satu lagi, ajak semua pelayan laki-laki dan empat pelayan perempuan untuk membantumu membereskan semua barang di kamarku."


"Siap Tuan, saya akan laksanakan sesuai perintah. Kalau begitu saya permisi dulu." pamit Lida undur diri di hadapan Zico dan melaksanakan tugasnya.


Zico hanya menghela nafas saat melihat kasur tidurnya yang berantakan dan darah segar milik Messi mengering di seprai kasur tidurnya.


"Jijik sekali, mau amis yang menyengat tidak semanis dengan korbanku dulu," ucap Zico yang menghentikan langkah kakinya di hadapan kasur tidurnya.


Tok! Tok! Tok!


"Masuk saja," ucap Zico masih menatap ke sekeliling barang mewah di dalam kamarnya.


"Tuan, Nona Messi masih mengadu pada Kenzo dan ia meminta jemput pulang dari sini," ucap Max -- Tangan kanan Zico yang ia suruh untuk mengawasi Messi karena ia yakin pelakor murahan itu pasti menghubungi suaminya Nayra.


Zico yang mendengar pengaduan dari Max, ia langsung melemparkan lampu tidurnya hingga hancur berkeping-keping di atas lantai. Ia sangat murka atas kelicikan Messi yang tidak kapoknya untuk merusak rumah tangga orang lain.


"Sialan! Ternyata pelacur kecil ingin bermain-main lagi padaku. Apa kurang puas dengan penyiksaanku?" ucap zico dengan mengepalkan kedua tangannya dengan kuat hingga otot-otot tangannya muncul dan kedua bola matanya menatap tajam bak elang yang siap menerkam mangsanya.


Max yang melihat kemarahan Tuan Muda Zico. Ia menelan salivanya dengan susah payah. Kali ini Tuan Muda Zico tidak seperti biasanya marah besar seperti ini.

__ADS_1


"Nona Messi, hidup kamu dalam masalah besar. Kamu salah memilih pria yang kamu anggap cupu ternyata pro suhu." kata Max dalam hati.


"Max," ucap Zico dengan suara dinginnya.


"Iya Tuan." jawab Max cepat.


"Berapa semua bodyguard di rumah ini?" tanya Zico yang terlihat merencanakan sesuatu.


"Total seluruh bodyguard ada 15 Tuan." jawab Max jujur.


"Baiklah, bawa Messi ke ruang bawah tanah dan kumpulkan semua bodyguard itu di ruang tanah untuk menikmati tubuh Messi!" titah Zico membuat kedua bola mata Max membulat dengan sempurna.


"Ma-maksud Tuan, malam ini ada pesta ****?" tanya Max memastikan.


"Benar, kamu mau bergabung?" ucap Zico dan Max langsung menggeleng cepat.


"Ya sudah kalau kamu masih menjaga kepercayaanmu untuk calon istrimu yang masih tersesat di hati orang. Sekarang kamu lakukan perintahku!" lanjut Zico.


Zico yang merasa gerah dan murka. Ia memilih keluar dari ruang kamarnya. Ia ingin membersihkan dirinya dari kotoran menempel yang diberikan oleh pelakor.


Ceklek!


Zico membuka pintu kamar kedua di lantai atas rumahnya. Ia melangkah masuk ke dalam ruang kamar itu tidak lupa menguncinya. Khusus, di ruang kamar ini Zico tidak memperbolehkan siapapun yang masuk kecuali dirinya dan kepala pelayan yang ia anggap seperti mamanya sendiri.


Tidak membutuhkan waktu yang lama, tubuh kekar Zico telah berdiri di atas guyuran air shower yang dingin. Ia membutuhkan pikiran yang jernih, di hati Zico penuh dengan penyesalan di masa lalunya. Sehingga, ia menghancurkan masa depannya yang suka bermain-main dengan setiap wanita dan menyiksanya tampan ampun. Sungguh Zico sangat biadab tapi sikapnya yang kejam seperti itu hasil penolakan dari kedua orang tuanya yang tak mengizinkan menikahi Nayra.


Sementara Max yang telah menelpon kepala bodyguard rumah Zico untuk menyuruh dua bodyguard untuk menangkap Messi untuk dibawa menuju ruang bawah tanah dan mengumpulkan semua bodyguard untuk menyiksa Messi. Ia telah berdiri di hadapan Messi yang kedua tangannya ditarik paksa untuk mengikuti langkah kakinya.


"Hentikan!" ucap Max membuat dua bodyguard itu menghentikan langkah kakinya.


Max berjalan mendekati Messi yang menangis sesenggukan karena kedua kakinya mengeluarkan darah segar atas pergesekan lantai yang kasar yang dapat melukai kedua kaki mulusnya.

__ADS_1


"Apa kamu masih menghubungi Kenzo?" tanya Max to the point.


Messi yang menunduk untuk menangisi nasib buruknya, ia langsung mengangkat kepalanya di hadapan Max yang memberikan tatapan tajam bak elang ke arah dirinya.


"Gawat, darimana Kak Max tahu kalau aku sedang menelpon Kak Kenzo? Apa aku kurang tepat mencari tempat persembunyian untuk menelpon Kak Kenzo?" batin Messi.


Max yang merasa diabaikan oleh Messi karena tidak menjawab pertanyaannya. Ia mencengkram dagu Messi dengan erat hingga menimbulkan warna merah memar di dagu lancipnya.


"Jawab pertanyaanku! Apa kamu tidak punya mulut untuk berbicara? Apa perlu aku merobek mulut kotormu yang suka menggoda para suami orang agar luluh dalam permainanmu?" tanya Zico membuat Messi menelan salivanya dengan susah payah.


"Tidak," ucap Messi menggeleng cepat.


Max yang tidak puas atas jawaban dari Messi. Ia langsung memperkuat cengkraman Messi yang semakin meringis kesakitan.


"Jawab yang jujur! Atau aku akan menyiksamu!" ancam Max.


"Iya Kak Max, aku menghubungi Kak Kenzo. Aku minta tolong jemput aku pulang dari sini." jawab Messi jujur.


"Cih, kamu ini apa kurang cukup dengan penyiksaan Tuan Muda Zico yang memperingatimu agar tidak menggangu Kenzo lagi," ucap Max dengan tatapan sinisnya di hadapan Messi.


"Tidak Kak, aku tidak bisa meninggalkan Kenzo. Aku hamil anak Kak Kenzo." sahut Messi takut-takut.


"Apa? Hamil anak Kenzo? Oh, sepertinya kehamilanmu ini awal mula neraka untukmu." Max memberikan kode mata pada kedua bodyguard bertubuh kekar dan sanggar itu agar tetap melanjutkan tugasnya.


Messi yang merasakan kedua tangannya ditarik secara paksa oleh kedua bodyguard itu ia kembali berteriak tidak jelas.


"Jangan! Jangan bawa aku masuk ke dalam rumah itu lagi! Aku tidak mau! Tolong, lepaskan aku! Biarkan aku hidup tenang!" teriak Messi keras dan kedua bodyguard acuh tak acuh akan perkataan Messi.


Max tersenyum puas saat melihat penderitaan Messi itu. Sebenarnya, ia bukan pria jahat tapi ia merasa kasihan pada Tuan Muda Zico sekaligus teman baiknya sewaktu kuliah yang selalu mendambakan Nayra agar menjadi miliknya. Tapi, Zico dan Nayra tidak berjodoh. Itulah awal mula yang mendukung kehancuran hidup Zico.


"Selamat menikmati neraka di dalam ruang bawah tanah, Messi," ucap Max lalu meninggalkan ruang keluarga di rumah mewah Zico.

__ADS_1


__ADS_2