Bukan Istri Bodoh

Bukan Istri Bodoh
Part 49 Zico Jatuh Cinta


__ADS_3

Sementara Rico yang hidupnya berubah seratus delapan puluh derajat dari kehidupan sebelumnya. Ia hanya duduk diam di ruangan besar yang dipenuhi oleh ranjang tidur anak kecil. Sekarang Rico berada di dalam ruangan kamar anak-anak yang dititip ke panti asuhan oleh Messi yang berhasil membujuk Kenzo agar bisa memulai kehidupan barunya setelah menikah siri tanpa kehadiran Rico.


Rico yang terlihat murung dengan kedua kaki kecilnya duduk melipat di atas kasur tidur tanpa adanya semangat hidup tanpa kasih sayang kedua orang tuanya yang tak memperdulikan dirinya lagi.


Selama satu bulan tinggal di panti asuhan, tidak ada papa Kenzo yang menjengguk dirinya. Apalagi Mama Nayra yang meninggalkannya karena membenci papanya. Itulah tidak memperdulikan dirinya lagi. Sungguh miris sekali cobaan hidup Rico yang hidup sebatang kara, walaupun kedua orang tuanya masih hidup bahagia.


"Mama, Papa, tidak pelduli lagi cama Ico. Ico sedih sekali kalena tidak ada yang sayang cama Ico., hiks... Hiks..." gelak tangga Rico pecah begitu saja saat mengeluarkan isi hatinya.


Lantas saja, Rico yang menangis histeris membuat teman-temannya di dalam kamar terlihat kebingungan. Tidak ada yang mengganggunya, semua orang bersikap baik pada Rico. Tapi, Rico terlihat murung dan diam saja saat diajak main.


Seketika gerap kaki kecil berhamburan menuju ke arah Rico untuk membujuknya.


"Ico, janan menangis. Ico kenapa?" ucap Marcelo yang duduk di sebelah Rico yang terus menangis.


"Ico bisa celita cama aku." sahut Irena.


"Iya Ico, apa yang membuat Ico menangis? Apa Ico tidak cuka tinggal disini?" tanya Moura.


"Iya Ico, belhenti dulu nangisnya bial bisa celita." timbal Rendi.


Rico yang mendengar perkataan semua teman sebayanya di panti asuhan. Ia langsung menghentikan Isak tanggisnya dan ia menatap ke arah semua wajah bulat imut yang seperti dirinya sedang menatap sendu ke arah dirinya.

__ADS_1


"Ico udah ndak dihalapkan lagi cama mama dan papa. Ico udah dibuang dicini. Tidak ada lagi yang sayang cama Ico. Ico kesepian." jelas Rico dengan suara cadelnya.


"Hem... Siapa bilang tidak ada lagi yang sayang cama Ico. Kami cayang kok cama Ico. Kami mau belmain cama Ico." sahut Moura dengan tatapan menyakinkan ke arah Rico.


"Iya, Ico janan cedih lagi. Ico itu bukan dibuang tapi mama dan papa Ico sedang cibuk. Sama sepelti mama aku yang menitipkan aku dicini bial ada teman belmain. Kalau di lumah pasti cepi dan tidak ada teman." jelas Marcelo.


"Iya, benal kata Malcelo. Tidak ada olang tua buang anaknya. Pasti olang tua mau anaknya hidup bahagia." tambah Irena.


"Kamu jangan belpikil aneh-aneh ya Ico, hal terpenting sekalang kita bisa hidup dengan asupan makanan sehat dan olang tua angkat yang mau mengulusi kita. Untuk mama dan papa yang sibuk kelja pasti datang kesini." sahut Rendi.


"Baiklah, Ico pelcaya masukkan salan kalian. Telima kasih teman-teman mau belteman dengan Ico. Maafin Ico yang tidak asyik belteman dengan kalian. Ico kecewa kalena papa Kenzo menikah dengan Tante menol itu yang menjadi pelakol." balas Rico dengan tatapan sendunya menuju ke arah semua teman-temannya.


"Pelakol? Jadi, Papa kamu menikah dengan Tante menol yang menjadi pelakol seperti film FTV?" tanya mereka secara bersamaan dan Rico mengangguk cepat.


Sementara Rico baru bisa tersenyum setelah satu bulan tinggal di panti asuhan ini. Ada rasa berbeda dengan kehidupannya dulu yang serba mewah, penuh kasih sayang, makan enak dan bergelimang harta orang tuanya. Sedangkan hidupnya sekarang di panti asuhan. Rico tinggal di rumah sederhana dengan barang rakyat jelata dan makan seadanya. Tapi, Rico berusaha mensyukuri nikmat pemberian Allah SWT pada dirinya.


Walaupun hidupnya tidak mewah seperti dulu dan hidup sederhana yang dirasakan oleh Rico saat ini setidaknya ia bisa diperlakukan baik dan penuh dengan teman yang mau bermain dengan dirinya.


"Ya sudah, Rico mau bergabung bermain belajar bersama kami." tawar Irena.


"Iya, Ico mau belajal bial pintar dan menjadi anak yang sukses. Jika Ico udah sukses, Ico bisa pulang ke lumah mama dan papa lagi dan bawa uang yang banyak." sahut Rico dengan wajah polosnya.

__ADS_1


"Setuju." jawab empat teman Rico secara bersamaan.


Irene pun berjalan menuju meja sofa di dalam kamar mereka berlima. Ia mengambil buku dan alat tulis. Lalu, ia membagikan buku dan alat tulis pada teman-temannya.


"Ini kalian buka bukunya dan ambil pencil untuk mulai menulis. Aku jadi gulu untuk mengajal kalian dan kalian jadi mulidnya," ucap Irene.


"Okey." balas Rico yang terakhir menerima pemberian buku dan alat tulis yang diserahkan oleh Irene. Ia melihat Rendi, Marcelo dan Moura yang mulai menulis huruf yang disebutkan oleh Irene.


Mereka terlihat serius belajar menulis dan membaca sesuai penjelasan Irene. Sebab, Irene paling tua satu tahun dari mereka.


***


Sementara Zico yang terlihat gelisah di dalam ruangan CEO di perusahaannya. Ia memanggil tangan kanan -- Max untuk mencari tahu informasi tentang Rhia. Iya, Zico tidak tertarik untuk memiliki Nayra lagi. Ia mengetahui kondisi Nayra koma di rumah sakit dan ia sudah menjanda satu anak saat masa komanya karena kekejaman Kenzo yang lebih memilih Messi yang memiliki harta untuk menjamin hidupnya.


Padahal Nayra masih memiliki hartanya, hanya saja Rhia yang menjaga kekayaannya. Disaat waktu yang tak terduga, dimana Zico bertemu dengan wanita bule cantik dan jutek membuat hatinya berdebar kencang. Untuk kedua kalinya Zico merasa jatuh cinta pada wanita. Hal inilah Zico lebih memilih mendekatkan diri untuk memiliki Rhia.


Dengan mencari tahu informasi lengkap tentang Rhia. Zico semakin yakin, wanita yang membuat ia jatuh cinta lagi ini wanita baik-baik seperti Nayra.


Di depan kantor perusahaan Nayra itulah tempat pertemuan tak terduga Zico dengan Rhia. Niat hati Zico ingin membantu Nayra agar mempercepat penceraiannya dengan suami brengseknya. Tetapi, ia tidak sengaja menyenggol wanita bule cantik hingga terjatuh di pelukannya. Sungguh adegan romantis itu terniang-niang di kepala Zico hingga saat ini.


Untung saja, Max ahli mencari tahu informasi orang lain dengan mudah. Tetapi, apa adanya Zico saat mendatangi kediaman Rhia dan ia ingin melamar Rhia tanpa adanya unsur kenalan atau pacaran membuat Rhia risih. Apalagi Zico sering membututi Rhia di sepanjang hari. Membuat Rhia tidak nyaman dan tidak bisa menjengguk Nayra karena sikap Zico yang semakin aneh pada dirinya.

__ADS_1


"Max, apa kamu sudah menemukan keberadaan Rhia di Paris?" tanya Zico pada Max -- tangan kanannya yang telah berdiri hormat di hadapannya.


__ADS_2