
Tidak berapa lama datanglah pelayan makanan yang membawa pesanan Nayra, Rico, Bimo dan Anton. Mereka menikmati makan malam bersama.
Dari suasana yang romantis kini terasa friendly saja. Tetapi, tidak apa-apa, setelah makan malam ini Anton sepertinya memberi kode mata pada Bimo yang mengerti keinginannya.
"Nay, jangan bergerak dulu," ucap Anton membuat Nayra yang ingin menghabiskan makanannya dalam dua sendok terakhir langsung terhenti.
Nayra menatap ke arah Anton yang diam sejenak, Mereka saling menatap satu sama lain. Hingga Nayra melihat Anton mendekatkan wajahnya ke arah dirinya.
"Oh tidak, apa yang kak Anton lakukan sekarang? Apa dia kehilangan akal sehat dengan memberi adegan dewasa di depan anakku." kata Nayra dalam hati.
Disaat Nayra ingin memundurkan kepalanya, Anton dengan cepat memegang dagu Nayra dan ia melihat Anton mengambil sisa makanan di sudut bibirnya.
"Syukurlah tidak ada yang aneh-aneh, pikiranku saja yang aneh tadi." batin Nayra.
"Ada sisa makanan di sudut bibirmu, Nay.Tenang saja, sudah aku bersihkan," ucap Kenzo dengan tangannya mengangkat sisa kue di hadapan Nayra.
Seketika wajah Nayra memerah menahan malu saat melihat Anton tersenyum manis.
"Terima kasih Kak." sahut Nayra yang tersenyum dipaksakan.
"Rico, sudah selesai makannya?" tanya Bimo pada Rico.
Rico yang telah meneguk habis jus jeruk hangat dan mengisi gelas kosong di atas meja.
"Sudah paman." jawab Rico dengan suara cadelnya.
__ADS_1
"Rico mau ke tempat bermain disini?" tawar Bimo.
"Memangnya ada apa saja mainan di tempat belmain, paman?" tanya Rico dengan tatapan polosnya.
"Banyak sekali permainannya, mari Rico paman gendong saja biar cepat ke tempat taman bermain." jawab Bimo bergegas mendekati Rico yang duduknya di sebelah Nayra. Sebelum itu ia pamit pada Nayra untuk membawa anaknya pergi ke taman bermain.
"Nona Nayra, saya izin mengajar Rico untuk bermain ke taman bermain sebentar agar Nona dan Tuan tidak merasa terganggu." setelah mengatakan itu Bimo langsung menggendong tubuh mungil Rico lalu melangkah pergi dari hadapan Nayra dan Anton.
Nayra yang menatap heran atas kepergian Bimo yang mengendong Rico secara tiba-tiba. Membuat ia berpikir aneh dan pasti ada yang disembunyikan.
Tanpa disadari oleh Nayra, suasana di sekitar meja duduk VVIP yang ramai kini bergantikan sepi dan hanya dirinya dan Anton saja yang duduk disini. Nayra menoleh ke arah Anton yang ternyata Anton tidak ada di kursi duduknya.
"Sejak kapan Kak Anton pergi? Bagaimana bisa aku tidak tahu Kak Anton sudah tidak ada lagi di dekatku?" tanya Nayra pelan. Ia menatap ke sekeliling ruangan yang dihiasi oleh dekor hiasan dinding. Tetapi, lampu di ruangan VVIP ini bergantikan dengan lampu berkelap-kelip yang bertuliskan "Will you marry me, Nayra?"
Seketika Nayra langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya dengan tatapan masih ke arah lampu tulisan itu.
Lalu, lampu kembali terpasang terang dan muncullah seorang pria tampan bertubuh kekar sedang tersenyum dan melangkahkan kakinya menuju ke arah Nayra.
Anton menjongkokkan kakinya di hadapan Nayra dan memberikan buket bunga dan cincin di hadapan Nayra.
"Will you marry me, Nay?" tanya Anton di hadapan Nayra.
Hal itu berhasil membuat jantung Nayra berdetak tak karuan. Entah kenapa ada rasa aneh yang menguasai di hatinya. Mungkinkah Nayra membuka hati untuk Anton dan membiarkan Anton menjadi suami dan papa untuk Rico.
Nayra terdiam sejenak untuk memikirkan jawaban dari Anton. Ia mencari kejujuran di kedua bola mata Anton yang menatap penuh cinta ke arah dirinya. Benar saja, dugaan Nayra benar bahwa Anton sangat mencintainya.
__ADS_1
"Apakah kakak sedang bercanda?" tanya Nayra dan Anton langsung menggeleng cepat.
"Tidak Nay, aku serius untuk menikahimu. Aku sangat mencintaimu di pandangan pertama. Aku menerima statusmu dan anakmu akan aku anggap seperti anakku sendiri. Tolong hargai cintaku, Nay. Beri kesempatan untukku dalam membahagiakan dirimu." jawab Anton jujur.
"Benarkah? Apa kakak tidak malu memiliki istri yang telah menyandang status janda anak 1? Bagaimana kata orang-orang kalau kakak masih perjaka menikah dengan janda?" tanya Nayra memastikan.
"Aku tidak perduli dengan persepsi orang-orang akan hal itu. Bagiku tidak penting menanggapi orang-orang yang mengurusi hidupku. Selagi aku berjuang tanpa harus menjatuhkan orang lain dan bahagia tanpa harus merebut kebahagiaan orang lain. Aku akan tetap pada pendirianku, yaitu mencintaimu dan menjadikan dirimu sebagai istri dan ibu dari anak-anakku. Jadi, apakah kamu mau menerima lamaran ku, Nay?" Anton menatap wajah ragu-ragu Nayra yang terlihat takut untuk mengambil keputusan yang tepat.
"Percayalah Nay, aku janji akan melindungimu dan membahagiakanmu hingga maut yang memisahkan." lanjut Anton.
Nayra menundukkan kepalanya sejenak, entah kenapa kenangan pahit itu berputar kembali di pikirannya. Rasa sakit yang teramat dalam saat dikhianati dan Diceraikan saat Nayra sedang koma. Ia sangat trauma berat. Walaupun luka itu sudah sembuh tetapi rasa trauma membuat hatinya tidak mudah memberikan pada pria yang baru dikenalinya. Sekalipun pria itu bersikap baik dan mau menolongnya. Tidak menjamin pula hidup Nayra bahagia atau berujung cerita lama kian terulang kembali.
"Bisakah kakak memberiku waktu untuk berpikir sejenak? Aku takut tidak bisa menjadi istri yang baik untuk kakak," ucap Nayra dengan tatapan sendunya.
Anton yang mendengar perkataan Nayra, ia langsung menggenggam tangan Nayra untuk memberikan kekuatan pada dirinya.
"Tentu saja Nay, aku akan menunggu jawaban darimu. Aku harap kamu tidak mengecewakanku. Ketahuilah Nay, selama aku hidup, baru kali ini aku sangat menyukai wanita dan hatinya sangat mencintainya. Apa kamu tahu wanita itu siapa? Dia yang sedang berdiri di hadapanku. Aku percaya kamu pasti jodohku dan aku jodohmu, Nay. Tidak ada kata terlambat untuk hidup bahagia dan damai. Setelah kisah kelam yang membawa luka berat." jelas Anton panjang lebar di hadapan Nayra.
Nayra hanya tersenyum menanggapi perkataan Anton. Sepertinya Anton benar-benar tulus mencintainya dan menjadikan dirinya sebagai istri sahnya.
"Aku tidak akan mengecewakan kakak. Hanya saja, aku tidak mau salah mengambil keputusan." lirih Nayra pelan tetapi masih terdengar jelas di indera pendengaran Anton.
"Jangan ragukan cintaku, hatiku ini selalu menyebut namamu dalam doa." Anton mengarahkan tangan Nayra di bagian hatinya.
Nayra terdiam sejenak dan ia menatap sendu ke arah Anton. Tidak ada kata-kata apapun yang mampu Nayra lontarkan pada Anton. Ia benar-benar terpuruk akan masa lalunya. Rasanya ia tidak bisa mengontrol dirinya sendiri untuk menangis terharu dan kedua bola matanya mengalir deras menuju wajah cantiknya.
__ADS_1
"Jangan menangis, Nay. Maafkan aku yang memaksamu untuk menerima cintaku. Aku mengerti kamu masih trauma dengan kisah kelammu itu. Aku akan memberi waktu untukmu untuk memberi jawaban padaku dan mentalmu benar-benar stabil dan tenang," ucap Anton terdengar tulus di indera pendengaran Nayra.