Bukan Istri Bodoh

Bukan Istri Bodoh
Part 52 Menjemput Rico


__ADS_3

Di sebuah bangunan tradisional berlantai dua yang menerima penampungan anak yang tidak memiliki kedua orang tua, anak dibuang atau anak orang tidak mampu yang biasa disebut dengan panti asuhan pemerintahan.


Bimo berdiri di depan bangunan panti asuhan itu setelah memarkirkan mobil di depan pintu utama bangunan panti asuhan dan keluar dari mobil mewahnya. Ia terdiam sejenak saat teringat anak kecil dari wanita incaran Tuan muda Anton sengaja dititipkan oleh papa kandungnya.


Sungguh miris sekali nasib anak kecil itu dimana hati nurani papa kandungnya -- Kenzo yang lebih memilih menitipkan anak kandungnya sendiri di tempat serba berkecukupan dan memilih tinggal dengan wanita piala bergilir itu.


Entahlah, Bimo harus menahan air matanya agar tidak ikutan sedih saat memikirkan nasib Rico. Tidak ingin membuang waktu lama, ia melangkahkan kakinya menuju ke arah pintu rumah panti asuhan.


Tok! Tok! Tok!


"Assalamualaikum, permisi," ucap Bimo berdiri di depan pintu untuk menunggu orang yang ditinggal di panti asuhan ini keluar untuk menyambut kedatangannya.


"Wa'alaikumsalam, Kamu mau cari siapa, nak?" sahut seorang wanita paruh baya yang berjalan mendekati ke arah Bimo.


Bimo tersenyum ramah saat melihat wanita berpakaian muslim yang usianya lebih tua dari Bimo.


"Maaf mengganggu Bu, perkenalan saya Bimo -- Pamannya Rico. Kedatangan saya kesini untuk menjemput Rico pulang ke rumah. Saya baru mengetahui Rico dititipkan disini oleh papanya. Jadi, baru sekarang saya mau bawa Rico pulang." jelas Bimo panjang lebar di hadapan Ibu Intan.


"Oh begitu, mari masuk dulu nak Bimo. Nanti saya panggilan Rico." ajak Ibu Intan yang membuka pintu dengan lebar dan memberi jalan Bimo agar masuk ke dalam rumah.


Bimo mengangguk cepat dan ia berjalan masuk ke dalam untuk duduk di kursi sofa ruang tamu. Ia menatap ke sekeliling ruangan yang terlihat sederhana, tetapi setiap ruangan terawat dengan bersih dan nyaman. Ia mengalihkan pandangannya dari sebuah foto bersama dengan anak panti menuju ke arah Ibu Intan yang telah duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan dirinya.


"Bagaimana kabar Rico disini, Bu? Apa Rico bersikap nakal?" tanya Bimo memulai topik pembicaraan lebih dulu.

__ADS_1


"Tidak, Rico anak baik, nak Bimo. Dia anak penurut dan pintar. Hanya saja dia terlihat sedih dan murung." jawab Ibu Intan membuat Bimo membulatkan kedua bola matanya.


"Pasti Rico sangat kecewa karena dia dititipkan disini oleh papanya dan tidak ada yang menjengguknya, begitu?" tanya Bimo dan dibalas anggukan cepat oleh Ibu Intan.


Bimo menghela nafas kasar saja, benar saja dugaannya kalau hidup Rico jauh berbeda dengan dulu. Kini pasti Rico hidup serba berkecukupan dan tidak ada yang menyayanginya lagi.


"Maafkan saya, Bu. Saya sangat menyesal tidak tahu dari awal. Jika saya mencari tahu dari awal, saya pasti menghalangi Kenzo agar tidak menyia-nyiakan anak kandungnya sendiri diasuh oleh orang-orang disini."


"Tidak apa-apa nak Bimo, saya sangat senang karena kehadiran Rico bisa menjadi teman baik dari anak asuhan saya disini." sahut Ibu Intan merasa tidak enak hati saat melihat wajah murung Bimo di hadapannya.


"Iya Bu, terima kasih banyak sudah mengurusi Rico disini. Apa saya bisa bertemu dengan Rico sekarang?"


"Tentu saja bisa, nak Bimo. Tunggu sebentar saya panggilkan." Ibu Intan bangun dari posisi duduknya dan melangkah masuk ke dalam ruang kamar.


Tidak berapa lama datanglah Ibu Intan yang menggandeng tangan mungil anak laki-laki yang sangat tampan dan lucu.


"Nah Rico ini pamanmu sudah datang menjemputmu. Ayo beri salam pada pamanmu," ucap Ibu Intan yang telah menghentikan langkah kakinya di hadapan Bimo.


Bimo tersenyum menatap ke arah anak laki-laki yang sangat tampan dan lucu yang mengenakan pakaian kaos santai rakyat jelata pemberian dari panti asuhan.


"Rico sayang, ayo kita pulang," ucap Bimo tersenyum tulus ke arah Rico.


Sedangkan Rico yang menatap intens menuju ke arah pria tampan yang berpakaian jas hitam dan memberikan senyuman pada dirinya. Membuat Rico takut dan bersembunyi di belakang tubuh Ibu Intan.

__ADS_1


Ibu Intan yang melihat Rico tampak ketakutan membuat ia merasa heran. Bukankah Bimo ini pamannya Rico? Apa mungkin Bimo bersikap jahat pada Rico?


"Rico, gak boleh seperti itu. Ayo beri salam pada pamanmu. Pamanmu mau mengajak Rico pulang. Apa Rico tidak kangen sama keluarga Rico?" bujuk Ibu Intan menatap ke arah Rico yang terlihat kebingungan.


"Iya, Ico mau beltemu mama dan papa. Tapi, Ico ndak kenal cama om itu." jawab Rico dengan suara cadelnya mengadu pada Ibu Intan.


Bimo yang mendengar perkataan Rico ada benarnya dan membuat ia lupa. Ia langsung mengeluarkan identitas dirinya dan foto keluarga Rico di hadapan Ibu Intan dan Rico.


"Begini Bu, sebenarnya Rico memang belum pernah bertemu dengan saya. Kesibukan saya selama ini sebagai tangan kanan Dokter Anton membuat saya melupakan keluarga jauh saya." sahut Bimo.


"Oh iya nak Bimo, Ibu percaya kamu pria baik dan tidak akan menculik Rico. Ibu akan membujuk Rico agar mau pulang." balas Ibu Intan membuat Bimo baru bisa bernafas dengan lega.


Setelah melakukan drama panjang lebar dalam membujuk Rico agar mau mempercayai Bimo untuk membawanya pulang. Akhirnya, Bimo bisa mengandeng tangan mungil itu yang sudah mengerti atas kedatangannya kesini.


"Terima kasih Ibu sudah membantu saya agar Rico mau pulang. Maafkanlah atas semua sikap Rico yang kurang berkenan disini. Mohon Bu, ini ada titipan uang dari Dokter Anton untuk Ibu." Bimo menyerahkan amplop coklat di hadapan Ibu Intan.


"Tidak usah repot-repot nak Bimo, Ibu ikhlas merawat Rico disini. Merawat dan mendidik Rico sudah menjadi tugas Ibu disini. Jadi, jangan seperti ini." tolak Ibu Intan secara halus dan mendorong amplop coklat itu pada Bimo.


"Tidak Bu, saya ikhlas memberikannya sesuai perintah Dokter Anton. Anggap saja ini rezeki dari Tuhan yang dititipkan melalui saya. Mohon ibu ambillah," ucap Bimo mencoba menyakinkan Ibu Intan yang sepertinya malu menerimanya.


Rico yang berdiri di sebelah Bimo dan ia menjadi penonton saja. Ia berinisiatif untuk mengambil amplop coklat untuk diserahkan oleh Ibu Intan. Ia menarik celana Bimo membuat pria tampan itu menoleh ke arah dirinya.


"Paman, bial Ico saja belikan pada Ibu," ucap Rico dengan suara cadelnya dan Bimo mengangguk dengan menyerahkan amplop coklat pada Rico.

__ADS_1


"Ibu, tolong ditelima ya anggap saja ini sedekah," ucap Rico sembari menyelip amplop coklat di dalam kantong baju gamis Ibu Intan. Hal itu membuat Ibu Intan terpaksa menerima karena malu-malu kucing tadi.


__ADS_2