
Airin baru saja kembali ke kamarnya setelah menidurkan Vely. Mama Rianti sedang main ke Bandung ke rumah adiknya. Hp Airin berbunyi. Pak Aiden.
'Tumben' pikir Airin.
"Halo Pak." jawab Airin.
"Pak?" balas Aiden.
"Sori, Aiden maksudnya. Nama kamu di layar masih Pak Aiden seh. Napa telepon?"
"Ga apa-apa, cuma mau ingetin besok di kantor saya jam 10 ya. Belum tidur?"
"Bentar lagi, masih nonton drakor. Lagian kalau hujan gini aku malah ga bisa tidur, ga suka suara hujan."
"Bukannya enak kalau hujan gini buat tidur?"
Jlep..Suasana di kamar Airin mendadak gelap, TV nya mati.
__ADS_1
"Listrik putus nih kayaknya. Bentar ya Aiden, aku cek ke bawah." Airin pelan-pelan menuruni tangga.
"Ati-ati ya Rin, ada senter ga?" tanya Aiden. Airin tidak terlalu mendengar suara Aiden, yang dia dengar adalah teriakan suaranya sendiri.
"Aaaaagghh.....Sh*tttt" Airin mengumpat. Baru kali ini dia jatuh dari tangga. Hanya 3 anak tangga, tapi cukup untuk membuatnya mengerang kesakitan.
Aiden langsung menuju rumah Airin yang hanya berjarak 20 menit dari rumahnya.
"Ga bisa jalan ya Rin? Jatuhnya dari atas bener ya?" Aiden melihat Airin yang sangat kesulitan berjalan dalam gelap.
"Tu ada keset di bawah tangga. Jatuh cuma 3 anak tangga, sampe bawah langsung kepeleset lagi ma keset." Airin berjalan berjinjit dibantu Aiden yang memasuki ruang tamu. Airin belum pernah sedekat ini dengan pria selain suaminya. Richie hanya ketidaksengajaan. Aiden memegang tangan dan pinggang Airin, menuntunnya ke sofa.
"Lusa."
"Terus kamu bolak balik ke lantai 2 gimana?" tanya Aiden.
"Kayaknya aku tidur di sofa dulu deh. Tapi barang-barang aku masih di atas semua." Seketika listrik kembali menyala. Aiden baru melihat lebamnya kaki Airin dengan jelas sekarang.
__ADS_1
"Aku bantu kamu ke atas deh. Besok pagi aku kesini lagi bantu kamu turun." kata Aiden.
"Ga usah, ga apa-apa. Bantu aku ke atas aja sekarang. Besok pagi ga perlu kesini. Nanti pintunya kamu tutup aja langsung, bisa terkunci otomatis. Aku.. ga enak dilihat tetangga, kamu datang pas mama ga ada. Kamu kan tahu aku ini.. janda. Dan nanti istrimu salah paham dengan kita." ucap Airin pelan. Aiden ingin menjelaskan, tapi sepertinya ini bukan waktu yang tepat.
"Ya udah kalau gitu, aku ngerti. Yuk, aku bantu ke atas. Nanti gosokin salep ya, ada kan?" Airin mengangguk.
Aiden membantu Airin menaiki anak tangga, baru 2 anak tangga dan itu sudah membuat Airin kesakitan. Aiden langsung menggendong Airin, hanya mengucapkan kata "Maaf" pelan. Airin merasa wajahnya memerah. Sesampainya di kamar Airin, Aiden membawakan salep dan air minum di atas meja nakas.
"Vely tidur sendirian ya?" tanya Aiden, Airin mengangguk.
"Ya uda, aku pulang ya. Kalau tambah sakit kabarin, harus ke dokter. Jadi besok kamu gimana?" tanya Aiden yang hanya berdiri di depan pintu. Ia takut Airin menganggapnya pria mesum jika masuk ke dalam.
"Aku bisa minta Vina temanku untuk datang sebentar. Jangan khawatir. Btw, makasih ya Aiden. Aku sungguh telah merepotkanmu. Oh iya, sepertinya besok hanya Richie yang bisa ke kantormu, aku mau ambil cuti, mungkin dua hari cukup."
"It's ok..istirahatlah..Get well soon..Ingat, acara GO bentar lagi." Aiden mengingatkan.
"Siap Bos." Airin memberikan jempol untuk Aiden. Aiden pun meninggalkan rumah Airin.
__ADS_1
Airin termenung sejenak di atas ranjangnya. Dia memikirkan almarhum suaminya, Nathan. Setiap ada pria yang dekat dengannya, ia akan memikirkan Nathan. Sulit baginya melupakan Nathan. Jika seorang wanita menjadi janda karena suaminya berselingkuh, mungkin akan mudah baginya untuk move on. Tapi jika karena maut yang memisahkan mereka, akan terasa sangat sulit untuk memulai kembali. Tidak ada kenangan yang buruk tentang Nathan dan Airin. Mereka sangat bahagia, apalagi sejak Vely lahir. Namun Tuhan berkehendak lain. Tidak mudah bagi Airin untuk bangkit. Orang tua Nathan sudah lama meninggal dan ia tidak memiliki saudara. Airin juga anak tunggal. Itulah kenapa sekarang Airin hanya tinggal dengan mamanya dan Vely.