Bukan Pelarian

Bukan Pelarian
BAB 7


__ADS_3

"Dad, lihat ini." Darren menunjukan hasil gambarnya kepada Aiden.


Aiden melihat sebuah gambar karikatur, ada tulisan "FAMILY" di atas gambar tiga orang tersebut.


Darren adalah anak yang pendiam, sangat pendiam di usianya. Dia tidak pernah mengungkapkan ekspresinya secara terbuka kepada orang lain, termasuk kepada Aiden.


"Bagus banget sayang, tugas sekolah ya?" Aiden duduk di sisi ranjang Darren yang bersebelahan dengan meja belajarnya.


"Iya Dad. Temanya always family. So bored." keluh Darren.


"Kenapa bosan? Darren kan punya Daddy, Oma,Opa, ada uncle DK juga."


Darren diam,seperti yang selalu ia lakukan setelah mengucapkan satu dua kalimat dari mulut kecilnya. Aiden tahu apa yang dipikirkan anak semata wayangnya itu. Hanya saja ia tahu kapan saat yang tepat untuk menggali lebih dalam. Aiden menyuruh Darren tidur karena sudah malam.


Aiden menuju kamarnya di lantai dua. Kamar Darren dan orang tuanya di lantai satu. DK, adik Darren memilih tinggal di apartemen yang dekat dengan kampusnya. Nama DK sendiri sebenarnya adalah Davidson Kent Alexander. Tapi dia tidak menyukai nama itu, kayak nama motor gede katanya. Jadilah ia membuat nama DK sejak SMP dan mewajibkan kami semua untuk memanggilnya dengan nama yang sok keren itu.

__ADS_1


Aiden mengeluarkan hp nya untuk menelepon seseorang.


"Bro, Sky Cafe yuk." hanya satu kalimat keluar dari mulut Aiden. Tidak butuh waktu lama baginya untuk bersiap. Ia hanya mengenakan polo shirt putih, celana jeans panjang hitam, sneakers pastinya. Rambut undercut nya hanya diberi sedikit wax agar tetap rapi.


"Napa lo?" tanya Chris, sohib kental manisnya Aiden. Kental karena akrab. Manis ya karena Chris itu "sweet" banget. Seperti biasa, Chris selalu totalitas dalam penampilan, fashion style nya tidak pernah nanggung. Cowok banget. Itu yang terlihat orang. Tidak banyak yang tahu rahasia Chris. Aiden tahu dan tidak pernah memusingkan hal itu.


"Ga apa-apa Bro, pengen keluar aja, suntuk di rumah." Aiden mengangkat cangkir kopi di depannya.


"Udahlah, pasti ada sesuatu, gw kenal lo uda ampe ke ubun-ubun lo."


"Trus.." Chris menunggu kelanjutan ceritanya.


"Gw khawatir ma perkembangan dirinya. Apa perlu gw bawa ke psikolog ya?" Aiden lanjut menceritakan tentang gambar yang dibuat oleh Darren.


"Lo pinter kalo soal kerja, lah cuma masalah gini aja lo ngelempem kayak kerupuk dianginin. Darren tu butuh emak, bego. Gitu aja kagak ngerti." kesal si Chris. Aiden hanya menghela napas sambil menatap Chris.

__ADS_1


"Bro, lo juga butuh cewek kan? Buktinya kemarin lo jalan ma Maureen, ama siapa lagi tu yang pirang ga jelas. Darren juga butuh Bro, butuh emak. Cuma jangan cari yang norak ya, malu-maluin. Atau Darren butuh Papa baru? Gw siap hahaahaha...." Chris tertawa terbahak-bahak. Aiden hanya bisa melempar french fries yang sedang dipegangnya ke arah Chris.


"Gw males hubungan serius Chris."


"Lupain Evelyn, dia ga pantes buat lo Aiden. Dia aja tinggalin Darren gitu aja. Mau nyesel pa ga, dia tetep tinggalin kalian demi karirnya. Dan lo di sini kayak kanebo kering tau ga, keras, kaku, ga guna kalo ga dibasahin."


Nama itu lagi, nama yang tidak pernah disebut Aiden tapi selalu nempel di ingatannya.


"Mungkin lo bener Chris, gw harus benerin pikiran gw demi Darren."


"Demi Darren and demi lo sendiri Chris. Jangan hanya cari ibu buat Darren, tapi cari soulmate lo, jodoh hidup mati lo. Bukan pelarian dari Evelyn ya. And satu lagi, jangan yang NORAK! Geli banget gw liat cewek pirang yang terakhir jalan ma lo."


"Lo mah emang ga suka cewek bego hahahaha.."


 

__ADS_1


 


__ADS_2