
Suasana di water park siang itu agak canggung. Aiden mengajak Airin dan juga Vely untuk mengantar Darren menemui Evelyn. Dan di sinilah mereka, water park. Evelyn sangat kesal melihat Airin datang, padahal dia sudah menyiapkan pakaian renang yang cukup seksi untuk dilihat Aiden. Airin menyadari itu. Dia cukup pintar untuk melihat yang mana tipe wanita penggoda. Airin tidak pernah melepaskan Aiden, ia selalu mengikutinya. Aiden pun tampak tahu apa yang harus dilakukannya.
"Auuw.. Aiden tolong aku." Evelyn tiba-tiba berteriak sambil memegang betisnya. Mereka berlima sedang berada di tengah kolam arus. Darren dan Vely menaiki ban untuk dua orang. Sedangkan mereka bertiga hanya berjalan dan sesekali berenang.
"Kenapa kamu?" Aiden bertanya kepada Evelyn. Tidak cemas, hanya bertanya. Airin menggeleng-geleng kepalanya seakan mengerti modus wanita itu.
"Kaki aku keram. Sepertinya aku tidak sanggup jalan, mana masih jauh." Evelyn meringis palsu.
"Ya udah kita duluan ya." ucap Airin berniat meninggalkan Evelyn sambil menarik Aiden.
"Darren!! Tunggu Mommy sayang." Darren dan Vely pun menoleh melihat ke arah Evelyn yang tertatih berjalan ke arah ban anak-anak.
"Ma, tolongin mami kak Darren donk, kan kasihan." ucap Vely sambil menunjuk Evelyn. Airin pun tidak ingin anaknya melihat contoh yang tidak baik, tidak menolong sesama yang membutuhkan bantuan. 'Sayangnya, sesama yang satu ini ular betina.' kesal Airin dalam hatinya.
"Bantuin deh Ai." ucapnya ke Aiden.
"Serius kamu? Males ah." namun Airin mendorongnya mendekati Evelyn.
"Sini, pegang lenganku saja." Aiden berkata ketus.
"Gendong atau dukung saja. Aku susah jalan." Evelyn berkata manja membuat Airin yang mendengarnya mual.
__ADS_1
"Ini di dalam air. Berat!! Mau apa ga? Kalau tidak, aku tinggalin." Evelyn akhirnya menurut, bergelayut manja di lengan Aiden. Jadilah sekarang Evelyn menggandeng lengan kanannya dan Airin menggenggam tangan kirinya.
'Aku benar-benar seperti lelaki brengsek sekarang!' Aiden berusaha menghindari tatapan orang-orang di sekitarnya yang seolah-olah menganggapnya pria beristri dua.
Mereka berempat pulang dalam diam. Anak-anak sedang tidur karena kelelahan di kursi belakang. Airin berusaha untuk tidak mengeluarkan suara untuk memulai pembicaraan. Dia tahu kalau dia yang memulai, pasti akan terjadi keributan. Airin lebih memilih untuk tenang. Dia bukan wanita yang suka mendramatisir keadaan. Hidup ini bukan drama, cemburu, bertengkar, terus kabur dari rumah, suami minta maaf, lalu berbaikan. Big NO!!
"Ai, aku..." Aiden baru ingin memecah keheningan, tiba-tiba Airin melanjutkan kalimat Aiden.
"Gila ya dia!! Itu aku di sana Ai, gimana kalau aku ga ada? Lebih puas donk dia rayuin kamu." ternyata Airin tidak mampu menahan "drama" nya. Aiden tidak berusaha membela diri. Dia hanya menggenggam tangan Airin berharap bisa menenangkannya. Aiden tahu Airin hanya perlu mengeluarkan emosi sesaatnya. Memang sikap Evelyn sangat keterlaluan tadi. Dia juga pasti sangat marah kalau Nathan bersikap begitu ke Airin. Hanya Nathan yang bisa membuat Aiden cemburu.
Sejujurnya Aiden sudah capek jika harus meladeni Evelyn tiap minggu. Ia sudah bertanya ke pengacaranya, apakah boleh jika mengurangi hak kunjung dengan alasan Darren yang tidak bersedia. Dan ternyata alasan itu tidak bisa diterima karena bisa dianggap sebagai Aiden yang memberikan pengaruh buruk ke Darren. Aiden berusaha sabar, sebisa mungkin ia mengajak Airin jika jadwal istrinya sedang kosong. Pekerjaan Airin lebih banyak menyita waktu di saat weekend karena kegiatan dan acara banyak digelar di saat itu. Dan selama tiga bulan pertemuannya dengan Evelyn, kelakuan Evelyn tadi yang terburuk.
"Kamu tidak apa-apa Ai?" tanya Aiden sambil membelai rambut Airin yang sedang membaca novel online sambil memeluk guling kesayangannya. Kadang Aiden cemburu karena Airin lebih suka memeluk guling itu daripada dirinya.
"Mau dibahas?" tanya Airin tanpa berhenti menscroll layar hp nya.
"Daripada dipendam." jawab Aiden. Airin menutup hp nya.
"Sebenarnya aku malas bahas ini. Apa yang perlu dibahas coba? Dadanya yang jauh lebih besar? Pake baju kayak tadi, aku yang malu lihatnya. Kalau kamu sih senang." Airin menaikkan nada suaranya.
"Ngapain aku senang lihat punya dia, mending lihat punya kamu. Ukurannya lebih pas di tanganku hahaha..." Aiden tertawa.
__ADS_1
"Iiihh.. mulai deh, ga bisa serius."
"Siapa bilang aku ga serius. Aku aja takut lihat dia gitu, operasi kali di Perancis. Kamu jangan capek ya Ai temanin aku tiap minggu. Kekuatan aku ada di kamu, kalau kamu tidak ada mungkin aku bisa gila meladeni sikap dia." Aiden menarik Airin ke pelukannya. Ia menyukai moment mereka berbicara dari hati ke hati sebelum tidur. Membicarakan dan menyelesaikan setiap masalah atau hanya sekedar curhat agar tidak ada beban yang terbawa sewaktu tidur.
"Ulang tahun Darren jadi kan mau dirayain?" tanya Airin mendadak.
"Jadi donk. Mama Darren kan CEO RAF, masa tidak dirayain."
"Ok siip.. Nanti aku bahas sama Richie."
"Masa ultah Darren saja harus dibahas sama Richie? Ga ada orang lain?" Aiden masih cemburu dengan Richie yang bisa bertemu tiap hari dengan Airin. Sekali lagi, bukan karena Aiden tidak percaya dengan Airin, hanya saja perasaan "belum aman" itu masih terasa.
"Richie harus tahu donk, kan nanti pegawai ada yang ikut ke rumah."
"Bagaimana hubungan Richie dengan Hannah? Lancar?" tanya Aiden.
"Setau aku mereka masih pacaran. Hannah pernah ke kantor dan aku memergoki mereka sedang berciuman hahaha..." Airin bercerita. Aiden merasa sedikit lega mendengarnya.
*****
Suasana pesta di rumah Aiden berlangsung meriah. Airin mengundang teman-teman sekolah Darren dan keluarga Aiden. Ia juga mengundang Om Teddy dan istrinya yang sengaja datang sekalian menjemput Rianti yang sudah datang menginap 3 malam. RAF memindahkan gerai ayam goreng terkenal ke rumah itu. Ada juga badut dan pertunjukan sulap yang disiapkan untuk menghibur anak-anak. Darren terlihat bahagia, ia banyak tertawa siang itu. Dari sana, banyak orang tua yang melihat bahwa hot daddy yang berkaraoke dengan Darren waktu itu telah menikah dengan hot mom satu lagi. Tetapi mereka tidak membahasnya di pesta itu. Akhirnya pesta selesai setelah sesi foto-foto keluarga. Tim RAF dibantu para asisten rumah tangga tampak sedang membereskan berbagai atribut pesta.
__ADS_1