Bukan Pelarian

Bukan Pelarian
BAB 26


__ADS_3

"Rin, mama antar Vely ke kantormu dulu ya, mama mau dokter gigi sebentar cuci karang. Sibuk ga?" mama Rianti menelepon Airin.


"Boleh Ma, nanti kalau sudah sampai, telepon aja. Airin turun."


Sepuluh menit kemudian, Vely masuk ke ruangan Airin.


"Om Richie..." teriak Vely menghampiri Richie yang sedang duduk di sana. Richie pun berdiri dan menggendong Vely.


"Kok Vely bisa kesini?" tanya Richie.


"Oma lagi mau cuci gigi. Katanya kuning hahaha.." Vely tertawa senang.


"Om, turunin Vely. Vely mau duduk di sana." Vely menunjuk ke kursi kerja besar yang tadi didudukin oleh Richie. Richie pun menurutinya. Airin tersenyum melihat kelakuan anaknya. Sebenarnya Airin takut jika Vely akan membahas....


"Om, kok ga nikah sama mama biar jadi papa Vely?"


Ini...Airin menutup matanya sekilas, tidak percaya dengan apa yang didengarnya.


"Mama bilang teman ga bisa nikah om. Om jangan jadi teman mama lagi aja." Vely berkata dengan polos sambil mencoret-coret kertas notes kosong di depannya. Sedangkan Richie melirik ke arah Airin yang hanya menaikkan bahu dan alisnya tanda tak tahu.


"Memang Vely  pengen om jadi papa Vely?" Vely mengangguk. Richie senang melihatnya. Ia sangat menyayangi gadis kecil itu. Ia sering berkhayal suatu hari Vely akan menjadi anaknya. Di saat Richie mulai sedikit melepaskan Airin, ia merasa Vely meraihnya kembali. Apakah ini cobaan untuknya dan Hannah? Atau untuk Airin dan Aiden? Richie tidak tahu bagaimana harus bersikap. Oke.. Bukankah yang terpenting adalah kebahagiaan Airin? Richie sudah memastikan dan menjanjikan itu untuk Airin.

__ADS_1


"Vely sayang. Om dan mama sudah janji jadi teman selamanya. Teman ga boleh ingkar janji. Om sayang sama Vely, sayang sama mama Airin juga." Richie melirik Airin.


"Tapi papa Vely itu dipilih sama Tuhan. Tuhan akan memberikan papa terbaik untuk Vely. Seperti Tuhan juga memberikan teman terbaik untuk mama Airin, yaitu Om Richie." Entah Vely mengerti atau tidak penjelasan dari Richie. Vely hanya mengangguk kecil. Seketika itu juga, pintu ruangan itu terbuka lagi. Aiden muncul.


"Hai Aiden, kok ga bilang mau datang?" tanya Airin terkejut dengan kedatangan Aiden. Aiden merasakan aura ketegangan di sana. Vely yang sedang duduk juga terlihat tidak seperti biasanya.


"Apakah aku mengganggu?"  tanyanya lagi.


"Ga kok." Richie menjawab. Vely turun dari kursinya dan mendekati Aiden.


No..no Vely...Not anymore...Airin menarik Vely dan memeluknya.


"Kita cari es krim yuk sayang. Richie aku keluar bentar ya." seru Airin sambil menarik Aiden. Richie mengangguk.


Sesampainya di Gelato 88, mereka memilih rasa es krim yang akan dipesan.


"Vely mau rasa apa?" tanya Airin. Vely yang masih pendek tidak bisa melihat jelas jajaran es krim yang ada di sana. Aiden langsung mengangkat Vely ke pundaknya.


"Nah, Vely sudah tinggi kan, sudah bisa pilih donk mau rasa apa?" kata Aiden. Vely tertawa senang. Dia merasa sangat tinggi sekarang.


"Mau itu om, oreo, strawberi juga. Boleh pakai keju juga ga?"

__ADS_1


"Boleh donk." jawab Aiden. Airin terlihat senang melihat anaknya tertawa bahagia.


"Mama kemana Ai?" tanya Aiden ke Airin.


"Dokter gigi, cuci karang." jawab Airin.


"Nanti kita jemput aja abis ini, aku anter Vely dan mama pulang." Aiden merapikan rambut Airin, lalu menggandeng tangannya.


"Ai, tolong ambil dompet di saku belakang. Aku takut Vely jatuh kalau aku yang ambil. Tolong bayar pake duit di sana. Mulai sekarang kamu harus terbiasa mengatur keuanganku hahaha..." perkataan Aiden membuat Airin menggeleng-gelengkan kepalanya.


Sesampainya di mobil, Vely yang sibuk makan es krim mulai berbicara.


"Om, gara-gara Om Aiden ya om Richie ga jadi papa Vely?"


Ya ampuuuunnn Velyyyy... Airin sudah menyerah. Ia serahkan semuanya dengan Aiden. Aiden terdiam sejenak, seakan meminta bantuan Airin. Ia yakin ada alasan atas pertanyaan Vely.


"Emang Om Aiden bisa antar Vely ke sekolah kayak om Richie?" Good question Vely, pikir Airin. Aiden pun sudah mulai bisa mengikuti jalan pikiran Vely.


"Bisa donk sayang. Kebetulan kak Darren dan Vely kan satu sekolah. Om Aiden juga bisa antar Vely kemanapun Vely mau. Nanti kita bisa ajak mama dan kak Darren juga ke gunung, ke pantai, ke kebun binatang."


"Tapi om Richie gimana Ma. Dia kan sering bilang kangen Vely. Kasian om Richie kalau kita ga ajak dia." ucap Vely sedih seakan mau menangis. Maklumlah, Vely sudah mengenal Richie jauh sebelum Aiden datang.

__ADS_1


"Vely sayang. Om Richie ga sendirian kok. Nanti Om Richie juga menikah, punya anak. Vely masih bisa kok ketemu Om Richie. Jangan sedih ya sayang." Airin mencoba menenangkan anaknya yang terlalu kreatif itu. Airin memegang tangan Aiden, entah untuk meminta maaf atau berterima kasih. Vely..Vely.....


__ADS_2