Bukan Pelarian

Bukan Pelarian
BAB 31


__ADS_3

Darren menatap wanita cantik yang sedang tersenyum di depannya. Mereka bertiga bertemu di restoran Pizza Peace. Evelyn membawakan beberapa mainan dan pakaian untuk Darren. Ia juga memberikan sebuah dasi yang masih ada di dalam kotak berpita untuk Aiden.


"Kamu masih suka warna navy kan sayang?" tanya Evelyn ke Aiden.


"Stop calling me like that. Atau saya akan bawa Darren pulang." Aiden berkata dengan suara rendah dan sedikit berbisik takut Darren mendengarnya. Evelyn tidak menyangka Aiden akan marah hanya dengan panggilan yang biasa ia pakai untuk Aiden.


"Darren sayang, Mommy bawain mainan banyak untuk Darren. Darren suka yang mana nanti kasih tau Mommy ya." Darren mengangguk namun sedikit bingung mendengar Evelyn menyebut dirinya mami, bukan mama seperti yang diceritakan papanya. Aiden menyadari kebingungan Darren. Ia jadi mengingat masa lalu. Aiden dan Evelyn memang sepakat untuk dipanggil Daddy dan Mommy.


"Darren suka pizza apa?" tanya Evelyn lagi.


Aiden banyak diam. Suara Evelyn mendominasi pertemuan dua jam yang terasa seperti dua belas jam bagi Aiden. Ia hanya mencermati setiap pertanyaan dan ucapan Evelyn, apakah sesuai dengan apa yang telah dia breafing ke Evelyn melalui telepon tadi pagi. Jika ada yang tidak sesuai, akan lebih mudah bagi Aiden untuk menghindari pertemuan selanjutnya. Namun hasilnya, NIHIL. Evelyn mengikuti aturan main yang dibuatnya dengan sangat mulus. Ya, akhirnya seminggu sekali dia harus menghadiri dua jam terpanjang seperti ini. Jujur saja, dulu apalagi sekarang, Aiden sangat mengharapkan jika Evelyn sudah menikah dan punya keluarga yang bahagia sehingga Evelyn tidak perlu datang lagi ke kehidupannya dan Darren. Tidak mengerti apakah Aiden membenci Evelyn atau tidak, ia hanya tidak ingin melihatnya lagi. Kalau cinta? Tentu saja tidak. Apa yang dia lakukan sekarang semata-mata hanya untuk Darren.


*****


Aiden datang ke acara pameran perusahaan Chris setelah mengantar Darren pulang. Ingin menjemput Airin sebenarnya. Chris menyambutnya.


"Hai Bro..sejak kapan lo datang ke pameran gw?" Chris tertawa melihat kedatangan Aiden.

__ADS_1


"Mau jemput bini gw. Mana Airin?" mata Aiden mencari sosok wanita yang dicarinya itu.


"Bini? Lo uda kawin? Beneran?" bisik Chris. Aiden tahu maksud mesum sahabatnya itu.


"Belum goblok!! Mau gw halalin dulu." Chris tertawa.


"Tahan juga lo." goda Chris.


"Ga sih sebenarnya..hampir karatan gw hahahah..." Aiden dan Chris tertawa.


"Ai, sudah datang?" Airin menghampiri mereka. Aiden mencium pipi Airin sekilas.


"Belum bisa, mungkin sejam an lagi lah." jawab Airin.


"Lo lihat-lihat dulu barang gw, banyak barang baru tuh. Smart tv yang disana canggih punya. Nanti gw kasih diskon Bro hahahah.." kata Chris sambil menunjuk di sebelah kanan mereka. Aiden langsung terinspirasi akan ucapan Chris. Ia langsung berniat membeli beberapa barang untuk pernikahannya nanti. Aiden mau merenovasi kamarnya, mengganti semua furniture dengan yang baru. Jadilah ia mengikuti Chris mengelilingi pameran tersebut. Alhasil ia memborong televisi, pendingin ruangan, dan....banyak. Airin menggeleng-geleng melihat kelakuan calon suaminya itu.


*****

__ADS_1


"Richie, aku mau memberi tahu sesuatu. Aku..akan menikah bulan depan." Richie tampak terkejut dengan pengumuman Airin sore itu. Mereka berdua sedang berada di ruang kerja RAF.


"Selamat Rin. Aku..bahagia, sungguh. Aku harap kamu dan Vely bahagia." Richie memeluk Airin. 'Haruskah aku bahagia? Haruskah aku harus berhenti mengharapkanmu? Sepertinya aku benar-benar harus merelakanmu Airin.' Richie berusaha tegar.


"Terima kasih Richie. Kuharap kamu bahagia dengan Hannah, dia gadis yang baik. Dan kuharap kita masih tetap berteman." Airin melepas pelukan Richie, memegang tangannya, dan menatapnya.


"Sahabat selamanya. Dan kamu tahu artinya Rin? Kamu boleh datang kepadaku kapanpun kamu dan Vely membutuhkanku. Cari aku. Promise me." Airin mengangguk, tersenyum.


'Inilah mengapa ada pepatah yang mengatakan pria dan wanita tidak bisa berteman. Kebanyakan mereka akan terjebak dalam friendzone. Seperti aku.' Richie meringis dalam hatinya.


"So..bagaimana persiapannya? Kamu tidak mungkin memakai Wedding Organizer luar kan. Izinkan aku membantumu." Richie berujar.


"Aku tidak mau merepotkanmu."


"Jangan sebut aku sahabat jika kamu tidak mengizinkanku mengatur acaramu itu. Teman-teman yang lain juga pasti setuju." Richie terlihat sungguh-sungguh ingin membantu pernikahan Airin.


"Fine, tapi klien seperti aku cerewet lho Ric hahahaha..." mereka tertawa bersama.

__ADS_1


*****


__ADS_2