Bukan Pelarian

Bukan Pelarian
BAB 6


__ADS_3

"Rin, Airin... Ga apa apa?" suara Richie terdengar khawatir dari luar pintu.


"I'm Ok.. Bentar." semenit kemudian Airin keluar dengan muka yang sedikit pucat. Airin merasa konyol dengan dirinya yang bisa drop hanya karena.... kopi.


"Kayaknya efek kopi di kamu tambah parah deh Rin. Dulu ga ampe gini."


'Dulu itu dua tahun lalu Richie, dua tahun aku ga pernah masuk coffee shop gini.' batin Airin. Ia sedang tidak bertenaga untuk menjawab apapun.


"Aku antar pulang ya Rin." ucap Richie. Tiba-tiba hape nya berbunyi. Tulisan 'MR. Andirawan' muncul di layar. Sepertinya ada masalah mendesak di kantor Richie. Dan benar saja...


"Biar saya saja yang antar Airin." Aiden mendadak muncul di depan toilet. Nih toilet mendadak jadi tempat meeting baru mereka.


Richie mendadak membisu. Jika ia tetap antar Airin pulang, jangan harap dia selamat dari terkaman papanya di kantor. Jika ia mundur, kecurigaannya mengenai Aiden bertambah kuat.


"Maaf Rin, aku harus balik ke kantor. Nanti aku telepon. Pak Aiden, maaf ya merepotkan." Richie berpamitan dengan rasa kesal dengan pilihan yang dia buat.


"Ga apa-apa Ric, ati ati ya." ujar Airin pelan.


Di dalam mobil, mereka berdua duduk dalam diam. Hingga akhirnya Aiden memecah keheningan tersebut.


"Harusnya kamu bilang kalau kamu tidak tahan bau kopi."


"Maaf, saya tidak tahu bakal separah ini. Sudah dua tahun saya menghindari kopi, kirain sudah ga separah dulu."


Airin mengoleskan lagi minyak kayu putih ke hidung dan keningnya untuk menghilangkan rasa mualnya. Sambil sesekali mengarahkan Aiden ke arah rumahnya.


Akhirnya sampailah mereka di depan sebuah rumah 3 lantai yang minimalis yang terletak di dalam sebuah komplek perumahan.

__ADS_1


"Rin, tadi Richie ada titip pesan, katanya mobilmu nanti biarin aja di RAF." kata Aiden saat mereka belum keluar dari mobil.


"Ok.. Makasih banyak ya Pak Aiden, maaf merepotkan gara-gara hal konyol." Airin berujar sambil sedikit tertunduk malu.


'Dia ga undang aku masuk nih?' batin Aiden sedikit berharap.


"Mau mampir dulu Pak?" tanya Airin setelah mereka keluar dari mobil.


"Ga usah deh. Makasih." What??? Aiden, kamu ngomong apa seh.


"Eehh.. Ada tamu ya, kok tidak diajak masuk Rin?" Rianti, mama Airin, kebetulan hendak keluar rumah membuang sampah.


'Wah, Anda benar-benar penyelamat saya Nyonya.' suara di otak Aiden berteriak senang.


"Pak Aiden sibuk kayaknya, Ma."


"Oh boleh Pak, silahkan masuk."


Selesai dari toilet, mata Aiden mulai meneliti setiap sudut rumah itu.


"Silahkan diminum Pak Aiden teh nya." ujar Rianti.


"Panggil saja saya Aiden, Tante." ucap Aiden sambil duduk di sebuah sofa berwarna putih.


"Airin lagi ke atas sebentar ganti baju. Bajunya bau kopi dia bilang. Hahahah...Tuh anak ga berubah dari dulu. Papa ma suaminya dari dulu ga bisa minum kopi ya gara-gara Airin."


"Oooo..." gumam Aiden sedikit lesu mendengar kata suami.

__ADS_1


Aiden melihat sekeliling dinding ruang tamu tersebut. Ada foto keluarga Airin, seorang pria, dan seorang bayi.


"Itu suami Airin, meninggal tiga tahun lalu." Rianti berucap pelan.


"Ooooooooo...." Aiden bergumam lebih panjang dari yang tadi.


Entah perasaan sedih atau lega karena Airin single.


"Oma, mama kok pulangnya cepat banget? Mama sakit ya, Oma?" Vely muncul dengan kaos Dora kesukaannya. Rambutnya yang hitam panjang dibiarkan terurai.


"Oom ini siapa Oma?" tanyanya lagi tanpa menunggu jawaban Rianti.


"Halo, oom temannya mama. Nama kamu siapa?" tanya Aiden sambil tersenyum ke arah Vely.


"Lo Ve Ly."  jawab Vely dengan sedikit mengeja namanya.


Airin turun dengan daster rumah berwarna navy. Masih nampak sedikit pucat.


"Kamu gimana Airin? Masih mual?" tanya Aiden.


"Masih sedikit Pak"


"Saya pulang dulu saja biar kamu bisa istirahat. Tante, saya pamit ya, makasih teh nya. Bye Vely cantik."


Aiden masuk ke mobil white camry nya dengan senyuman yang tertahan.


'Aiden, akhirnya kamu ketemu lagi dengan yang baru.' jiwa Aiden mendadak bersemangat.

__ADS_1


__ADS_2