Bukan Pelarian

Bukan Pelarian
BAB 37


__ADS_3

"Wahh...Ada pesta kok Mommy ga diundang, Darren?" Evelyn datang membawa kotak besar dibungkus kertas kado. Ia melenggang masuk ke ruang tamu. Semua mata melihatnya. Airin bersyukur mamanya sudah pulang dengan om Teddy. Mama Rianti tidak mengetahui perihal Evelyn yang datang di kehidupannya.


"Apa kabar Ma, Pa? Maaf saya baru bisa mampir, sekalian mau kasih kado untuk Darren." ucap Evelyn ke mama Shinta yang terlihat sudah meradang. Evelyn memeluk Darren dan mencium pipi kiri kanannya sambil mengucapkan selamat ulang tahun.


"Mau apa kamu?" Shinta sedikit berteriak. Airin memberi kode ke Mba Sum, salah satu pengurus dapurnya, untuk membawa Darren dan Vely ke atas.


"Cuma silaturahmi Ma. Darren kan hari ini ulang tahun. Saya kan mommy nya Darren. Saya berharap kedatangan saya tidak mengganggu. Hai Aiden, mana istri kamu yang..." Airin baru akan maju menghadapi Evelyn yang bergaya sok keren itu. Namun langkahnya terhenti mendengar kelanjutan kalimat Evelyn.


"Mandul itu." Aiden terkejut mendengarnya. Dari mana Evelyn tahu mengenai hal itu. Ia juga melihat keterkejutan yang lebih parah di mata orang tuanya.


"Apa maksud kamu hah?" Shinta mulai terlihat emosi.


"Mama tanya saja dengan menantu Mama, mengapa dia belum bisa hamil?" Shinta menoleh ke arah Airin yang terdiam menatap Evelyn.


"Cukuuuupp!! Keluar kamu! Jangan pernah kembali ke rumah ini." Aiden menarik lengan Evelyn dengan kasar, menyeretnya keluar.


"Awas kamu ya! Aku akan berusaha mencabut hak kunjungmu atas Darren. Aku rasa aku sudah terlalu baik selama ini." Aiden berkata pelan namun dalam sebelum ia menutup pintu rumahnya dan meninggalkan Evelyn di luar sana.


Aiden masuk ke dalam tapi tidak menemukan Airin di sana. Shinta meminta penjelasan dari Aiden.


"Kak, maksud Evelyn tadi apa? Airin mandul?" tanyanya. Aiden menjelaskan secara singkat ke mamanya, lalu ia berlari ke kamar menemui Airin. Airin sedang duduk bersandar di dipannya. Ia tidak menangis, hanya diam.


"Ai, sayang.." Aiden memanggilnya pelan.


"Aku capek Ai. Tadinya aku pikir aku hanya akan menemukan kebahagiaan. Bertemu denganmu, dicintai dan mencintaimu, orang tuamu pun sangat menerimaku. Tapi apa kamu tahu? Sebulan pertama aku menganggap Evelyn hanyalah nyamuk kecil yang gigitannya hanya membuat kita gatal. Namun aku salah, dua bulan ini aku merasakannya. Kehadiran Evelyn terlalu...mencekikku. Terkadang aku merasa sulit untuk bernapas." suara Airin mulai bergetar. Aiden memegang tangannya, namun ia tidak mengeluarkan satu katapun. Ia hanya ingin mendengar apa yang dirasakan Airin.

__ADS_1


"Kita memang tidak pernah bertengkar karena kita berdua, tapi kita selalu ribut tentang orang lain. Dan itu selalu karena dia. Aku capek Ai, capek..." luluh sudah pertahanan Airin. Air mata mengalir di pipinya. Airin masih sanggup jika Evelyn bersaing secara sehat, ia yakin bisa menang. Namun menyinggung ketidaksempurnaan dia sebagai seorang wanita dan istri, itu sangat memukul harga dirinya. Apalagi tadi Evelyn mengatakannya di depan kedua mertuanya dan juga banyak karyawan RAF di sana.


"Ssst..kumohon Ai, jangan menyerah akan kita. Aku mohon. Aku akan mencari jalan keluarnya. Aku berjanji." Aiden memeluk Airin. Pintu kamar diketok. Mama Shinta muncul dari balik pintu.


"Maaf mama mengganggu. Boleh mama masuk?" mereka mengangguk. Shinta pun menarik kursi kecil untuk duduk di dekat Airin.


"Ma, maaf..Airin tidak jujur sama mama dan papa." Airin menunduk.


"Jadi Airin kira Mama akan marah?" Shinta menarik tangan Airin. Airin pun melihat mata mertuanya itu, tidak tampak kemarahan di sana.


"Mama tidak marah. Serius. Mama sudah ada Darren, ada Vely. Apalagi yang mama butuh?" Aiden terharu mendengarnya. Mamanya memang wanita hebat. Pantas papanya cinta mati sama mama.


"Oh iya, mama juga masih punya DK untuk cadangan." Airin tertawa kecil mendengarnya. Ia memeluk Shinta. Aiden pun ikut memeluk dua wanita kesayangannya itu. Aiden yakin bisa melewati ini semua. Ia hanya butuh keajaiban kecil untuk membantunya terbebas dari Evelyn.


*****


"Hanya ada satu jalan Pak Aiden, jika ada hal yang membuktikan dia tidak layak menjadi ibu bagi Darren. Itupun harus yang krusial Pak Aiden, karena Bu Evelyn sekarang hanya memiliki hak kunjungan." jawab Pak Sihombing.


"Baiklah Pak. Terima kasih." jawab Aiden. Ia memutar otaknya apa yang harus ia lakukan. Ia tidak tahu bagaimana harus memulai. Aiden lalu menghubungi Chris mengajaknya bertemu.


"What's up Bro? Apa lagi kali ini? Biasanya lo hanya inget gw kalo ada masalah hahaha.." Aiden jarang melihat Chris sedih atau punya masalah. Anak itu selalu punya segudang cara menikmati hidup. Aiden menjelaskan bagaimana Evelyn telah mengganggu kehidupannya dengan Airin.


"Lalu lo mau gw gimana? Ngerayu Evelyn? Sori Bro, itu melanggar harkat dan martabat gw." Chris mengangkat kedua tangannya seakan menyerah.


"Ga lah.. Dia juga tahu lo ga suka cewek. Gini, lo ada kenalan orang yang bisa cari tahu tentang dia ga? Kayak detektif gitu lah, tapi ga usah detektif beneran juga ga apa-apa. Yang penting cari informasi tentang Evelyn. Aku mau cari apa kek biar dia bisa pergi dari hidup gw." Chris memberikan nomor seseorang yang bisa diandalkan untuk masalah seperti itu. Chris sering memakai jasanya sebelum dia berhubungan dengan seseorang. Ia sangat selektif memilih pria yang akan dipacarinya.

__ADS_1


Aiden menghubungi orang itu secepatnya, mengirim semua data yang dia ketahui tentang Evelyn. Sayang dia tidak mengetahui di mana Evelyn tinggal sekarang, tadinya ia merasa tidak memerlukannya. Aiden juga tidak akan menanyakan hal itu, nanti Evelyn mengira Aiden akan ke rumahnya. Menggali lubang sendiri kan? Aiden hanya perlu menunggu informasi yang akan diterimanya.


*****


"Mas, kamu tahu dari mana Airin mandul?" Evelyn bertanya kepada pria di sampingnya.


"Airin? Airin mana?" tanya pria itu sambil memakai kemejanya.


"Itu, undangan yang kamu dapat tapi kamu tidak pergi." pria itu mencoba mengingat-ingat. Tapi tidak mendapat jawabannya.


"Yang punya mall baru itu lho." lanjut Evelyn menjelaskan.


"Ooohh.. anaknya pak Alexander. Yang aku cerita dapat istri janda mandul?" Evelyn mengiyakan.


"Kok kamu ingat namanya?" pria itu bertanya sambil memakai celana panjangnya.


"Temannya temanku..Jadi Mas tahu dari mana?" tanya Evelyn masih dengan keadaan setengah berbaring di ranjang.


"Kakak perempuanku juga diundang. Dia teman istrinya Pak Alex. Katanya yang jadi pengantin wanitanya pernah dekatin keponakan aku.Tentu saja kakakku tidak setuju. Anaknya itu anak laki-laki tunggal, masa dapat janda? Mandul pula."


"Lho, kakak Mas tahu dari mana dia mandul?"


"Detektif lah sayang.. Sudah ya, Mas pulang dulu. Baik-baik di rumah." pria itu mendekati Evelyn lagi dan mencium bibirnya. Lalu ia meninggalkan apartemen mewah itu.


'Oooo... Ternyata Airin tidak selugu yang aku pikir. Hebat juga kamu, ditolak keluarga Andirawan, bisa masuk ke keluarga Alexander.' Evelyn tersenyum licik, seakan sudah memiliki berbagai ide briliant di dalam otaknya.

__ADS_1


*****


__ADS_2