Bukan Pelarian

Bukan Pelarian
BAB 21


__ADS_3

Vina menatap tajam mata sahabat yang duduk di depannya sambil mengunyah fish n chip. Suasana mall siang itu agak sepi. Mereka memang suka memilih nongkrong di hari dan jam kerja untuk menghindari keramaian.


"Tega banget Rin kamu ma Richie. Sumpah deh. Kesel banget denger cerita lo." kata Vina setelah dia mendengar Airin jadian dengan Aiden.


"Aku tahu Aiden keren gitu, tapi kamu ga pikirin perasaan Richie." lanjut Vina.


"Eiiitt.. tunggu dulu Vin. Kesel boleh, tapi ngomong pakai akal sehat donk. Pertama, aku sebenarnya ga tega. Kedua, aku pikirin kok perasaan Richie. Kamu ga tau aja aku galau banget, mau ini itu takut ketauan Richie, takut dia marah. Ya cuma gimana lagi, mungkin lebih cepat lebih baik dia tahu hal ini. And one thing, aku comblangin dia ke cewek sekelas Hannah Fang. Hebat kan?!" Airin mencoba membela diri walaupun terkesan memaksa.


"Iya aku tahu Rin, kamu ga sejahat itu. Cuma...kamu tahu kan aku pengen banget kamu tu bisa happily ever after sama Richie. Dia tu super baik sama kamu en Vely." kata Vina. Lalu Airin menceritakan soal mama Richie yang meneleponnya.


"Oooo.. Makanya kamu lari ke Aiden? Takut sama tante Desy?"


"Ga lah bego. Takut sama tante Desy iya juga, tapi aku ga memilih Aiden gara-gara pelarian. Dia itu...dewasa." Airin tersenyum.


"Lo kira Richie bocil??" Vina terus berusaha membela Richie. Airin mendengus kesal.


"Aiden itu..Mmmh..susah aku jelasinnya Vin. Kamu tahu kan aku ga mungkin terima pria yang tidak aku suka. Apalagi setelah waktu yang panjang ini. Aku hanya berpikir, he's the one I've been waiting for." Airin mencoba membuat Vina mengerti dengan keputusannnya. Ia tahu Vina ingin yang terbaik untuknya dan Vely.


"Pinter banget ya pilihan kata-kata lo. Susah bantahinnya." Vina tersenyum tanda melunak.


Mereka berpisah di tempat parkir mall. Airin memang tidak memiliki banyak sahabat. Hanya Vina yang paling dekat dan selalu ada. Kita memang tidak memerlukan banyak teman, hanya butuh satu yang bersedia mengulurkan tangan di saat kita butuh, dan menerima jika kita ingin berbagi kebahagiaan. Kalau lebih dari satu teman yang begitu? Ya thanks God, bonus buat hidup kita.

__ADS_1


Airin melihat sebuah mobil sedan BMW hitam tidak jauh dari mobilnya yang masih terparkir. Mobil itu sangat mencurigakan. Maju mundur tidak jelas. Airin hanya takut mobilnya tertabrak oleh mobil itu. Atau orang di dalamnya pencuri mobil? Airin berasumsi. Akhirnya ia memberanikan diri mengetuk kaca mobil tersebut. Satu ketukan. Dua ketukan. Kaca mobil pengemudi turun setelah ketukan ketiga. Tampak seorang wanita berusia sekitar 50 tahunan memakai kaca mata hitam. 'Kayaknya bukan pencuri.' pikir Airin.


"Maaf, Ibu tidak apa-apa? Ibu sakit?" tanya Airin setelah melihat kegugupan wanita itu.


"Mmmh... gini.. Saya ga bisa parkirin mobil ini." ucap wanita itu malu.


"Oh, boleh saya bantu, Bu?" Airin tersenyum, ia tahu wanita itu pasti merasa agak malu. Dengan lancar Airin pun selesai memarkirkan mobil mewah itu. Ia mengembalikan kunci mobil ke tante modis yang sedang menunggu. Kaca mata hitam sudah dilepaskannya, agar tidak terkesan sombong, pikir wanita itu.


"Makasih banyak lho Mba, sopir saya mendadak sakit. Saya ada janji penting." ujar wanita itu.


"Sama-sama, Bu. Nanti bisa kan keluarin mobilnya?" Airin bertanya ragu takut menyinggung wanita itu.


Airin pun meninggalkan mall itu menuju kantor RAF.


*****


"Shinta, kamu telat banget." ujar seorang wanita yang tidak kalah modisnya. Tampak di sana masih ada lima wanita yang sepertinya seumuran berkumpul di sebuah restoran mewah.


"Iya nih Des, Pak Tarno sakit. Aku tadi ga bisa parkir, malu-maluin banget. Untung dibantu sama satu mbak mbak di parkiran tadi." jelas wanita yang ternyata bernama Shinta. Mereka memulai arisan bulanan itu. Tujuh wanita sosialita yang sepertinya tidak perlu memikirkan biaya hidup mengingat nominal arisan yang fantastis itu.


"Desy, jadi siapa anak yang digendong Richie kemarin?" tanya Merry, satu-satunya wanita berambut coklat merah terang di sana.

__ADS_1


"Anak temannya. Ga sengaja ketemu di sana, jadi mereka main bareng." ujar Desy lantang. Seakan sudah tahu bakal ada yang membahas itu sekarang.


"Oo..Kirain anak pacarnya, kayaknya Richie bahagia banget. Tapi tu cewek cantik lho Des." sambung Karenina, wanita lain dengan tiga kalung bertengger seperti tangga di lehernya.


"Iya, cantik memang. Tapi sayang dia janda, makanya sudah saya pesan ke Richie jangan terlalu dekat." Desy sebenarnya malas membahas hal ini. Dia tidak ingin menjelekkan Airin, tapi memang ia tidak suka melihat kedekatan anaknya dengan Airin.


"Memang janda pasti tidak baik ya?" Shinta masuk ke topik pembicaraan itu.


"Bukan begitu juga. Ya kalau bisa jangan." jawab Desy.


"Saya dengar cucumu Darren juara lomba karaoke ya di sekolah?" tanya wanita yang lain lagi.


"Iya, tau dari mana Sil?" Shinta tersenyum bangga.


"Dari Friska, dia kan satu sekolah ma Darren. Wah benar-benar turunan mamanya ya." Silla seketika menutup mulutnya seakan tahu bahwa dia salah berucap.


"Maaf." lanjutnya.


"It's ok." Shinta menanggapi santai masalah ini. Mereka semua sudah tahu dengan masalah Aiden. Maklum, pernikahan Aiden dulu digelar sangat meriah. Hampir semua pengusaha hebat dan para pejabat diundang ke pesta itu. Dan tentu saja berita perceraian Aiden jauh lebih heboh dari pernikahannya.


*****

__ADS_1


__ADS_2