
Aiden mengetuk pintu rumah itu berulang kali. Sebenarnya Aiden yakin Airin tidak berada di dalam rumah itu. Richie mengatakan Airin membawa mobilnya, namun Yaris putih itu tidak ada di sana. Aiden hanya mencoba menggedor dan menggedor lagi. Ia bingung dan putus asa. Tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Akhirnya ia menyerah, ia berhenti.
‘Kamu di mana Ai? Apa yang harus aku lakukan tanpamu?’ Aiden merutuki kebodohannya. Ia memutuskan untuk bertanya dengan mama Rianti, ia tidak peduli lagi jika ibu mertuanya memarahinya. Aiden hanya ingin menemukan Airin. Dan benar saja, Rianti marah besar. Ia sama sekali tidak mengetahui ada masalah di pernikahan anaknya dan itu karena mantan istri menantunya yang kembali. Airin tidak ada di sana. Aiden meminta maaf berulang kali dengan mertuanya itu dan berjanji akan menemukan Airin secepatnya. Aiden memutuskan untuk menunggu semalaman di luar rumah Airin. Dan hasilnya NIHIL. Airin benar-benar tidak kembali ke sana.
Aiden menelepon Richie memberitahunya bahwa Airin tidak ada di rumahnya.
“Apakah Airin sudah menghubungimu Ric?” tanya Aiden. Ia baru sampai di rumahnya dan tampak sangat kusut. Shinta yang sudah mendengar mengenai masalah anaknya hanya bisa pasrah, ia pun tidak tega mengomeli Aiden yang bersikap kurang tegas menurutnya. Shinta hanya berusaha fokus menjaga anak-anak, terutama menghadapi berbagai pertanyaan dari si kecil Vely.
“Belum. Mungkin ia akan menghubungiku segera. Airin sudah berjanji, dan dia jarang ingkar.” Ucap Richie. Richie juga sudah berulang kali mencoba untuk menghubungi Airin dan ponselnya masih tidak aktif.
“Tolong kabari aku kalau dia menghubungimu. Terima kasih banyak Ric.” Aiden menutup teleponnya. Terduduk lesu di ranjang tempat dia dan Airin biasa membicarakan semuanya, berbagi kasih sayang, dan bercinta.
‘Richie bilang kamu jarang ingkar janji, Ai. Tapi kenapa kamu tidak menepati janjimu untuk jangan pernah menyerah untuk kita dan anak-anak. Harusnya kita bicarakan semuanya. Harusnya kamu pukul saja aku Ai.’
Aiden menangis dalam tidur yang tampak seperti mimpi baginya.
*****
Airin menghabiskan harinya dengan mengikuti rombongan hiking menelusuri hutan dan sungai. Tidak banyak yang ikut di hari itu, hanya ada tujuh peserta dan seorang pemandu. Perjalanannya berakhir dengan melihat air terjun yang sangat indah. Penduduk sekitar menyebutnya “Curug Cibaliung.” Mereka beristirahat sambil bercengkrama, hanya Airin yang duduk sendiri dan memperhatikan orang-orang di sekitarnya. Sepasang suami istri sepertinya, berumur kurang lebih 50 tahun tapi masih tampak bugar. Tiga gadis yang sepertinya masih mahasiswi didengar dari topik yang mereka bicarakan. Dua lagi sepertinya ayah dan anak laki-lakinya yang berumur sekitar lima belas tahun. Airin sedang sibuk dengan imajinasinya membaca karakter mereka hingga seseorang menyapanya. Sang pemandu.
__ADS_1
“Kok ga gabung ke sana? Namamu Airin kan. “ Airin mengangguk. Ia hanya tahu nama pemandu itu Sam. Seorang pemuda tegap, tinggi, berkulit sawo matang, dan ketampanannya mungkin berasal dari darah campuran Barat yang dimilikinya.
“Boleh aku duduk di sini?” Airin kembali mengangguk.
“Kamu agak pendiam ya sepertinya.” Lanjutnya. Airin tersenyum.
“Hanya belum ada lawan bicara yang tepat. Aku hanya ingin menikmati semua ini.” Airin menghirup dalam udara yang terasa sangat segar di sana.
“Baru pertama kali ikut tour ini?” tanya Sam lagi. Mereka duduk di sebuah batu karang yang besar.
“Iya. Enak juga ya ternyata menikmati alam seperti ini. Kamu sudah lama bekerja jadi pemandu?”
“Kamu orang daerah sini?” tanyanya lagi.
“Bukan, aku hanya sedang liburan kesini.” Jawab Airin.
“Aku juga liburan. Tapi tiga hari lagi aku harus balik keThailand.” Airin sedikit terkejut. Ia mengira Sam tinggal di sini, setidaknya di Indonesia. Sam mengumpulkan semua peserta tour hiking. Mereka akan kembali ke titik awal. Sesampainya di sana, Airin membereskan perlengkapannya dan bersiap kembali ke hotel tempatnya menginap. Ada beberapa penjual souvenir yang menawarkan barang dagangan mereka. Airin melihat ada pita rambut yang sangat cantik. Airin langsung teringat Vely. Vely pasti menyukainya. Ia membelinya. Ia juga membeli sebuah kaos untuk Darren. Airin sangat merindukan anak-anaknya. Dan juga Aiden. Airin hanya menganggap ini sebuah liburan untuk menghilangkan penatnya, bukan pelarian atas semua masalahnya. Sedikit demi sedikit ia berusaha untuk tegar. Apapun yang terjadi akan ia hadapi. Sekalipun jika benar Aiden masih mencintai Evelyn, Airin akan mengalah. Airin tidak akan mempertahankan pria yang bahkan membagi hatinya. Hanya tiga tipe pria yang dihindari Airin, tukang selingkuh, tukang pukul, dan tukang judi plus mabuk. Itu benar-benar tipe pria yang akan ia tinggalkan. Airin masuk ke mobilnya dan ia mendengar seseorang memanggilnya.
“Airin, kamu menginap di mana? Boleh aku mengajakmu jalan nanti malam?” Sam bertanya. Airin tersenyum tidak menjawabnya. Hanya menunjukkan cincin berlian yang menghiasi jari manisnya. Airin meninggalkan Sam yang terdiam.
__ADS_1
Ini hari kedua ia mematikan ponselnya. Akhirnya ia memutuskan untuk menghubungi Richie.
“Hai…” Airin baru saja akan menyapa sahabatnya itu dan seketika ia menjauhkan ponselnya karena suara yang menggelegar di seberang sana.
“Airin, kamu dimana? Sehat kan? Tega kamu ya, rencananya Aiden akan lapor polisi besok.” ternyata Aiden mencarinya. Hanya itu yang tertangkap oleh telinga Airin.
“Aku cuma ke Sentul kok. “ jawab Airin sambil berbaring di tempat tidur hotel.
“Aiden mencarimu Ai. Ia sudah seperti orang gila. Mungkin seminggu lagi ia masuk rumah sakit jiwa.” Richie menceritakan semua yang Aiden ceritakan padanya. Bagaimana Evelyn menjebaknya.
“Dan kamu percaya begitu saja Ric?” tanya Airin.
“Aku bisa melihat kejujuran di matanya Rin. Kembalilah. Selesaikan semuanya. Jangan takut. Apapun yang terjadi ingatlah bahwa masih ada aku.” Richie mencoba membujuk Airin.
“Aku butuh waktu sebentar lagi Ric. Tidak sekarang. Kamu boleh memberitahunya keberadaanku biar dia tidak jadi melapor ke polisi. Toh dia juga tidak tahu dimana aku tinggal.” Airin mengakhiri pembicaraan itu. Oh, sungguh dia sangat merindukan keluarganya. Airin hanya perlu memantapkan hatinya agar tidak menangis lagi dengan apapun yang terjadi kelak. Ia tidak mau lagi menjadi pihak yang lemah. Ia akan mempertahankan keluarganya mati-matian dan memberi pelajaran kepada Evelyn jika memang Aiden terbukti tidak bersalah. Dan Airin juga harus siap jika Aiden mengkhianati kepercayaannya. Tidak ada kesempatan kedua jika suaminya benar-benar berselingkuh.
Sementara Aiden yang mendengar kabar Airin dari Richie, langsung bergegas meninggalkan kantornya. Memberi tahu Valen untuk membatalkan semua pertemuannya karena ia tidak akan kembali ke kantor hari itu. Aiden tidak bisa lagi menunggu lebih lama untuk bertemu dengan istrinya. Dua hari tanpa berita dari Airin membuatnya gila. Ia juga tidak bisa fokus untuk mengurusi masalah Evelyn. Persetan dengannya. Ia akan mengurus wanita gila itu setelah ia menemukan Airin dan meyakinkannya bahwa semua yang ada di foto adalah permainan yang diatur oleh Evelyn dan suaminya yang bodoh ini terjebak.
*****
__ADS_1