Bukan Pelarian

Bukan Pelarian
BAB 24


__ADS_3

"Ric, kita jadi ga ke Flass bahas rundown acara? Budgetnya sudah fix kan." ucap Airin di ruangan berukuran 6x8 meter tersebut.


"Jadi. Jam 2 siang aja ya. Jam 12 nanti ada janji lunch sama Hannah." jawab Richie. Airin senang melihat sahabatnya yang mulai sangat dekat dengan Hannah. Richie sengaja menyebut janjinya dengan Hannah, berharap Airin cemburu. Harapan yang sebenarnya dia tahu tidak akan terwujud.


"Gimana hubunganmu dengan Aiden?" tanya Richie. Ia sudah menyiapkan perisai untuk pisau-pisau kecil yang sepertinya akan mulai menusuk hatinya.


"Lancar. Dia akan mengenalkanku ke orang tuanya." jawab Airin jujur. Ia sudah memutuskan tidak akan merahasiakan hubungannya dengan Aiden ke Richie.


'Whaaat?? Secepat itu?' pikir Richie. Hal seperti inilah yang dia akui kalah dari Aiden. Ia tidak akan pernah bisa melakukan itu jika tidak ingin melihat mamanya terkena penyakit jantung.


"Bagus deh Rin. Aku ikut senang." ucap Richie. Ia berjalan mendekati sofa tempat Airin duduk.


"Serius Rin, aku mendoakan yang terbaik untuk kebahagiaanmu." Richie melanjutkan sambil menggenggam tangan Airin.


"Permisi, Mba Airin, ada tamu." Karen mengetok pintu, dan muncul Aiden di belakangnya. Dan Aiden melihat tangan Richie yang dilepas oleh Airin.


"Siang Aiden." sapa Richie yang berdiri dari duduknya.


"Siang juga Richie. Boleh ga aku ajak Airin makan siang?" tanya Aiden tenang.

__ADS_1


"Oh, terserah Airin. Dia ga perlu izin dariku kok hahaha... Ini perusahaan dia juga. Malah aku yang perlu izin dari dia kalau kemana-mana." Richie mencoba mencairkan suasana.


Aiden berencana mengajak Airin makan siang di rumahnya.


"Aiden, tadi aku hanya..." Airin berkata sesampainya di dalam mobil.


"Ga apa-apa. Aku bukan anak kecil yang suka cemburu ga jelas kok. Kalau cuma pegang tangan gitu aku marah, nanti kita sering ributan donk. Aku percaya kamu Ai." jelas Aiden.


"Tapi ini bukan berarti kalau kamu boleh pegangan tangan sama cewek lain ya." Aiden tertawa mendengar itu dari mulut Airin. Ia menyukai kalau Airin cemburu.


Sesampainya di rumah Aiden, Mama Shinta sedang menyiapkan makan siang. Ia sudah diberi tahu bahwa Aiden akan memperkenalkan seseorang yang akan menjadi calon istrinya. Tentu saja Aiden sudah menjelaskan status Airin untuk mempermudah pembicaraan mereka nanti.


"Pa, kenalin ini Airin." Aiden mengenalkan mereka.


"Siang Om." sapa Airin.


"Siang Airin, silahkan duduk. Mama Aiden lagi siapin makanan." ujar papa Aiden. Sepertinya beliau cukup ramah. Umur 60an tetapi masih terlihat gagah. Uban di rambutnya pun hanya sedikit.


Airin duduk, sambil menyapa Darren.

__ADS_1


"Vely mana Tante?" tanya Darren. Aiden dan papanya kaget mendengar pertanyaan Darren. Tidak biasanya Darren bertanya tentang sesuatu yang tidak urgent. Biasanya hanya menjawab, itupun singkat.


"Vely di rumah sayang, Tante tadi dari kantor langsung kesini." Airin mengusap rambut Darren. Ia merasa Darren sangat kesepian tanpa sosok ibu di hidupnya sedari bayi.


"Eeh.. Temannya Aiden sudah datang." mama Shinta keluar.


"Iya Tante." Airin mengulurkan tangannya ingin bersalaman, namun malah disambut pelukan hangat.


"Panggil mama saja sayang." ucap mama Shinta menatap Airin sambil tersenyum. Mendadak ekspresinya berubah.


"Kamu.. yang di parkiran kan." ingatnya.


"Oooh Tante ya.. yang pakai kaca mata hitam kan." Airin teringat sekarang. Untung saja itu kejadian yang baik. Kalau jelek, habislah dia, pikir Airin. Mereka lanjut mengobrol di meja makan.


"Lain kali ke sini ajak Vely ya, mama mau ketemu. Maklum, dari dulu isi rumah ini cowoook semua. Mama bosen hahaha... Adik Aiden juga cowok, tapi pulangnya seminggu sekali." mama Shinta sangat bersemangat bertemu calon menantunya.


"Kita saja Ma yang kesana. Sekalian ketemu mamanya Airin." ajak papa Aiden.


"Papa...That's why I love you so much." mama Shinta mengecup papa Aiden dari jauh. Begitulah orang tua Aiden. Mungkin sikap hangat Aiden menurun dari orang tuanya. Suasana makan siang berlangsung lancar. Airin merasa bersyukur. Ia memang mengharapkan keluarga yang bisa menerimanya dan Vely sepenuh hati. Ia lelah menjalani drama kehidupan.

__ADS_1


__ADS_2