
Richie mengajak Hannah makan malam di sebuah restoran. Richie terlihat tampan seperti biasanya. Jaket jeans dipadu dengan celana ripped jeans membuatnya seperti remaja berumur 20 tahun. Hannah mulai mengubah penampilannya sejak ia dekat dengan Richie. Dulu ia pasti akan berdandan totally jika akan keluar rumah, tuntutan pekerjaan. Ia tidak pernah tahu kapan wartawan akan datang mewawancarainya. Sekarang Hannah terlihat seperti remaja pada umumnya. Umurnya yang 21 tahun membuatnya tampak seperti 17 tahun. Dan ia menyukai penampilannya yang sekarang. Richie mengubahnya menjadi lebih baik, pikirnya.
"Hannah, aku ingin membicarakan sesuatu." ucap Richie setelah ia dan Hannah menyelesaikan makan malam mereka.
Dag..dig..dug..This is the time. Hannah berharap dalam hati.
"Maaf, untuk saat ini aku masih menyukai orang lain. Bukannya aku tidak menyukaimu, semua orang pasti dengan mudah menyukaimu. You are amazing. Tapi perasaan aku untuknya sudah terlalu dalam, sulit bagiku untuk melupakannya." Richie berkata pelan, mencoba memilih kata-kata yang tepat agar tidak melukai Hannah.
"She is Airin, right?" tebak Hannah, dan itu berhasil membungkam Richie yang sebenarnya sudah mempersiapkan kalimat selanjutnya.
"Diam kamu menjawab itu semua Richie." lanjut Hannah.
"Iya, kamu benar." Richie tersenyum pilu.
__ADS_1
"Perasaan untuknya hampir bertahan 10 tahun Han. Aku bisa saja pacaran denganmu atau jalan dengan cewek lain. Tapi kamu terlalu baik untuk dibohongi, maksudku...setidaknya aku harus jujur tentang perasaanku." lanjut Richie.
"Tapi kita melihatnya dengan Pak Aiden kemarin. Apakah mereka..." Hannah tidak melanjutkan kalimatnya. Tapi Richie tahu maksud Hannah.
"Ya kamu benar. Aku mendengar dari Vina, sahabatku dan Airin, mereka sudah jadian. Aku baru mengetahui bahwa Aiden seorang duda. Aku lama di luar negeri, tidak tahu dengan gosip di Indonesia, ternyata Airin juga tidak tahu tentang itu."
"Airin tahu kamu mencintainya?" tanya Hannah.
"Dia tahu, dua atau tiga minggu lalu aku mengatakan padanya. Dan aku ditolak. Dia tidak bisa menganggap aku lebih dari seorang teman." Richie sedih mengingat kejadian itu.
"Dia sayang kamu kok Ric, tapi ya mungkin sebatas sahabat." Hannah melihat kesedihan di mata Richie. Hannah bingung mau ngomong apa. Dia kecewa pastinya. Tapi dia bahagia Richie sudah jujur tentang perasaannya. Setidaknya apa yang akan dijalaninya dengan Richie nanti bukanlah hubungan dengan kepalsuan.
"Hannah, sekarang aku sedang berusaha untuk melepaskan Airin. Aku ga mau dia terbebani dengan perasaaanku. Kuharap kamu tidak keberatan dengan itu." Hannah mencoba mencerna apa yang Richie ucapkan. Tapi dia tetap tidak menemukan jawabannya.
__ADS_1
"Maksudku, boleh ga aku tetap mendekatimu setelah kamu mendengar semua ini." Richie menjelaskan lebih lanjut.
Hannah terkejut. Takut ia hanya dijadikan pelampiasan kekecewaan Richie, sebagai pelarian Richie, tapi Hannah tidak mau kehilangan kesempatan untuk mendapatkan Richie. Dasar bucin akut, hanya butuh tiga detik untuk Hannah mengangguk. Ia tersenyum hangat ke Richie. Berharap senyumannya bisa merebut hati Richie.
"Makasih ya Han. Aku akan berusaha yang terbaik, kuharap kamu bisa mengerti jika ini semua butuh waktu." Richie memegang tangan Hannah. Hannah menyukainya, sungguh menyukai Richie. Entah penampilannya, sikap, gaya bicara. Pokoknya semua hal tentang Richie. Dan Hannah juga bertekad, bukan hanya Richie yang berusaha, ia pun akan berusaha mati-matian untuk memenangkan hati Richie. Suatu hari. Pasti.
*****
Richie guys... Kok author merasa lebih pro ke Richie ya hahaha...
__ADS_1