Bukan Pelarian

Bukan Pelarian
BAB 30


__ADS_3

Semenjak kedatangan Evelyn, hari-hari Aiden tidak pernah tenang. Padahal besok ia akan ke rumah Airin. Orang tuanya memutuskan akan langsung melamar Airin. Aiden yang meyakinkan mereka, ia pun sudah memberi tahu Airin. Tidak ada kejutan lamaran di tengah-tengah keramaian seperti di film-film. Aiden hanya menyampaikan niat tulusnya untuk lebih cepat memperkuat ikatan mereka.


Aiden menyerahkan permasalahan Evelyn ke pengacaranya. Ia tidak mau berhubungan langsung dengan Evelyn untuk menjaga perasaan Airin. Evelyn boleh bertemu Darren di hari Minggu, setelah Aiden melamar Airin. Tentu saja Evelyn tidak mengetahui perihal lamaran tersebut.


Tampak mama Rianti sedang menyiapkan makan siang yang beberapa dibeli oleh Airin. Ia tidak mau mamanya terlalu capek memasak. Airin pun menyiapkan beberapa kudapan manis yang dibeli di toko kue langganannya. Sekitar pukul 11 siang, keluarga Aiden datang, termasuk Darren dan DK. DK berumur sekitar 22 tahun, sedang mengejar S2 di Universitas Indonesia jurusan bisnis internasional. Ia percaya pendidikan di Indonesia tidak kalah dibandingkan luar negeri. Parasnya cukup tampan, tingginya hanya beberapa cm di bawah Aiden. Orang tua Aiden membawa dua kotak kue. Aiden membawa sebuket bunga mawar merah. DK membawa dua botol wine yang diikat pita merah. Sedangkan Darren membawa permen lolipop dan sebatang coklat untuk Vely.


Mama Rianti, Airin, dan Vely keluar untuk menyambut mereka. Setelah menyapa, Vely mengajak Darren main di kamarnya.


"Ibu Rianti pasti sudah mendengar maksud kedatangan kami kemari." papa Aiden berucap. Rianti mengangguk sambil tersenyum.


"Tapi izinkan saya menyampaikan lagi niat kami melamar Airin menjadi menantu untuk Aiden anak kami. Tapi seperti yang Ibu Rianti ketahui, Aiden telah memiliki Darren. Saya harap Ibu tidak keberatan tentang itu." lanjut papa Aiden dengan sopan. Rianti senang Airin mendapatkan calon mertua seperti mereka. Tidak semua orang kaya memiliki kerendahan hati seperti mereka.


"Saya terima niat baik Bapak, Ibu, dan juga Aiden. Saya tidak keberatan sama sekali mengenai Darren, dan Airin pun juga begitu. Dan melihat niat baik kalian ke sini, saya menganggap kalian juga tidak keberatan dengan adanya Vely."


"Tentu saja tidak Bu Rianti. Vely cantik sekali, sungguh menggemaskan membayangkan dia dan Darren berlari-lari di dalam rumah kami." mama Shinta berkata penuh semangat.


"Jadi kapan mereka akan menikah?" lanjut Shinta. Pertanyaan itu membuat Aiden dan Airin saling bertukar pandang, seakan saling menunggu jawaban masing-masing. Akhirnya Airin menjawab.

__ADS_1


"Kami belum membicarakan hal itu Ma." ucapnya ke Shinta. Aiden pun ingin menjawab, tapi kalah cepat oleh mamanya.


"Jangan lama-lama. Niat baik harus disegerakan. Bagaimana dengan bulan depan? Nanti mama bantu atur." pertanyaan Shinta seperti sebuah pernyataan yang sulit untuk dibantah.


"Kami tidak ingin mengundang banyak Ma." Airin memandang Aiden seakan meminta bantuannya.


"Ga banyak kok sayang, palingan hanya seribu undangan." jawaban Shinta membuat Airin membulatkan matanya, Aiden hanya tersenyum melihat kelakuan mamanya.


*****


"Kamu lupa besok ada pameran Chris?" Airin mengingatkan.


"Astagaa.. aku kira minggu depan. Ai..tolonglah, bilang sama Richie." mohon Aiden.


"Ga bisa donk Aiden. Apalagi dadakan gini, kami ga ada back up personil. Sudahlah, aku percaya dengan kamu, cuma dua jam kan?"


"Iya, dua jam." Aiden mengalah. Ia tidak mungkin memaksa Airin untuk bersikap tidak profesional dalam pekerjaannya.

__ADS_1


"Sudah ngomong sama Darren? Reaksinya gimana?" tanya Airin.


"Sudah, aku bilang mamanya yang lama mau ketemu. Tapi cuma bisa dua jam. Dan aku juga bilang, nanti mama Evelyn tidak bisa tinggal sama kita karena mama Evelyn sudah punya keluarga sendiri. Ya gitu lah Ai kira-kira..aku juga bingung dengan apa yang aku ngomong. Mungkin pelan-pelan Darren bisa mengerti sendiri. Bentar lagi kan kita nikah. Kamu tidak keberatan seribu undangan?" tanya Aiden.


"Emang boleh aku keberatan?" Airin balik bertanya.


"Ya boleh donk, ini kan pernikahan kita. Mama hanya terlalu bersemangat punya menantu baru."


"Bukannya aku keberatan Ai. Aku takut keluarga kamu malu kalau tahu menantunya sudah punya anak satu."


"Mulai deh..kita kan sudah janji tidak akan membahas hal seperti ini. Percayalah, keluarga besar aku semuanya berpikiran modern. Apalagi ini menantu papa, tidak bakal ada yang berani ngomongin kita. Ok?" Aiden meyakinkan Airin.


Aiden sulit untuk tidur. Pertemuan Darren dan Evelyn besok membuatnya cemas. Ia hanya takut Evelyn berbicara di luar batas. Besok pagi ia harus mengingatkan Evelyn beberapa hal sebelum dia bertemu Darren. Mereka janjian di sebuah restoran. Aiden tidak ingin Evelyn datang ke rumahnya karena ia belum memberi tahu masalah ini pada orang tuanya. Aiden sebenarnya tidak menyangka Evelyn akan pulang, apalagi di saat ia sedang berpacaran dengan Airin. Mungkin inilah alasan Aiden ingin mempercepat pernikahannya dengan Airin, agar tidak ada yang mengganggu keluarganya lagi.


*****


PS: Mohon dukungan like nya ya Readers jika kalian suka dan comment jika ada saran ataupun kesan dalam novel ini. Biar Author semangat...^^

__ADS_1


__ADS_2