
Seorang wanita cantik memasuki kantor Xander's Group. Ia mendekati meja Valen. Valen melihatnya dari ujung rambutnya yang berwarna coklat gelap, berkaca mata hitam, dress hitam selutut bertangan panjang yang ketat membungkus tubuhnya yang indah, hingga ke ujung kakinya yang memakai high heels merah. Sepertinya Valen pernah melihatnya di majalah.
"Bisa dibantu, Bu?" tanya Valen sambil berdiri.
"Saya mau bertemu Pak Aiden. Dia ada kan?" ujar wanita itu.
"Ada, tapi saya lapor sebentar ya Bu. Maaf dengan Ibu siapa?" tanya Valen.
"Evelyn." jawabnya.
Pintu ruangan dibuka Valen, mempersilahkan wanita itu masuk ke ruangan Aiden.
"Hai Aiden, aku kira kamu tidak mau menemuiku." Evelyn melepas kaca matanya menatap pria yang pernah dicintainya, atau bahkan masih dicintainya.
"Untuk apa aku menghindarimu. Kamu pasti akan menemukanku jika dilihat dari sifatmu itu. Ada perlu apa?" tanya Aiden dengan suara rendahnya.
"Maaf Aiden. Aku baru bisa pulang sekarang, aku memiliki kontrak yang....." Evelyn mencoba menjelaskan sebelum kalimatnya dipotong Aiden.
"Maaf juga, namun aku tidak peduli dengan penjelasanmu Evelyn. Katakan, mau apa kamu kemari?" Aiden berkata tegas.
"Aku ingin meminta izinmu untuk bertemu Darren." ungkap Evelyn.
__ADS_1
"Apa hakmu meminta itu?" Aiden menahan amarahnya mendengar jawaban itu.
"I'm his mom... Apa perlu itu dipertanyakan?" suara Evelyn terdengar bergetar.
"Dan kamu sudah meninggalkan semuanya enam tahun lalu. Bukan aku yang merenggutnya darimu. Tapi kamu yang membuangnya." Aiden berteriak tanpa bisa menahannya lagi.
"Tapi aku sudah memberitahumu sejak awal, aku akan kembali untuk kalian." tangis Evelyn pecah.
"Waktu yang aku berikan sudah habis tiga tahun lalu. Apakah kau ingat? Aku memberimu waktu tiga tahun untuk mencapai impianmu, untuk kembali. Tapi apa yang kamu lakukan? Kamu hanya mengirim mainan untuk Darren? God damn it!!!"
"Maaf aku salah Aiden, waktu itu aku tidak bisa meninggalkan konser keliling Eropa. Itu memang salahku."
"Aiden, maafkan aku, aku masih sangat mencintaimu sayang." Evelyn menghambur memeluk Aiden dari belakang.
Tok..tok..tok..
"Ai, aku bawain makan siang nih." Airin masuk ke ruangan itu dan menyaksikan pemandangan yang menyesakkan itu. Aiden terkejut dan menghempaskan tangan Evelyn yang melingkar di tubuhnya.
"Maaf, aku tidak tahu ada tamu. Valen ga ada di luar, jadi aku... Maaf." Airin keluar dan menutup kembali pintu itu. Terdengar panggilan Aiden di belakangnya. Aiden keluar tentu saja, mengejar Airin.
"Maaf Ai, nanti aku jelasin siapa dia. Kamu percaya aku kan?" Aiden melihat kemarahan di mata Airin.
__ADS_1
'Wajar saja Airin marah. Ia melihat Evelyn memelukku. Kenapa Airin tidak datang saat aku memaki Evelyn. ****!!' kesal Aiden.
"Kamu jangan pergi dulu ya, aku tidak mau masalah ini mengganggu kita. Ikut aku masuk." Aiden menarik tangan Airin. Airin menurutinya, ia juga tipe wanita yang tidak suka menggantung masalah.
"Dia..Evelyn, mantan istriku." Aiden menunjuk Evelyn.
"Ini Airin, calon istriku." Aiden memeluk pinggang Airin untuk dilihat oleh Evelyn, bahwa ia sudah melupakannya.
"Hai, aku Evelyn, mantan istri Aiden, dan ibu kandung Darren." Evelyn masih terlihat sangat percaya diri di posisinya sekarang.
"Maaf, aku harus pergi. Aiden, tolong atur jadwal pertemuanku dengan Darren. Hal ini ada di keputusan pengadilan dulu kan. Bye." Evelyn memegang pundak Aiden dan keluar dari ruangan itu tanpa melihat ke arah Airin sedikitpun.
Airin menatap Aiden seakan meminta penjelasan lebih lanjut dari calon suaminya itu.
__ADS_1