Bukan Pelarian

Bukan Pelarian
BAB 34


__ADS_3

"Aku pengen mandi dulu Ai. Kamu ga lihat rambut aku kayak nenek lampir?" Mereka berdua tertawa melihat rambut Airin yang mengembang karena sasakan.  Setelah mereka mandi secara bergantian, Aiden menghampiri Airin yang baru selesai menelepon mamanya menanyakan kabar Darren dan Vely.


"Mereka sudah tidur Ai?" tanya Aiden sambil bergabung ke dalam selimut Airin.


"Sudah. Aku juga sudah bilang dengan mama, anak-anak libur tiga hari. Sudah izin dengan sekolah." jawabnya. Airin bersiap, seakan tahu Aiden akan menyerangnya. Aiden mencium kening Airin.


"Aku mencintaimu, Ai." ucap Aiden.


"Aku juga mencintaimu." bibir Airin dikunci oleh bibir Aiden. Tidak ada lagi rasa malu dan batas untuk melakukannya. Aiden mencium dan merasakan semua milik Airin yang sudah sangat lama didambakannya. Sudah lama sekali mereka berdua tidak merasakan bercinta. Aiden bukan tipe pria yang akan tidur dengan sembarangan wanita tanpa cinta. Begitupun Airin, hanya Nathan yang pernah merasakan miliknya. Dan sekarang ia menyerahkannya untuk Aiden, pria yang dicintainya. Aiden merasakan milik Airin menegang, Airin agak merasa perih karena sudah sangat lama ia tidak melakukannya.


"Maaf...Aku pelan-pelan ya, Ai." bisik Aiden sambil mencium leher Airin. Setelah pergumulan yang panas, Aiden menyelesaikan semuanya. Napasnya terengah-engah, begitupun Airin.


"Makasih sayang." Aiden mengecup kening Airin yang masih berada di bawahnya. Wajah Airin terlihat merona, sangat jelas di bawah sinar lampu yang masih menyala terang di kamar mereka. Akhirnya mereka tertidur karena lelah. Malam pertama mereka yang seakan benar-benar menjadi yang "pertama" setelah penantian yang cukup panjang.

__ADS_1


*****


"Ai, sekali lagi yuk..Nanti kalau sudah pulang ke rumah pasti kamu sibuk sama anak-anak." Aiden memeluk tubuh Airin yang masih terbaring membelakanginya. Ia sadar cinta Airin harus terbagi tiga.


"Mmmh...ngantuk Ai." Airin belum mau bangun. Ia masih lelah.


"Ya sudah, tidurlah lagi." Aiden mengambil hp nya ingin bermain game.


"Jadi ga?" Airin membalik badannya.


"Aku susah tidur lagi kalau sudah bangun, apalagi kalau matahari sudah terang." jawab Airin sambil mengucek matanya.


"Maaf ya..aku ga tau." Aiden merasa bersalah namun hanya satu detik. Detik berikutnya ia sudah bersiap untuk menikmati lagi indahnya bercinta dengan istrinya.

__ADS_1


Mereka bersiap untuk kembali ke rumah Aiden. Mama Rianti pun menginap di sana. Rencananya hari ini mereka dan anak-anak akan mengantar mama Rianti ke Bandung sekalian liburan dua hari.


Darren terlihat lebih ceria bersama Vely. Sepanjang perjalanan ke Bandung Vely tidak berhenti bersuara,kecuali saat dia tidur. Mereka membawa sedikit oleh-oleh untuk Om Teddy. Rumah Om Teddy tidak terlalu besar, namun cukup nyaman. Anak-anaknya berada di Sumatera, bekerja. Hanya ada Om Teddy dan istrinya yang tinggal di rumah itu. Rianti cukup akrab dengan iparnya, makanya ia menerima tawaran untuk tinggal di sana. Setelah mereka mampir sejam, Vely mengeluh bosan ingin ke kebun binatang.


"Jalanlah Rin, nanti kemalaman sampai sana." Rianti berkata ke Airin. Airin memeluk mamanya, menangis sedih. Ia tidak pernah berpisah dengan mamanya, setidaknya selama empat tahun ini.


"Mama jaga kesehatan ya, kasih tau Airin kalau ada apa-apa. Kalau mama mau ke rumah Airin kasih tau, kalau ga Airin yang kesini juga boleh." pesan Airin. Mama Rianti merasa lebih berat lagi untuk berpisah dengan Vely. Vely yang tidak terlalu mengerti hanya berlari-lari dengan Darren di halaman depan. Aiden pun memeluk Rianti berpamitan.Aiden dan Airin berencana untuk mengajak anak-anak ke Taman Safari Bogor dan menginap di Puncak dua malam. Rekreasi pertama mereka sebagai keluarga.


Aiden membaca pesan chat di hp nya. Evelyn. "Kenapa minggu ini aku tidak bisa bertemu anakku?" Aiden mengabaikan pesan itu. Ia tidak ingin waktu bersama keluarganya terganggu karena Evelyn. Ia mematikan suara notifikasi hp nya. Evelyn marah membanting hp nya setelah teleponnya tidak diangkat-angkat oleh Aiden.


'Awas kamu Airin!! Aiden dan Darren milikku. Tidak akan kuizinkan siapa saja merebutnya dariku." Evelyn berteriak di dalam apartemen tempat tinggalnya.


*****

__ADS_1


 


 


__ADS_2