Bukan Pelarian

Bukan Pelarian
BAB 28


__ADS_3

Aiden menyantap makan siang yang dibawa Airin dengan lahap. Satu set bento makanan Jepang. Airin menatapnya bingung. Entah settingan atau memang kelaparan. Bisa-bisanya Aiden makan di saat seperti ini.


Kruuk..bunyi perut siapa tu? Aiden menoleh ke Airin.


"Kamu belum makan Ai?" tanya Aiden.


"Ga laper." Airin ketus. Aiden tahu sifat wanita yang seperti ini. "Iya" namun berkata "Tidak". 90 persen wanita melakukan itu jika sedang marah.


"Makan yuk." Aiden menyumpit sebuah sushi dan menyuap Airin. Airin menghindar. 'Ya, memang begini, harus dibujuk 2-3 kali.' Aiden tersenyum dalam hati seolah mengerti semuanya.


"Ayolah Ai, nanti kamu sakit. Aku juga ga mau makan kalau kamu ga makan." ancam Aiden.

__ADS_1


"Janji ya abis makan kamu ceritain semuanya." Airin membuka mulutnya setelah Aiden mengangguk.


Airin harus kembali ke RAF sebelum Aiden bercerita. Ada urusan mendadak yang harus diselesaikan. Aiden sangat menyesalkan hal itu. Ia sebenarnya ingin menceritakan semuanya agar tidak terjadi kesalahpahaman antara dirinya dan Airin. Sepeninggal Airin, Aiden langsung menghubungi pengacara yang mengurus perceraiannya dulu dengan Evelyn.


Airin pulang ke RAF dengan pikiran yang berjamur di kepalanya. Tetapi dia berusaha tetap profesional dalam bekerja. Ia masih mampu memimpin meeting dengan tim nya. Mereka akan menghandle acara pameran produk elektronik milik Chris hari Minggu ini. Dan Sabtu, tiga hari lagi, orang tua Aiden akan datang menemui mama Rianti. Kepala Airin seakan berdenyut kencang. Harusnya dia merasa excited dengan semua ini. Gara-gara kejadian tadi siang, ia merasa kurang bersemangat. Jam dinding sudah menunjukkan pukul 7 malam. Airin sendirian di kantor. Hari ini Richie seharian tidak ke RAF karena mengurusi perusahaan papanya. Pintu lantai 1 sudah ia kunci. Airin di ruang kerjanya di lantai 2 untuk mengurusi semua final rundown. Bunyi dentingan hp nya berbunyi setiap 2 menit, kira-kira. Ia mengabaikan pesan-pesan Aiden. Bukan karena marah, tapi karena sibuk. Airin ingin cepat pulang. Kepalanya sakit. Airin bukan tipe wanita yang suka berlama-lama marah akan suatu hal. Ia merasa itu hanya buang-buang waktu. Ia memang cemburu melihat adegan tadi siang. Tapi ia percaya Aiden, ia dipeluk, bukan memeluk. That's the point.


Akhirnya.... Airin bisa mematikan laptop nya. Ia bersiap untuk pulang. Mematikan semua peralatan listrik. Berlari kecil menuruni tangga, dan Airin tidak melihat anak tangga terakhir.


"Richie..kamu ngapain kesini?" Airin berteriak lega.


"Kok kaget gitu Rin? Kayak ngeliat hantu. Lagian ngapain kamu nenteng sepatu?" tanya Richie.

__ADS_1


"Kamu belum jawab, ngapain kesini malam-malam?" mereka hanya saling balik bertanya.


"Tadi aku telepon Karen, chat kamu ga balas-balas. Dia bilang kamu lembur. Aku iseng aja lewat sini. Sudah mau pulang?" jelas Richie.


"Iya, ini mau keluar." Airin berjalan sambil berjinjit menenteng sepatu heels nya.


"Lah, kakimu kenapa Rin?" Richie refleks membantu Airin berjalan keluar kantor. Menutup pintu dan rolling doornya.


"Keseleo aja tadi. Ga terlalu sakitlah. Santai." ucap Airin sambil tersenyum. Ia malu mengakui dirinya jatuh dari tangga. Malunya melebihi sakit di kakinya.


"Emang kamu bisa nyetir? Aku antar pulang ya. Mobil tinggal sini aja, ada Bang Amir juga jaga parkir." tawar Richie.

__ADS_1


"Biar aku saja yang antar Airin pulang." Aiden muncul entah dari mana membuat Airin dan Richie terkejut.


__ADS_2