Bukan Pelarian

Bukan Pelarian
BAB 9


__ADS_3

Sesampainya di tempat parkir mobil mereka. Vely berteriak.


"Om Richie." Vely memeluk kaki Richie seolah mereka lama tidak bertemu.


"Vely, om kangen banget." Richie menggendong Vely.


"Hai Rin, Pak Aiden. Kok bisa bareng?" Richie sedikit terkejut dengan pertemuan yang tidak disengaja itu.


"Ooo.. Vely dan anaknya Aiden satu sekolah. Kebetulan hari ini ada lomba nyanyi." jelas Airin.


"Om, Vely juara 2 lho. Dapat piala lagi, hebat kan." ujar Vely bersemangat.


Richie tidak terlalu mendengar ocehan Vely. Dia sedang mencerna kalimat Airin tadi. What? Aiden? Sejak kapan Airin memanggilnya begitu?


"Om Richie kapan mau ajak Vely main ke PlayZone lagi?" sambung Vely.


"Sekarang boleh." jawab Richie sambil mencolek hidung Vely.


"Horeee...Kak Darren ikut yuk." ajak Vely.

__ADS_1


"Kak Darren ga bisa hari ini Vely, ada les piano bentar lagi. Om juga harus balik ke kantor. Lain kali ya. Kami duluan ya Airin, Richie. Bye Vely." kata Aiden.


"Bye Kak Darren." Vely dan Darren saling melambaikan tangan.


"Ok Aiden, see you tomorrow ya." Airin melambaikan tangan ke Darren juga.


Dari dalam mobilnya, Aiden merasa sedikit sesak melihat pemandangan di depannya. Vely yang tertawa digendong Richie. Airin yang juga tertawa lepas.


'It's just the beginning. Hanya beberapa langkah tertinggal dan masih bisa kukejar.' batin Aiden.


Mereka bertiga sampai di PlayZone. Richie mengisi saldo kartunya 300 ribu untuk Vely bermain. Airin dan Richie mengikuti Vely yang sibuk mencoba beberapa permainan yang seluruhnya menggunakan mesin tersebut. Tiba-tiba ada anak yang bermain skuter hampir menabrak Airin jika saja Richie tidak langsung menarik Airin dalam pelukannya. Airin terdiam beberapa saat mencoba mencerna apa yang terjadi. Sedangkan Richie, jangan ditanya, jantungnya dag dig dug tidak beraturan.


"Ciee..ciee..mama ma om Richie pelukan." suara Vely yang cempreng itu membuat mereka saling lepas.


Sebenarnya Richie, Airin, dan Vina cukup akrab sewaktu SMA, dan sejak itu pula Richie menyukai Airin. Ia juga merasa Airin memiliki perasaan yang sama. Namun mereka tidak pernah saling mengakui itu. Hingga akhirnya ketika hari terakhir mereka di sekolah, Richie mengungkapkan perasaannya. Sayangnya, karena Richie harus lanjut kuliah ke Amerika, Airin tidak bisa menerima Richie. Airin tidak percaya dengan hubungan jarak jauh. Lingkungan mempengaruhi semuanya, menurut Airin. Tiga tahun kemudian, ketika Richie kembali ke Indonesia dan menemui Airin, ternyata Airin sudah menikah. Richie menerima semuanya dengan ikhlas. Lalu ia melanjutkan kuliah S2 nya kembali ke Amerika. Betapa terkejutnya Richie ketika ia mendengar dari Vina bahwa suami Airin meninggal dalam kecelakaan mobil dua tahun kemudian.


Dan Richie seperti menemukan alasannya untuk kembali ke Indonesia.


Yang mereka bertiga tidak ketahui adalah sepasang mata yang melihat pemandangan yang menurut dia sangat tidak mengenakkan.

__ADS_1


"Richie, mama sudah izinin kamu buka RAF dengan Airin. Ya cukup sampai sana saja. Jangan merambat kemana-manalah. Kan ga enak mama lagi jalan ma teman-teman mama, terus ngeliat kamu gendong anak gitu. Ampe bingung mama jawab pertanyaan mereka." nada mama Desy Andirawan meninggi.


"Mama kan tahu Richie memang dekat dengan Airin dan Vely. Kami cuma main aja kok di sana. Ga usah pikirin omongan orang lah. Mama bilang aja itu cucu mama. Beres."


"Enak aja cucu cucu...kamu kawin aja belum."


"Jadi mama restuin nih?"


"Restuin apa? sama Airin?" mama Desy balik bertanya.


"Iyalah, Ma." tegas Richie.


"Ya ga lah. Bukan mama ga hargain Airin ya Richie. Sebagai sama-sama wanita, mama kasian dan kagum sama Airin. Dia hebat, kuat. Cuma tolong kamu ngertiin mama. Masih banyak yang bisa kamu jadiin istri. Kenapa harus Airin?" suara mama Desy sedikit melunak.


"Mama yang ga bisa ngertiin Richie. Sudahlah ma, we'll talk about this later. Richie mau ke kamar dulu." Richie mencium pipi mama Desy sekilas.


Richie termenung di kamarnya. Dia sangat sadar dia telah jatuh cinta dengan Airin, jauh lebih dalam dari waktu sekolah dulu. Hanya saja dia tidak tahu bagaimana harus memulai. Cinta adalah hal yang sederhana. Tapi menyatukan dua cinta itu yang menjadikannya rumit. Richie tahu Airin sangat menjaga jaraknya. Entah karena statusnya yang janda, ataupun takut dengan keluarga besar Richie.


'Ah, kalau saja aku yang duda, pasti mama seneng banget punya menantu kayak Airin.' batin Richie berharap.

__ADS_1


 


 


__ADS_2