Bukan Pelarian

Bukan Pelarian
BAB 38


__ADS_3

"Richie, acara Minggu sudah fix ya.. Aku harus memberi tahu Aiden aku tidak bisa ikut ke pertemuannya dengan Evelyn." Airin sedang sibuk di kantornya.


"Iya, jam 7 pagi sudah harus standby. Besok biar aku saja yang ke sini, kamu bisa cuti. Jadi bisa libur dua hari, Jumat Sabtu. Lumayan kan?" Richie berujar.


"You're my best partner." Airin tersenyum.


"So..Apakah wanita yang bernama Evelyn itu sudah menikah?" tanya Richie penasaran.


"Setauku belum." Airin menebak karena Aiden tidak pernah menyebutnya.


"Kamu tidak takut Rin?" Airin tahu maksud pertanyaan Richie.


"Sedikit.. Tapi kepercayaan aku ke Aiden lebih besar dari itu." Airin menjawab mantap.


"Iya, kamu harus percaya dengan suamimu. Aku bisa melihat dia sangat mencintaimu. Jangan bertindak bodoh gara-gara wanita lain." Richie menasihati Airin. Sebulan ini Airin lebih sering curhat dengan Richie. Vina pindah ke kota lain karena suaminya pindah tugas. Sebenarnya Airin tidak ingin cerita terlalu intens mengenai keluarganya, hanya saja melihat hubungan Richie dan Hannah yang semakin dekat, Airin merasa Richie sudah dapat menerimanya sebagai seorang sahabat. Ada beberapa hal yang tidak bisa kita ceritakan semua dengan pasangan kita. Terkadang kita perlu pemikiran logis seorang teman, but not from toxic friend.


Aiden pun mengambil cuti di hari Jumat. Ia ingin menghabiskan waktu berdua dengan Airin di saat anak-anak sedang sekolah. Ternyata waktu kencan diperpanjang sehingga Aiden meminta mama Shinta untuk menjaga anak-anak. Aiden belum merasakan bulan madu berdua dengan Airin. Hari Jumat siang mereka pergi ke bioskop. Hal simple seperti membeli pop corn dan soft drink, bergandengan selama nonton, hingga berciuman di tengah film. Mereka merasa seperti orang pacaran pada umumnya. Aiden terlalu cepat menikahi Airin tanpa merasakan indahnya pacaran. Dua hari ini, Aiden akan menebusnya. Honey moon di dalam kota. Untuk selanjutnya ia berjanji akan mengajak Airin ke tempat yang lebih indah, boleh berdua, boleh mengajak anak-anak. Apapun yang Airin inginkan. Aiden hanya ingin Airin bahagia. Mudah-mudahan akan terwujud secepatnya, setelah satu per satu masalah selesai. Aiden akan cuti, dan memaksa Richie memberikan cuti untuk Airin. Yang paling penting adalah menunggu jadwal libur sekolah anak-anak. Maklumlah, mereka bukan pasangan single.


Akhirnya Aiden dan Airin memutuskan makan malam ke restoran di hotel atas bukit tempat Aiden pernah menyatakan keseriusannya dengan Airin. Mereka sekalian berencana untuk menginap semalam di sana.


"Ai, nanti ga enak sama mama, ngerepotin nanti minta mama jaga anak-anak." Airin sebenarnya tidak setuju akan rencana itu.


"Tenang saja, mama senang kok, malah besok mama mau ajak mereka ke mall."


"Kita bisa senang-senang semalaman." bisik Aiden di telinga Airin.


"Ga bawa baju Ai. Nanti mereka kira kita pasangan mesum." Airin takut mengikuti Aiden ke bagian resepsionis.


"Kan ada foto nikah kita. Tenang aja. Takut amat Ai. Lagian siapa yang bilang kita butuh baju malam ini." Aiden meringis ketika pinggangnya dicubit Airin. Mereka memesan kamar VIP agar lebih terasa suasana bulan madunya. Di kamar itu mereka bisa melihat suasana malam kota dari atas bukit. Kamar itu juga dilengkapi dengan jacuzzi whirpool. Aiden ingin mencobanya nanti. Berendam di sana dengan Airin pasti sangat menyenangkan.


"Ai, berendam air panas yuk." Aiden memeluk Airin dari belakang dan mencium leher Airin.


Airin membalikkan badannya, "Aku mencintaimu suamiku, Aiden Leo Alexander."


Aiden terkejut, tidak biasanya Airin mengatakan cinta duluan. Ia membuka pakaian istrinya helai per helai, kemudian menggendongnya masuk ke dalam jacuzzi. Malam yang panas tanpa gangguan bagi mereka berdua.

__ADS_1


*****


Evelyn sangat senang melihat Airin tidak ikut Aiden dan Darren.  Airin harus mengurusi acara yang dihandle RAF. Hanya saja Vely kecil ikut mereka. 'Ah, musuh kecil yang gampang dihadapi,' pikirnya. Mereka akan menonton film kartun di bioskop, Aiden tidak ingin ikut menonton. Biar saja Evelyn dan Darren yang masuk, ia dan Vely akan berjalan-jalan. Namun Vely merengek ingin ikut nonton dengan Darren. Jadilah mereka nonton berempat, dengan susunan duduk dari kiri ke kanan, Aiden, Vely, Darren, dan Evelyn. Vely yang mengaturnya, 'good job Vel'. Aiden menyukainya. Evelyn terlihat sangat tidak menyukai ide itu.


Selesai menonton, mereka berniat pulang. Evelyn berniat nebeng ke satu mall yang sejalan dengan arah rumah Aiden. Mobilnya sedang di bengkel. Evelyn membuka pintu depan penumpang, lalu Vely menarik lengannya berkata, "Mami kak Darren, boleh ga Vely duduk di depan?" Sungguh Aiden menyukai Vely dan ide-idenya yang konyol. Tidak mungkin Evelyn mau ribut sama anak kecil kan??


"Tante kan lebih tua, jadi Tante yang duduk di depan ya." Evelyn baru akan masuk, namun masih ditahan Vely.


"Tapi mama mau kok duduk di belakang. Vely duduk depan ya Tante." Vely yang akan melangkah masuk pun didorong oleh Evelyn yang sudah kesal dengan Vely sejak di dalam bioskop tadi. Vely menangis karena jatuh. Lutut terluka.


"Evelyn!! Gila ya kamu? Ga malu rebutan sama Vely?" Aiden keluar dari mobil, menggendong Vely masuk ke kursi depan.


"Pulang sendiri sana!" Aiden meninggalkan Evelyn yang terlihat sangat kesal.


Vely masih menangis di dalam mobil. Darren mencoba menenangkannya.


"Daddy, boleh ga kita ga ketemu Mommy lagi. Darren tidak suka dia mendorong Vely." ucap Darren pelan.


Aiden terkejut, baru sekali ini Darren menyampaikan perasaannya tentang Evelyn. Sebenarnya Aiden bisa saja tidak ikut dengan pertemuan Darren dan Evelyn, hanya saja ia merasa tidak bisa mempercayakan Darren ke Evelyn. Dan lihat saja kelakuannya hari ini. 'Sial!! Aku harus ngomong apa ke Airin? Evelyn berebut kursi dengan Vely? Sungguh konyol!'


"Apa?? Dia mendorong Vely? Kamu ga belain Vely?" Airin mengamuk, Aiden jadi tidak fokus menyetir.


"Aku tidak menyangka dia akan mendorong Vely Ai, aku sudah duduk di dalam mobil." Aiden menepikan mobilnya agar lebih aman.


"Harusnya kamu pastiin anak-anak duduk dulu donk baru kamu masuk. Beraninya dia mendorong Vely. Kurang ajar banget dia!! Aku akan datangin dia Ai. Brengsek!!" Airin benar-benar tidak bisa mengontrol emosinya lagi. Mungkin karena dia lelah bekerja seharian. 'Apa aku salah lagi menceritakan ini sekarang?' Aiden merasa keputusan yang dia ambil selalu salah.


"Sabar donk Ai. Kalau Darren yang jatuh apakah kamu akan semarah ini?" pertanyaan Aiden tadi membuat Airin menatapnya tajam.


"Maksudmu aku marah karena Vely yang jatuh? Karena Vely anak kandungku? Begitu?" Airin marah. Benar-benar marah. Ia tidak pernah membedakan Darren dan Vely. Tentu saja ia juga akan marah jika Darren yang jatuh. Aiden terdiam.


"JAWAAABB!!" Airin berteriak. Ia turun dari mobil memanggil taksi yang lewat, mengabaikan panggilan Aiden di belakangnya. Airin menangis di dalam taksi. Ia tidak menyangka Aiden akan berpikir seperti itu. Airin tahu ia sedang emosi, rasa letih karena pekerjaan, ditambah dengan rasa lelah atas ulah Evelyn lagi, dan lagi, dan lagi. Kepalanya berdenyut kencang seakan mau meledak. Sesampainya di rumah, ternyata Aiden sudah sampai lebih dulu, ia menunggu Airin di teras.


"Airin dengerin aku dulu." Aiden menghadang Airin yang akan masuk.


"Kita bicara di kamar. Aku mau bertemu anak-anakku dulu." Airin berkata dengan nada yang mulai tenang, menahan sakit kepalanya yang amat sangat.

__ADS_1


Airin menyapa anak-anaknya di kamar mereka, mendengar cerita Vely dan Darren, bercanda dengan mereka, lalu menyuruh mereka bersiap tidur karena besok sekolah. Ia lalu ke kamarnya, Aiden sudah menunggunya. Airin tidak menggubrisnya. Ia memilih untuk mandi, mencoba menghilangkan penatnya.


"Sini aku bantu, Ai." Aiden sudah bersiap mengambil alih hair dryer yang dipegang Airin, namun Airin menghindarinya. Aiden kembali duduk di sisi kiri ranjang, tempat dia biasa tidur.


"Ai, maaf..aku tidak bermaksud seperti tadi. Kamu tahu kan aku juga menyayangi Vely." ucap Aiden setelah bunyi pengering rambut tidak terdengar lagi. Airin pun masuk ke dalam selimutnya.


"Aku tidak pernah mempertanyakan rasa sayangmu ke Vely. Permasalahannya adalah KAMU yang meragukan sayangku ke Darren. That's the problem." Airin berusaha menahan suaranya agar tidak terdengar orang lain.


"Ok..Ok.. aku salah, Ai. Maafkan aku. Aku janji tidak akan berkata seperti tadi. Aku menyesal. Sungguh." Aiden mendekati Airin memeluknya, mencium keningnya. Namun ia terkejut merasakan kening Airin yang terasa panas.


"Ya ampun Ai, badan kamu panas. Kenapa tadi kamu mandi kalau sakit." Airin tidak ada tenaga untuk menjawab lagi.


"Aku mau tidur." katanya pelan.


"Aku ambilin obat dulu, kamu jangan tidur." Aiden mencari obat di kotak P3K di luar kamarnya dan kembali masuk secepatnya.


"Ai, minum obat dulu yuk. Ai..Airin.." Aiden mencoba membangunkan Airin, namun Airin tidak kunjung bangun. Aiden merasakan badan Airin jauh lebih panas dari yang tadi.


Ia menggendong Airin menuruni tangga sambil memanggil mamanya.


"Airin kenapa Kak?" mamanya bingung melihat Airin yang digendong Aiden.


"Airin badannya panas banget Ma, sepertinya dia pingsan. Aiden mau ke rumah sakit sekarang. Titip anak-anak Ma." Aiden tidak menunggu jawaban mamanya. Ia langsung membaringkan Airin di kursi belakang, untung saja dia masih sempat membawa jaket dan selimut untuk Airin.


Akhirnya Airin dirawat inap. Dokter berkata Airin terlalu lelah dan kekurangan cairan, tetapi tetap akan dilakukan pemeriksaan lanjutan dari tes darah. Aiden memandang Airin yang masih tertidur sambil menggenggam tangannya yang ditusuk jarum infus. 'Ini semua salahku. Aku terlalu sibuk dengan segala urusanku.' Aiden menyesal. Tiba-tiba ia mengeluarkan hp nya, menelepon seseorang.


"Bagaimana? Apakah sudah ada kabar?" tanya Aiden.


"Ok, kirim saja fotonya lewat WA. Lanjut terus, besok aku transfer." katanya lagi.


Ia menunggu kiriman foto yang dijanjikan orang tadi. Ternyata foto Evelyn keluar dari sebuah apartemen mewah. Menurut orang sewaannya, Evelyn tinggal di dua apartemen yang berbeda lokasi, Aiden sudah mendapatkan alamat kedua apartemen itu. 'Dia cukup kaya ternyata.' pikir Aiden. Padahal Aiden tidak pernah memberinya tunjangan hidup semenjak bercerai dan Evelyn juga tidak pernah memintanya.


 


 

__ADS_1


__ADS_2