Bukan Pelarian

Bukan Pelarian
BAB 44


__ADS_3

“Richie tunggu.”  Hannah memanggil Richie. Ia bahkan tidak tahu Hannah berhenti di sebuah toko yang menjual tas mewah. Pikirannya menerawang. Richie berbalik dan menyusul Hannah di sana. Menemani pacarnya berbelanja adalah salah satu hal yang tidak disukainya. Ia lebih suka jika bekerja bersama pacar. Seperti….Airin. Stop Richie!!  Richie menarik napas panjang.


“Bagus ga?” tanya Hannah. Richie mengangguk. Jujur ia merasa semua tas sama saja. Bedanya hanya di ukuran.


“Hai tampan. Lagi belanja?” Richie dikejutkan oleh suara seorang perempuan. Evelyn.


“Menemani kekasihku. Dia yang belanja.” Richie menunjuk Hannah yang sedang sibuk memilih. Hannah pun mengangguk sopan ke Evelyn.


“Enak ya dia punya pacar ganteng, kaya lagi kayak kamu. Tapi setidaknya seleramu lebih baik sekarang dibanding kamu memilih Airin. ”  Evelyn tertawa sambil melihat tas yang akan dibelinya. Richie tidak menghiraukannya. Ia hanya melirik ke Hannah yang terlihat geram mendengar apa yang dibicarakan Evelyn.


“Yang ini Mba..Saya ambil yang hitam itu juga, sama yang garis hijau.” Evelyn terlihat sudah tahu mana yang akan dibelinya. Saat dia akan membayar, Richie mendekatinya.


“Banyak banget beli tas..Mau aku bayarin?” bisiknya ke Evelyn.


“Tidak perlu. Aku masih sanggup. Bayar tas pacarmu saja. Lihat matanya sudah mau keluar menatap kita.” Evelyn tersenyum manja.


“Daahh tampan…” ia mengedipkan matanya ke Richie. Richie jijik melihatnya jika teringat dengan apa yang dilakukannya ke Aiden dan Airin. Yang penting ia sudah melihatnya. Kartu kredit Felix Suhendra, seperti foto yang diperlihatkan Aiden.


Hannah menumpahkan kekesalannya atas sikap Evelyn saat ia dan Richie makan siang.


“Kok orangnya masih nyebelin gitu ya? Kayaknya dari dulu ga berubah deh. Pantesan banyak yang ga suka. Kamu juga ngapain dekatin dia gitu.” Hannah mengomel sambil meminum latte yang dipesannya.


“Maksudnya Evelyn? Memangnya kamu kenal Han?” tanya Richie.


“Bukan kenal, cuma tahu saja. Temanku kan banyak yang penyanyi. Dengar-dengar dulunya dia mau jadi penyanyi, tapi ga jadi karena hamil. Temanku bilang dia sok hebat gitu orangnya, suka bully junior. Terus dia kan jadi penyanyi di Prancis, temanku sih bilang dia ga terlalu terkenal di sana. Tapi ya gitu, lagaknya sombong banget.”


Hannah berhenti cerita sejenak. Dia melihat raut muka Richie yang terlalu serius. Seperti tidak menyukai ceritanya.

__ADS_1


“Maaf.. Aku jadi kayak menjelek-jelekkan orang ya? Aku cuma dengar apa yang temanku bilang, dan dari yang aku lihat tadi sepertinya dia memang menyebalkan.” Lanjut Hannah. Ia tidak mau terkesan suka membicarakan orang lain terutama di depan Richie.


“Lanjutkan ceritamu. Aku mau dengar.” Richie berkata serius.


“Lalu si Evelyn itu kan pulang ke sini gara-gara berkasus di sana. Katanya dia terlibat kasus penipuan kontrak kalau ga salah. Ga tau dia jadi ga dipenjara. Tapi ini temanku yang cerita ya Ric. Tapi biasanya cerita dia valid sih, apalagi dia kenal sama produser yang di Prancis sana.” jelas Hannah.


“Terus apa lagi yang kamu tahu?” Richie bertanya lagi.


“Kamu kenapa sih? Aku jadi curiga. Jangan-jangan kamu naksir dia ya?” Hannah cemberut. Akhirnya Richie menceritakan hubungan antara Evelyn dengan Aiden dan Airin secara garis besar. Tidak terlalu detail. Richie tidak


mau mengumbar masalah keluarga orang lain, terutama jika menyangkut Airin.


“Astaga…ternyata dia memang begitu orangnya ya. Tenang saja Ric, nanti aku tanya lagi sama temanku ada info apa lagi. “ Hannah terlihat sangat bersemangat membantu Airin. Bagaimanapun juga Airin sudah membantu


hubungannya dengan Richie.


“Tapi tolong jangan cerita tentang Aiden dan Airin ya Han ke temanmu.” Richie mengingatkan.


‘Terima kasih Han, suatu saat aku pasti akan membalas kebaikanmu padaku.’ ucap Richie dalam hatinya.


Richie kembali ke kantor papanya sore itu setelah mengantar Hannah ke kantor agensinya. Richie menelepon seseorang.


“Erwin, apa kabar bro?” sapa Richie.


“Baik. Tapi agak mencurigakan nih kalau lo telepon. Mau ngundang atau minta bantuan?” tanya Erwin sambil tertawa.


“Ngundangnya nanti aja ya, belum ada calon hahaha… Jadi pilihan jawabannya tinggal yang terakhir kan?” pertanyaan yang tidak membutuhkan jawaban.

__ADS_1


“Sudah gw tebak. So, apa yang bisa gw bantu?” tanya Erwin lagi.


“Gini, lo kan sudah ikut Om Felix dua tahun, masih di bagian keuangan kan? Gw sebenarnya ga enak minta lo lakuin ini, tapi gw ga tau mau minta tolong siapa lagi.” Richie bingung bagaimana memulainya.


“Lo minta gw ambil duit bos gw? Gila lo!!” Erwin berteriak.


“Wait..wait…bukan gitu Bro. Gw cuma minta tolong lo ngecek sesuatu.” Richie yakin Erwin akan membantunya. Bukannya Richie mengharapkan balas budi Erwin, tapi tidak salahnya mencoba kan? Erwin sebenarnya berasal dari keluarga yang cukup berada. Richie dan Erwin mulai berteman saat mereka sama-sama kuliah di Amerika. Namun di tahun ketiga, keluarga Erwin terkena masalah dan terancam bangkrut. Erwin pun berencana untuk putus kuliah karena tidak ada biaya. Richie bersikeras menawarkan bantuannya untuk membiayai kuliah Erwin. Sayang jika putus di tahun ketiga, alasan Richie. Sepulang mereka ke Indonesia, Richie pun menawarkan Erwin bekerja di perusahaan Felix Suhendra yang sebenarnya anak perusahaan papa Richie. Itulah mengapa Erwin akhirnya memutuskan untuk membantu Richie. Bukan hanya karena balas budi, namun jika transaksi keuangan ada yang


mencurigakan maka Erwin pun harus bertanggung jawab karena kelalaian tugas.


*****


“Mas, kemarin aku bertemu dengan Richie keponakanmu. Ia sedang berbelanja tas branded bersama kekasihnya.” Evelyn bercerita sebelum mereka memulai aktivitas siang mereka. Maklumlah, Felix selalu pulang ke rumah


layaknya suami baik pada umumnya. Jadi kesimpulannya adalah tidak semua pria yang selalu pulang ke rumah adalah pria yang setia. Tidak semua ya. Noted.


“Dia tidak mengenalmu kan?” Felix bertanya.


“Tidak, akupun hanya mengenalnya dari foto yang kamu tunjukkan.” Evelyn menyangkalnya.


“Ya wajarlah dia membelikan tas mahal untuk kekasihnya yang artis itu. Masa tas murah? Uangnya banyak lho si Richie. Mas saja sanggup beliin kamu. Apalagi dia.” Felix mulai melepas semua pakaian yang dikenakan. Tidak ada rasa malu lagi di antara mereka.  Felix mulai mencium Evelyn. Evelyn seperti candu baginya. Ia bahkan rela berhemat demi mempertahankan Evelyn di sisinya.


“Besok beli lingerie baru ya.” bisiknya ke Evelyn. Evelyn mengangguk. Meredupkan lampu kamarnya. Evelyn mulai melakukan hal yang sangat ia sukai yaitu membayangkannya memeluk dan bercinta dengan Aiden.


Felix pergi setelah ritualnya dengan Evelyn selesai. Evelyn sedang bersantai sambil membuka email yang masuk di ponselnya. Membacanya kata per kata sebelum ia mulai berteriak. Email yang berisi “Hak kunjungan Evelyn Princessa Sudrajat terhadap Darren Kevin Alexander dikurangi dari satu minggu sekali menjadi satu bulan sekali.”, telah membuat Evelyn seperti orang gila. Ia membanting benda-benda di dekatnya. Yang ada di pikiran Evelyn hanyalah ia akan jarang bertemu Aiden, seminggu sekali saja ia masih rindu, apalagi satu bulan. Dia harus secepatnya mencari cara lain untuk mendapatkan Aiden. Tidak peduli jika ia harus mengorbankan harga dirinya. Evelyn merasa ia sudah berkorban banyak untuk Aiden sampai ia rela menjadi simpanan Felix. Felix juga tidak


mungkin mengambil tindakan apapun jika Evelyn ketahuan mengkhianatinya, toh Felix juga takut jika dirinya terekspos.

__ADS_1


“Ini semua salah kamu Airin, SALAH KAMU!!!” teriaknya.


*****


__ADS_2