
“Airin sayang..Bangun donk. “ seorang pria dengan baju dan celana putih memanggil Airin sambil mengelus pipinya. Airin yang merasa geli, terbangun sambil tertawa kecil. Namun Airin bingung, setelah mengerjapkan mata berkali-kali barulah ia menyadari kalau ia tertidur di atas pasir putih di pinggir pantai. Ia melihat sosok yang membangunkannya tadi.
“Nathan. Kamu di sini? Sudah lama? Kenapa kamu bangunin aku? Aku masih ngantuk sayang.” Airin berniat tidur kembali, tetapi ia mendengar suara bayi tidak jauh dari sana. Ia mencari sumber suara itu dan melihat sebuah keranjang bayi di bawah jajaran pohon kelapa tidak jauh dari sana.
“Jangan tidur lagi sayang, kamu tidak mendengar tangisan anak kita?” Nathan membantu Airin untuk duduk. Airin pun tersenyum seolah sangat merindukan pria di depannya. Tapi tidak lama kemudian ia menangis.
“Maaf Sayang. Aku mengkhianatimu, aku sudah membagi hatiku untuk pria lain.” Nathan memeluknya.
“Kamu memang sudah membagi hatimu, tapi kamu tidak pernah mengkhianatiku Sayang. Aku merestui semua yang sudah kamu lakukan sekarang. Kamu berhak untuk bahagia, begitu juga anak kita. Jangan pernah merasa bersalah untuk itu. Ingatlah bahwa aku juga akan bahagia jika kamu dan Vely bahagia.” Nathan mencium kening Airin yang sedang menangis. Rasa bersalahnya selama ini sedikit demi sedikit mulai mencair setelah mendengar apa yang dikatakan Nathan kepadanya.
“Sudah ya Sayang, sekarang kamu bangun. Anak kita sedang menangis menunggumu. Ingatlah untuk selalu bahagia.” Nathan melepas pelukannya. Berjalan menuju pantai. Airin ingin memanggilnya agar Nathan tidak tenggelam ditelan ombak. Namun suaranya tidak keluar. Ia hanya bisa terdiam sambil menatap Nathan yang mulai menghilang.
“Ai…Airin.” Aiden bingung melihat Airin yang mendadak membuka matanya. Airin mengeluarkan air matanya. Napasnya tidak beraturan. Aiden segera memanggil dokter untuk memeriksa istrinya.
“Kamu kenapa Ai?” Aiden menahan tangisnya. Ia takut jika kondisi Airin memburuk. Dokter mengatakan bahwa tidak ada luka serius di kepala Airin. Namun sudah dua hari Airin tidak bangun sejak kepalanya terluka. Darren dan Vely pun sudah datang tadi siang setelah mendapat izin dokter untuk mencoba menyadarkan Airin. Vely pun menangis tidak berhenti setelah ia melihat mamanya terbaring dengan perban di kepalanya. Butuh waktu lama untuk membujuk Vely pulang. Akhirnya ia luluh dengan Richie, Vely selalu menurutinya. Richie pun banyak menghabiskan waktunya di rumah sakit hanya untuk sekedar mengecek kondisi Airin.
"Sepertinya Ibu Airin sudah sadar, Pak. Coba pelan-pelan diajak komunikasi yang ringan dulu." Dokter dan perawat keluar, memberikan privasi untuk mereka.
"Ai..Ada yang terasa sakit?" Aiden bertanya sambil menggenggam tangan Airin. Airin menatapnya sambil menggeleng.
"Kamu..bisa bicara? Kamu ingat aku?" Aiden takut Airin tidak bisa berbicara, atau amnesia, atau shock, atau... Berbagai pikiran buruk menghantuinya.
__ADS_1
"Kamu kira aku lupa ingatan kayak drama korea?" ucapnya pelan. Aiden tertawa bahagia mendengarnya. Ia memeluk Airin kuat.
"Auuuw..Ai, sakit. Jangan kuat-kuat. Berapa hari aku tertidur Ai? Aku kangen anak-anak Ai" katanya lagi. Aiden melepaskan pelukannya.
"Dua hari. Cuma anak-anak? Kamu tidak merindukanku?" Aiden menatapnya serius, seakan ia benar-benar cemburu.
"Itu tidak perlu kamu tanyakan. Bagaimana aku tidak merindukanmu jika di saat tidur pun aku masih bisa mengingat wajahmu?" Airin membelai wajah Aiden yang terlihat lebih tirus dan lelah. Sungguh Aiden merindukan Airin. Berulang kali ia bersyukur kepada Tuhan karena ia dapat melihat istrinya tersenyum lagi. Airin pun begitu, entah mengapa perasaannya merasa lebih bebas untuk.. mengatakan rindu.
Dua hari kemudian Airin diperbolehkan pulang atas izin dokter. Ia merengek bosan dan bersikeras sudah sehat. Tapi tentu saja Aiden melarangnya untuk kerja dulu. Ia harus beristirahat dua minggu di rumah. Richie pun mengizinkannya.
"Ai, bagaimana Evelyn?" pertanyaan yang sangat ditanyakan Airin dari saat ia masih di rumah sakit. Tapi Aiden tidak suka membahasnya di sana. Ia mau menunggu Airin sehat dan sudah pulang ke rumah.
"Dia ditahan. Ada Pak Sihombing yang menjadi saksi, barang bukti sudah jelas. Aku tidak mungkin melepasnya begitu saja setelah membuatmu..." Aiden juga merasa bersalah, gara-gara melindunginya Airin sampai berkorban.
"Ai, aku belum meminta maaf padamu. Andai saja kamu tidak melindungiku, kamu pasti tidak mungkin terluka. Apa kamu tahu? Aku takut sekali melihat darah yang mengalir dari kepalamu. Saat itu aku sampai tidak bisa bernapas." Aiden ngeri teringat kejadian itu.
"Dan kamu kira aku bisa bernapas jika itu terjadi kepadamu? Aku yakin kamu lebih kuat untuk menjagaku, makanya aku hanya tertidur." Airin tersenyum.
"Ai, boleh ga aku istirahat di Puncak saja? Kita ajak anak-anak liburan seminggu di sana. Kita minta izin dari sekolah seminggu. Pekerjaanmu..." ucapan Airin dipotong Aiden.
"Ada papa. Aku akan minta papa yang menggantikanku untuk seminggu." Aiden tersenyum. Ini saatnya ia membahagiakan istri dan anak-anaknya.
__ADS_1
Cuaca sangat dingin di Puncak pada pagi hari. Aiden sengaja menyewa villa dengan fasilitas lengkap. Rencana mereka hanya akan menghabiskan lebih banyak waktu di villa agar Airin tetap bisa beristirahat. Airin menghirup udara segar dari balkon lantai 2 di kamarnya, dia menoleh ke arah suaminya yang masih tertidur. Suara anak-anak juga belum terdengar di kamar sebelah. Airin memandang langit biru yang masih sedikit menyisakan warna oranye pertanda matahari sudah lama terbangun dari tidurnya. Ia bersyukur kepada Tuhan atas semua anugerah yang diterimanya hingga hari ini.
'Tuhan izinkan aku berbicara dengan Nathan, suamiku yang telah Kau pilih untuk menemani-Mu di sana. Hai Nathan, apakah kamu sudah melihatnya? Aku bahagia di sini. Terima kasih karena Tuhan kita dan kamu telah mengirim suami terbaik untukku, mengirim Darren untuk menemani Vely, anak kita. Nathan sayang, kamu yang tenang ya di sana. Ingat janjimu untuk bahagia jika aku bahagia...' Airin terkejut dengan tangan yang memeluknya dari belakang.
"Indah ya langitnya, Ai." Aiden mencium pipi Airin, masih memeluknya.
"Iya Ai, indah." katanya. 'Bye Nathan.' Airin tersenyum.
"I love you, Ai" ucap Aiden.
"I love you too." Kalimat yang wajib kita balas jika kita merasakannya juga.
Airin berbalik menatap suaminya, mengecup bibirnya. Satu. Dua. Tiga. Empat. Lima. Enam. Tujuh. Ok, Aiden tahu artinya. Ia menggendong istrinya ke tempat tidur. Aktivitas yang mereka rindukan dua minggu ini. Cara untuk menyatakan bahwa Airin hanya miliknya, sekarang dan untuk selamanya.
'Aiden, kamu milikku. Aku tidak akan pernah lagi meragukanmu, dan kumohon izinkan aku tetap menjadi lebih dari atau sama dengan lima detikmu selamanya.'
TAMAT.
__ADS_1
PS: Terima kasih untuk dukungan Readers. Semoga cerita ini bisa menjadi inspirasi bahwa "kita harus belajar merelakan cinta yang bertepuk sebelah tangan dan memperjuangkan cinta yang terbalas."
Yang penasaran dengan kisah cinta Richie dan Hannah, apakah mereka berakhir bahagia atau....? Tunggu di cerita Author berikutnya ya ^-^