Bukan Pelarian

Bukan Pelarian
BAB 13


__ADS_3

Aiden melihat piala Darren yang dipajang di ruang tamu rumahnya. Bakat Evelyn dalam bernyanyi menurun ke anaknya, pikir Aiden. Sebenarnya Aiden tidak terlalu menyukai hal itu karena itu mengingatkan dia tentang Evelyn. Tetapi dia tidak tega menghalangi Darren untuk bernyanyi. Darren yang pendiam itu terlihat lebih hidup dengan bernyanyi. Tiba-tiba dia teringat dengan Vely yang juga memiliki piala yang sama, dan tentu saja dia teringat dengan...Airin. Seorang wanita yang akhir-akhir ini sering membuat dia tersenyum.


Tadi siang di pembukaan XP Mall, sama sekali ia tidak sempat berbicara dengan Airin. Mereka sama-sama sibuk dengan urusan masing-masing. Bahkan Chris datang untuk berkenalan dengan Airin pun gagal.


Aiden menuju kamarnya. Ia hendak menelepon Airin. Tapi mamanya masuk setelah mengetok pintu kamarnya.


"Belum tidur Kak?" Mama Shinta selalu memanggil Aiden dengan sebutan kakak.


"Belum, Ma."


"Ini, ada undangan dari teman papa. Kami ga bisa hadir, minggu depan mau check up ke Singapore. Tolong kamu wakilin ya." Shinta memberikan kartu undangan berwarna gold ke Aiden.


"Acara apa Ma?" Aiden membuka kartu tersebut.


"Acara amal atau lelang, gitulah. Dilelang, terus diamalin. Mama sudah pesan karangan bunga, nanti kamu tinggal datang saja." Shinta meninggalkan kamar Aiden.

__ADS_1


Aiden menaruh undangan di meja kecil kamarnya. Ia mengambil HP nya, berniat melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda.


"Halo Rin, lagi ngapain?" sapa Aiden.


"Baru sikat gigi, cuci muka. Lagi nyantai aja sebelum tidur. Ada apa Aiden? Tumben."  jawab Airin.


"Aku mau ucapin terima kasih. Acara tadi sukses berkat kamu ma Richie." kata Aiden. 'Tapi cuma kamu yang aku telepon, Richie ga'. sambung Aiden dalam hati.


"Ooo.. It's my pleasure. Makasih atas kepercayaannya untuk RAF. Acara tadi bisa jadi batu loncatan untuk RAF juga. Kami kan masih baru, jadi butuh banyak koneksi. XP Mall merupakan awal yang besar untuk RAF." Airin terdengar bersemangat.


"Aku ingin menyampaikan sesuatu Rin, mengenai pertanyaanmu di rumah makan minggu lalu. Inget ga?"


"Tentang mamanya Darren. Sebenarnya kami sudah lama bercerai. Dari Darren masih bayi." jelas Aiden.


Airin masih terdiam. Sesaat otaknya memutar kembali semua memori pertemuannya dengan Aiden dan semua mulai terasa masuk akal.

__ADS_1


"Aku ikut menyesal."  Airin merasa konyol dengan kalimat yang keluar dari mulutnya.


"It's ok. Itu sudah sangat lama. Aku pun sudah melupakan semua itu." Benarkah? Aiden berpikir.


Mereka mengobrol di telepon sekitar satu jam lebih. Kehidupan pribadi yang selama ini mereka simpan, mengalir begitu lancar dari mulut masing-masing.


*****


"Airin, temanin aku nanti malam ya ke acara Om aku. Tenang aja, mama aku ga datang kok. Lagi ke Samarinda sama papa." jelas Richie sebelum Airin menolak karena alasan mama Desy.


"Baiklah, kamu jemput ya. Aku malas nyetir kalau pake dress." Airin tidak menolak karena ia tidak ingin dianggap menghindari Richie setelah kejadian waktu itu.


"Dengan senang hati Lady Airin." senyum menawan Richie mengembang mendengar jawaban Airin.


"Acara apa? Kawinan?" tanya Airin lagi.

__ADS_1


"Malam amal, diadakan tiap tahun. Biasanya papa yang datang. Ini papa lagi berangkat. Tapi aku pikir kita bisa  mencari kenalan baru, menambah koneksi untuk RAF mungkin."


"You right, I'm in."  Airin tersenyum.


__ADS_2