
Seminggu telah berlalu sejak Airin ke pantai bersama Aiden. Vely sedang berakhir pekan ke Bandung dengan mama Rianti. Om Teddy yang datang menjemput dengan mobil. Mereka akan pulang besok. Aiden sudah datang menjemput Airin. Mereka akan ke XP Mall, Airin ingin mencari novel misteri dan beberapa buku bacaan untuk Vely.
"Aiden, Darren suka ga buku super hero gini?" Airin menunjukkan sebuah buku berjudul Spiderman ke Aiden.
"Kayaknya kurang deh Ai, dia lebih suka cerita tentang hewan gitu. Kita beli ensiklopedia aja." Airin mengangguk. Ia masih mencoba untuk dekat dengan Darren. Begitu juga dengan Aiden, ia sering memberikan mainan dan makanan manis untuk Vely.
Aiden menggandeng tangan Airin. Mereka seperti dua remaja yang sedang berpacaran. Penampilan Aiden yang biasanya berjas, hari ini tampak kasual. Kaos putih bergambar centang itu dipadukan dengan celana jeans hitam. Airin pun mencepol rambutnya ke atas. Memakai kaos putih yang hampir senada dengan kaos Aiden plus ripped jeans hitam.
Selesai mereka berbelanja, mereka bermain billiar. Ternyata hobi mereka sewaktu remaja sama. Airin ingin menikmati waktunya dengan Aiden berdua. Mengisinya dengan kenangan indah. Ia takut apa yang akan dibicarakannya dengan Aiden nanti akan mengakhiri semua yang baru akan mereka mulai.
Waktu pun sudah menunjukkan pukul 5 sore. Mereka sepakat untuk pulang ke rumah Airin. Airin ingin bicara berdua tanpa banyak gangguan. Aiden sebenarnya sangat penasaran dengan apa yang ingin Airin katakan. Ia takut Airin tidak bisa mengucapkan cinta untuknya.
"Minum Ai, maaf ya ga ada kopi." Airin membawakan secangkir teh manis hangat untuk Aiden yang sedang duduk di sofa ruang tamu Airin.
"Aku janji bakal jauhin kopi, daripada dijauhin kamu Ai hahaha..." Aiden dan Airin tertawa.
__ADS_1
"So..." Aiden seperti tidak sabar menunggu cerita Airin.
"Aiden, aku sayang sama kamu. Tapi sebelum kita berhubungan lebih serius. Aku ingin kamu tahu bahwa aku bukan wanita sempurna. Rahimku... diangkat saat aku melahirkan Vely. Ada tumor jinak yang menempel di rahimku saat itu. Dokterpun menyarankan untuk mengangkatnya. Kamu.. ngerti kan maksudnya." Airin menatap Aiden, mencoba menerka apakah Aiden mengerti.
"Maksudnya kamu..." Aiden tidak tega untuk melanjutkan kalimatnya.
"Iya Ai, aku tidak akan bisa hamil lagi, memberikanmu anak, adik untuk Darren dan Vely." Airin melanjutkan penjelasannya. Aiden terdiam. Terkejut pastinya. Ia pernah membayangkan Darren dan Vely sama-sama menjaga adik kecil mereka kelak. Apapun jenis kelamin anak mereka nanti, karena mereka sudah memiliki sepasang anak laki-laki dan perempuan.
Air mata Airin menetes, ia tahu ini akan terjadi. Tapi ia siap untuk risiko terburuk. Lebih baik sekarang daripada perasaannya semakin dalam kepada Aiden.
"Ini yang kamu takutkan Ai? Kamu menyuruhku menunggu seminggu untuk ini? Andaikan minggu lalu kamu langsung mengatakan hal ini, kita berdua akan terbebas dari rasa takut yang kita rasakan dalam satu minggu ini. Kamu tahu yang aku takutkan?" tanya Aiden sambil memegang pipi Airin yang basah oleh air matanya. Airin menggeleng.
"Kamu hanya menyukaiku, tidak bisa mencintaiku. Hanya itu yang aku takutkan." jelas Aiden.
"Tapi aku belum mengatakan aku mencintaimu Aiden." Airin berkata.
__ADS_1
"Aku sudah merasakannya Airin. Air mata ini buktinya. Kamu tidak akan menangis untuk suatu hal yang tidak berharga menurutmu. Apa aku benar?" Aiden mencium mata Airin, menyeka air matanya. Airin masih terdiam, tidak berani mengiyakan.
"Apalagi yang aku butuhkan. Seorang Airin, wanita sempurna di mataku. Dan Vely, gadis kecil lucu yang bisa membuat Darren tertawa. Apa menurutmu aku akan bertindak bodoh dengan membuang semua itu? Tidak Ai, aku tidak membutuhkan yang lain. Aku janji akan membahagiakanmu dan Vely. Kita berempat akan menjadi keluarga yang bahagia." janji Aiden meyakinkan Airin untuk mengangguk.
"Aku percaya. Aku percaya kamu jawaban dari doaku Aiden. Aku...mencintaimu." ucap Airin yakin.
"Dan kamu tahu kan aku mencintaimu 100 kali lebih besar Airin." Aiden mencium kening Airin. Mencium bibir yang tadi sempat memucat. Ciuman dalam yang sudah lama tidak dirasakan oleh Aiden dan Airin. Airin terdorong berbaring di sofa. Mereka seperti belum berniat melepaskan ciuman yang pelan namun liar tersebut. Aiden merasakan sesuatu yang mengeras di balik celana jeansnya. '**!!' Aiden mengumpat dalam hati. Ia merasa harus melepas ciuman itu sekarang. Aiden kembali duduk setelah membantu Airin bangun dari posisinya sekarang.
"Aku mau ajak kamu ketemu orang tuaku Ai. Aku ingin segera menikahimu." ucap Aiden serius.
"Kamu serius? Apakah ini tidak terlalu cepat?" Airin terkejut mendengar itu.
"Tidak ada salahnya untuk bergerak cepat jika kita sudah yakin kan. Aku akan mengenalkanmu sebagai calon istriku. Mereka orang tua yang baik. Aku yakin mama tidak akan mempersoalkan statusmu. Dan papa..tidak akan berani membantah mama hahahaha.." Airin bahagia, selangkah lagi ia akan memulai hidup baru bersama Vely, Aiden, dan Darren.
*****
__ADS_1