
Airin sedang berjalan di tengah para penjaja makanan di pinggiran kota itu. Hari masih sore namun sudah banyak sekali yang berjualan. Airin menjatuhkan pilihannya ke sebuah restoran seafood, ia sedang ingin makan sesuatu yang segar. Airin tidak terlalu menikmati makan malamnya. Pikirannya penuh dengan kenangan Aiden, Darren, dan Vely saat mereka pertama kali makan bersama. Kemanapun Airin pergi, kenangan bersama keluarganya selalu mengikutinya. Airin bertemu lagi dengan Sam saat ia sedang di kasir untuk membayar makanannya.
“Hai..kita ketemu lagi.” ucap Sam manis.
“Hai Sam, kamu sudah selesai makan juga?” Airin bertanya sambil mengeluarkan dompetnya.
“Dua meja ya Mba.” Sam memberikan kartunya ke petugas kasir. Airin berusaha menolak, namun Sam memaksa.
Mereka harus berjalan menyusuri jalanan panjang untuk mencapai tempat parkiran yang sengaja dibangun terpusat di sana untuk menghindari macet.
“Jadi kamu orang Thailand?” Airin mengawali pembicaraan mereka.
“Hanya tinggal di sana, papaku bekerja sebagai diplomat di Thailand. Aku sering ke Indonesia karena nenek dari mamaku tinggal di Bogor.” Jawabnya.
“Kamu mau kemana lagi setelah ini?” Sam bertanya.
“Pulang ke hotel. Aku duluan ya. Terima kasih untuk traktirannya.” Airin melambaikan tangannya. Mereka sudah sampai di depan mobil Airin. Lalu Sam menarik tangannya.
“Tunggu Airin. Bagaimana kalau kamu main ke hotelku? Atau aku saja yang ke tempatmu? Kita bisa sedikit bersenang-senang.” Sam menawarkan sesuatu yang sungguh membuat Airin terkejut. Ia mengira Sam adalah pria
yang sopan.
“Maaf Sam. Pertama, aku sudah menikah dan kamu tahu itu. Kedua, aku benar-benar tidak tertarik padamu. Suamiku jauh lebih menarik darimu.” Airin masuk ke dalam mobilnya dan langsung mengunci pintunya. Sam
terlihat sangat kesal. Airin membuka jendela mobilnya, melempar uang 200 ribu.
“Itu untuk bayar makananku tadi.” Airin pergi. Ia sungguh merasa sial bertemu pria seperti Sam. Airin menyetir sambil mendengus kesal.
“Beraninya dia. Aiden jauh lebih keren dari dia.” Aiden. Aiden. Dia merindukannya. Apakah boleh ia mempertaruhkan harga dirinya untuk memilih percaya dengan suaminya. Airin menyetir sambil mendengar lagu "Rapuh" Agnes Monica di radio mobilnya.
__ADS_1
Sebab ku sayang dia
Sebab kukasihi dia
Sebab ku tak rela
Tak selalu bersama
Ku rapuh tanpa dia
Seperti kehilangan arah…
Tanpa sadar Airin meneteskan air matanya. Ia merasa sudah bisa memantapkan hatinya. Ia akan memperjuangkan Aiden jika Aiden memang pantas untuknya. Airin menginjak gas nya dalam menuju hotel. Sesampainya di sana, ia membereskan semua barangnya yang tidak terlalu banyak. Belum selesai ia memasukkan semuanya ke tas, bel pintunya berbunyi. Airin segera membukanya karena ia juga ingin cepat keluar dari sana. Airin mematung di depan pintu yang terbuka itu. Memandang seseorang yang sedang sangat ia rindukan. Tanpa berkata-kata Aiden memeluknya erat. Sangat erat. Airin pun melakukan hal yang sama. Aroma
tubuh yang sangat ia rindukan. Mereka terhanyut dalam pelukan itu. Akhirnya Airin melepasnya.
“Kamu kok bisa naik kesini Ai?” tanya Airin.
“Baru kedua dan kamu sudah menemukan aku?” Airin tidak menyangka akan secepat itu.
“Kamu kira Sentul itu besar Ai?” Aiden tersenyum.
“Ai, aku minta maaf karena…” kalimat Aiden terputus karena jari Airin yang menutup mulutnya.
“Buktikan Ai, buktikan padaku… Hati kecilku mengatakan aku percaya denganmu. Namun aku butuh bukti agar tidak ada keraguan dalam hatiku.” Airin memohon.
“Pasti akan kubuktikan Ai, secepatnya. Terima kasih untuk kepercayaanmu. Aku sungguh merindukanmu.” Aiden memeluknya lagi. Lalu ia melihat tas Airin yang seperti baru dibereskan.
“Kamu mau pergi lagi?” Aiden melepas pelukannya.
__ADS_1
“Oh itu.. Aku..mau pulang. Aku merindukanmu dan anak-anak.” Airin tertunduk malu. Aiden berterima kasih dengan Tuhan ia datang di saat yang sungguh tepat, apa jadinya jika dia hanya telat satu jam saja.
“Aku juga Ai, sangat..sangat merindukanmu. Kita pulang sekarang? Atau besok?” Aiden bertanya ke Airin, membiarkan Airin yang memutuskannya.
“Besok pagi saja. Nanti kamu kelelahan, Ai. Jangan terlalu memaksakan diri, bahaya nanti. Lagipula mobilku gimana? Aku malas nyetir malam-malam.” Airin lalu berpikir omongannya yang tidak sejalan dengan tindakannya tadi. Bukannya ia berencana pulang sebelum Aiden datang??
“Besok pagi aku akan mencari orang untuk membawa mobilmu pulang. Atau mau dijual saja beli baru.”
“Ga mau. Mobil itu banyak kenangannya Ai. Belum mau aku jual.” Nathan. Mobil itu warisan Nathan dan Airin ingin menjaganya.
“Ya sudah. Ai, aku kangen.” Aiden mencium bibir Airin pelan-pelan, takut Airin menolaknya. Ternyata Airin memendam hasrat yang sama. Airin membalas ciumannya, melampiaskan semua yang dipendamnya. ‘Persetan dengan Evelyn, aku percaya Aiden sangat mencintaiku, aku bisa merasakannya.’ Airin tahu itu. Aiden selalu jujur dengan apa yang ia lakukan selama bertemu Evelyn. Dan sekarang Airin merasakan bagaimana Aiden memperlakukannya di saat bercinta. Bukan nafsu. Entahlah..cinta hanya bisa dirasakan. Klise memang. Dan Airin mencoba memperlakukannya sama, berharap cintanya juga dapat dirasakan oleh Aiden.
Penyesalan memang selalu datang terlambat. Andai saja foto itu tidak datang siang itu tapi esok harinya. Andai saja Airin dapat mendengar penjelasan Aiden terlebih dahulu. Tapi memang rasa lelah Airin atas kelakuan Evelyn sudah di ambang batas. Dan foto itu menjadi garis finish kesabarannya. Airin memang sempat meragukan Aiden. Foto itu terasa... sangat nyata. Namun, Airin perlahan menyadari Aiden tidak mungkin mengkhianatinya. Semua cerita Richie mengenai bagaimana Aiden mencarinya, penjelasan di balik foto itu, mulai terasa masuk akal. Sebenarnya Airin tidak membutuhkan bukti ketidakbersalahan Aiden, ia percaya, sangat percaya kepada suaminya. Airin hanya membutuhkannya untuk membungkam dan membalas kelakuan Evelyn.
Airin bangun masih dengan posisi yang sama saat ia tidur, pelukan Aiden yang tidak pernah lepas. Ia mengelus jambang halus Aiden yang tumbuh di sekitar wajahnya. Sesuatu yang jarang ia lihat sebelumnya. Airin merasa bersalah ia tidak bisa mengurus suami dan anak-anaknya tiga hari ini.
“Ai, bangun yuk, kita pulang. Aku kangen anak-anak.” Airin menghujani ciuman-ciuman kecil ke Aiden. Aiden malah mempererat pelukannya dan menyerangnya dengan ciuman bibir yang menggoda. Airin memaksa pulang setelah kegiatan panas mereka pagi itu. Ia tidak sabar bertemu dengan keluarganya. Namun Airin juga tidak bisa menolak keinginan Aiden yang sebenarnya juga keinginannya.
Airin memutuskan untuk menemui mertuanya terlebih dahulu, meminta maaf atas tindakan konyolnya. Shinta dan suaminya mengerti, mereka menganggap memang Evelyn yang harus bertanggung jawab atas semuanya. Saatnya menemui anak-anaknya di atas. Mereka memang tidak bersekolah di hari Sabtu.
“Hai semua, anak-anak mama.” Vely sedang berada di kamar Darren, markas bermain mereka. Vely dan Darren memeluknya. Airin tidak berhenti mencium kepala mereka, spot favorit Airin jika mencium anak-anak. Airin sudah menyiapkan jawaban untuk semua kemungkinan dari pertanyaan Vely. Aiden pun hanya duduk melihat dan mendengar cerita dan tawa mereka.
‘Ya inilah yang aku butuhkan dalam hidupku. Suara tawa istri dan anak-anakku. Sekarang aku hanya harus membereskan satu masalah lagi.’
Aiden sebenarnya sudah mendapat informasi bahwa Felix Suhendra adalah benar paman dari Richie. Ia tidak mau menanyakan hal itu kepada papanya walau Aiden tahu papanya pasti mengenal si Felix. Aiden hanya takut orang
tuanya bertindak terlalu gegabah jika terlalu banyak tahu. Dan satu informasi yang terpenting adalah Felix memiliki hubungan dengan Evelyn. Hal itu terbukti dari banyaknya transaksi kartu kredit yang dipegang Evelyn dan semuanya untuk transaksi keperluan gaya hidup wanita. Memang tidak menutup kemungkinan itu digunakan oleh istri sah Felix ataupun Felix sendiri. Namun kenyataannya, kartu itu sedang dipegang Evelyn bukan? Hanya saja Aiden belum mengetahui hubungan mereka dengan pasti. Evelyn memang terbiasa bergaya hidup mewah sejak mereka berpacaran. Umur Evelyn dan Felix yang terpaut jauh pun menjadi tanda tanya. Aiden tidak mau menebak apa yang sebenarnya terjadi. Ia hanya butuh bukti. Bukti untuk melepaskan dirinya dari kendali Evelyn. Aiden berencana untuk bertemu Richie setelah Airin kembali ke rumah. Semoga saja Richie bisa diajak kerja sama. Aiden ragu, bagaimanapun juga Felix adalah pamannya. Minggu ini Aiden tidak terganggu oleh Evelyn. ‘Mungkin ia
takut karena masalah yang sudah disebabkannya. Baguslah, setidaknya dia tahu diri.’ Pikir Aiden.
__ADS_1
*****