
Sesampainya mereka kembali ke RAF setelah makan siang, Chris terlihat turun dari mobil di depan RAF.
"Broo..Ngapain lo kesini?" Aiden menghampiri Chris.
"Oooo..Jadi ini Airin?" tanya Chris, mengabaikan pertanyaan sahabatnya itu.
"Airin." Airin memperkenalkan dirinya sopan.
"Saya Chris. Kita sudah buat janji kan. Saya dari Flass." Chris berkata formal dengan Airin, menjabat tangannya lama.
"Uda ui, lepas. Lama banget salamannya." Aiden menarik tangan Airin.
"Biasa aja bro..Kok ga bilang Airin cakep gini." kata Chris sambil tertawa.
"Mana tau gw bisa sembuh hehehe.." Chris lanjut berbisik ke telinga Aiden.
"Enak aja, gw seneng lo sembuh, tapi jangan karena Airin dunk." Aiden mendorong Chris bercanda.
"Hahaha.. kita lanjut di atas yuk Pak Chris, kirain saya dan Richie yang ke kantor Bapak." ucap Airin.
__ADS_1
"Bye Ai. Kalau dia ngeselin, kasih tau aja ya, nanti aku yang beresin. Jangan macam-macam lo ye, awas!!" Aiden mengancam Chris. Ia mengecup kening Airin lalu berlalu pergi meninggalkan Chris yang cekikikan. Aiden hanya bercanda, dia tahu Chris sangat sulit disembuhkan. Orang tua Chris pun sudah pasrah, yang penting Chris bahagia, pikir mereka.
*****
Airin menemani Vely yang sedang mencoba untuk tidur.
"Sayang, kalau Vely dikasih papa baru sama Tuhan mau ga?" tanya Airin ke Vely. Airin harus hati-hati mencari cara memberi tahu Vely.
"Dikasih Tuhan, Ma? Ga harus beli?" Vely balik bertanya.
"Iya, ga usah beli pakai duit. Tapi gantinya, Vely harus bisa jadi anak dan adik yang baik. Ga nakal." terang Airin.
"Memangnya Vely nakal?" Vely mengerucutkan bibir mungilnya.
"Iya, nanti Vely dapat kakak baru. Kak Darren. Vely suka kan? Nanti bisa main bareng Kak Darren tiap hari, ga main sendirian lagi." Airin mencium pucuk kepala anak kesayangannya itu.
"Horeeee... Mau Ma main sama kak Darren. Jadi papa Vely siapa Ma?" Vely masih bingung.
"Daddy nya kak Darren. Nanti Vely panggilnya Daddy juga. Artinya sama dengan papa." jawab Airin sambil tersenyum. Namun ia tidak melihat senyuman di bibir Vely.
__ADS_1
"Napa bukan Om Richie, Ma? Om Richie kan sayang ma Vely. Waktu om Richie antar Vely ke sekolah, Theo tanya ma Vely itu siapa. Vely jawab aja papa Vely. Berarti Vely bohong sama Theo donk Ma." Vely menarik napas panjang mendengar cerita Vely.
"Bohong donk. Harusnya Vely bilang itu om Richie, teman mama. Sejak kapan om Richie jadi papa Vely?" Airin mencoba meluruskan pikiran Vely.
"Tapi Vely kira om Richie bakal jadi papa Vely." Vely terdengar sedih.
"Om Richie itu teman mama sayang. Mama harus menikah dulu, baru bisa kasih Vely papa baru. Dan mama ga bisa menikah dengan teman mama. Ya uda, Vely bobo dulu ya, besok mau sekolah kan." Vely mengangguk walau sebenarnya masih banyak yang mau ditanyakan dengan mamanya.
Airin kembali ke kamarnya. Sudah ada mama Rianti di sana.
"Vely sudah tidur?" tanya mama Rianti.
"Sudah ma.. Agak sulit, Vely terlalu...Otaknya itu lho ma, pikirannya tu panjang banget. Bingung jelasinnya." Airin bercerita sambil mengoleskan krim malam ke wajahnya.
"Pelan-pelan aja Rin.. nanti dia juga ngerti. Jadi kapan orang tua Aiden mau datang? Jangan mendadak ya. Mama kan harus ada persiapan."
"Sepertinya Sabtu ini Ma. Kalau hari biasa, Airin sama Aiden sibuk."
"Rin, mama mau ngomong. Tapi janji kamu jangan marah ya. Foto kamu sama Nathan di ruang tamu. Boleh ga disimpan saja? Kan kamu sudah menerima Aiden. Foto itu bisa membuatmu teringat terus dengan masa lalu. Kita juga harus menjaga perasaan keluarga Aiden." mama Rianti benar. Bukan Airin ingin melupakan Nathan, namun biarlah itu hanya ada di hati dan kenangan Airin.
__ADS_1
"Iya Ma. Mama benar. Tapi tolong Mama saja ya yang simpan, Airin..ga sanggup." ucap Airin. Seketika Airin ingat dia pernah berciuman dengan Aiden di sofa ruang tamu. 'Astagaaa.. Apa yang aku lakukan di depan foto Nathan. Maafkan aku..' Airin sedikit merasa menyesal.
*****