Bukan Pelarian

Bukan Pelarian
BAB 16


__ADS_3

Hannah datang ke RAF sekitar pukul 14.20 dengan penampilan yang lebih sederhana dari biasanya. Kaos putih yang bermerk sepertinya, dipadukan dengan celana ripped jeans dan heels bening yang tidak terlalu tinggi. Masukan dari Airin tentu saja. Ia sangat mengenal selera sahabatnya itu.


"Hai Hannah, tumben kesini." sapa Airin. Sapaan akting.


"Hai Rin.. Kebetulan lewat dan bawain kalian ini. Anak-anak di bawah sudah aku kasih juga kok." Hannah memberikan dua gelas kopi berlogo bintang tersebut. Airin bergerak maju untuk mengambil kopi itu.


"Airin ga bisa minum kopi. Sini, aku masukin kulkas bawah aja." Richie bergerak mendahului Airin dan turun ke bawah.


"Sori Han." Airin merasa tidak enak dengan sikap Richie.


"Gw yang minta maaf, gw ga tau lo ga minum kopi. He's so cool." Hannah tertawa kecil. Richie kembali masuk ke ruangan dan mendengar cekikikan mereka berdua.


"Richie, Hannah mau ajak ketemu calon klien nih. Katanya kalian sudah pernah kenal di pesta kemarin." jelas Airin.


"Kapan?" tanya Richie.


"Malam ini Ric." jawab Hannah.


"Gimana Rin?" Richie balik tanya ke Airin.


"Aku.. ga bisa." tiba-tiba Richie teringat dengan kartu ucapan yang diterima Airin tadi pagi. ***. Richie mengumpat dalam hati.


"Kalian aja. Nanti pertemuan selanjutnya aku pasti ikut. Aku janji." lanjut Airin sambil melirik ke Hannah. Ia tidak berani menatap Richie lama. Richie terdiam sebentar. Lalu ia bersuara.

__ADS_1


"Ok.. Nanti kita bareng aja Han, gw jemput. Share loc aja ya ke gw." Richie tersenyum ke Hannah.


"Oh boleh. Jam 6 sore aja nanti jemputnya." Hannah membalas senyuman manis itu.


Airin tersenyum melihat pemandangan di depannya. Sekarang ia bisa berpikir tentang dirinya dan Aiden nanti malam. Jujur saja, Airin agak gugup. Sudah lama dia tidak ngedate. Airin sudah bercerita tentang Aiden ke mamanya. Mama Rianti mendukung, walaupun ia lebih berharap bahwa orang itu adalah Richie. Bagaimanapun juga, Richie sudah lama mengenal Airin dan Vely. Mama Rianti melihat sayang yang tulus di mata Richie untuk mereka.


"Gw duluan ya Rin, Ric." Hannah pamit. Airin bisa melihat kebahagiaan di raut wajah Hannah. 'Sepertinya dia gadis yang baik, mudah-mudahan ini bisa berhasil*,' pikir Airin.


Sepeninggal Hannah. Richie mendekati Airin.


"Aku tahu rencanamu Airin Putri Felicia." Richie menatap Airin tajam. Airin terdiam. Richie menangkupkan kedua tangannya di kedua pipi Airin.


"Richie, aku..." Airin terdiam setelah Richie mengecup kilat bibirnya. Cuup.. Kecupan pertama mereka setelah mengenal selama 10 tahun.


Suasana mendadak canggung. Richie merasa wajahnya memanas. Detak jantung tidak karuan. Ia turun berniat meminum kopi dingin yang disimpannya tadi, meninggalkan Airin yang juga terlihat sama canggungnya.


Airin langsung membuka laptop nya berniat melupakan kejadian tadi. Hp nya berbunyi tanda telepon masuk.


Aiden.


"Lagi ngapain? Ganggu ga?" tanya Aiden.


"Di RAF, lagi buat proposal baru. Napa Ai?" Airin balik tanya.

__ADS_1


"Ai?" Aiden bingung.


"Iya, Aiden. Ada yang salah?"


"Ooo..Kirain "Ai" artinya cinta." Aiden sedikit kecewa.


Airin sedikit mencerna jawaban Aiden dan.. astaga.. Airin merasa agak malu.


"Rin, sepertinya aku menyukai panggilanmu itu, dan boleh aku panggil kamu gitu juga? Nama kita kan mirip, Ai." pernyataan dan pertanyaan itu membuat Airin sedikit malu. Ia merasa ini terlalu cepat.


"Boleh, ga masalah. Kan itu memang nama kita." Airin mencoba sedikit cuek.


"Ok, Ai. Nanti malam aku jemput ya jam setengah 7."


"Kita mau kemana Aiden?" Airin sengaja tidak memenggal nama itu.


"Ada deh, jangan pakai baju yang bisa buat dingin ya." pesan Aiden.


******


Hi readers, Author kasih visual Hannah ya.. Untuk Airin dan Aiden bisa dilihat di next episode. Happy reading ^-^


__ADS_1


__ADS_2