Bukan Pelarian

Bukan Pelarian
BAB 18


__ADS_3

Mereka sampai di depan rumah Airin pukul 10 malam.


"Ai, makasih ya untuk semuanya." Aiden mengecup pipi Airin. Sesuatu yang ditahannya dari seminggu lalu.


Airin tersenyum, ia sadar semua move on butuh proses. Aiden mengantar Airin masuk lalu pamit dengan mama Rianti.


Setelah Airin mencium Vely yang sudah tertidur lelap, ia ke kamarnya. Mamanya pun menyusul masuk.


"Gimana Rin?" kepo mama Rianti.


"Apanya Ma?" Airin pura-pura bego.


"Aiden..kalian kemana tadi?"


"Makan."


"Terus?"


"Pulang."

__ADS_1


"Ngomongin apaan aja maksud mama?"


"Naaah Ma, lupa Airin rekam."


"Intinya aja. Kalau bukan sama mama, kamu mau cerita sama siapa?! Cepetan donk." mama Rianti memang tidak sabaran untuk hal begini.


"Aiden mau serius ma Airin Ma."


"Kamu iyain ga?"


"He eh" Airin mengangguk. Mama Rianti tersenyum bahagia.


"Tapi ma, mama benar-benar ga masalah Aiden juga duda? Punya anak pula." tanya Airin.


"Belum ma, nanti Airin cerita. Pelan-pelan aja." Airin tersenyum kaku. Ia juga bingung bagaimana caranya menceritakan hal itu kepada Aiden.


Airin sedang melamun sendirian di ranjangnya. Ia membuka galeri foto di hp nya. Satu folder yang sudah sebulan tidak dibukanya. Foto Nathan, dari mereka pacaran hingga ada Vely.


'Sayang, bolehkah aku menerima semua ini dari pria yang bukan dirimu? Kamu akan selalu ada di dalam diri Vely, aku tidak akan pernah bisa melupakanmu. Aku percaya Tuhan dan kamu akan memberi jawaban untuk semua doaku dan Vely. Jangan membenciku sayang. Restui aku.' doa Airin di dalam hatinya. Air mata selalu mengalir setiap ia mengingat senyum Nathan.

__ADS_1


*****


"Darren, kalau Darren punya mama gimana?" Aiden menanyakan hal itu dengan hati-hati sambil melihat ekspresi anaknya. Darren yang sedang main game itu pun berhenti sambil menengok ke arah daddy nya.


"Maksudnya mama Darren pulang Dad?" tanya Darren.


"Bukan gitu sayang, maksud Daddy gimana kalau Daddy kenalin seseorang yang bisa jadi mama untuk Darren? Bisa sayang sama Darren, bantu Darren buat PR, ambil raport di sekolah kayak temen-temen Darren." jelas Aiden.


Jujur Aiden bingung. Dia hanya terlalu excited dengan semua ini dan merasa ingin membaginya dengan Darren. Dia bahkan belum menceritakan hal ini dengan mamanya.


"Emang ada Dad?" tanya Darren dengan ekspresi yang datar.


"Nanti Daddy kenalin ya, jangan cerita sama oma dulu. Promise?" Aiden merasa salah satu cara mengikat hati anak adalah dengan membuat sebuah rahasia kecil di antara mereka. Setidaknya itulah yang dia baca di salah satu buku psikologi anak.


"Ok Dad." Darren tersenyum. Tuh kan... Aiden merasa menang telah membuat Darren tersenyum.


Aiden kembali ke kamarnya. Ia tersenyum mengingat Airin. Belum pernah ada yang membuatnya begini selain Evelyn. Mantan pacarnya setelah ia bercerai hanya tiga orang. Itupun tidak bisa dianggap pacar, hanya 2-3 kali kencan sebelum mereka putus. Ia jadi ingat pesan Chris untuk memilih pacar yang "tidak norak". Ah, rasanya tidak sabar untuk mengenalkan Chris ke Airin. Memang lebih mudah bagi Aiden untuk move on dari Evelyn. Evelyn meninggalkannya dan Darren untuk mengejar karir menyanyinya di Prancis. Tepat Darren berumur 7 bulan, Evelyn pergi. Sungguh tega memang. Evelyn sempat mengirim berbagai pakaian dan mainan dari Prancis, namun Aiden telah berpesan dengan pembantu dan orang di rumahnya untuk membuang semua itu. Ia tidak ingin Darren mengenal sosok Evelyn bagaimanapun caranya. Entah itu benar atau salah, kejam atau tidak, Aiden tidak peduli. Kemarahannya menutupi itu semua. Dan sekarang ada Airin. Wanita yang sudah menghidupkan kembali perasaannya untuk ingin mencintai dan melindungi. Aiden teringat dengan foto Nathan di ruang tamu Airin. Pasti sulit bagi Airin untuk melupakan suaminya, pikir Aiden. Sebersit cemburu menusuk ulu hatinya. 'Aku tidak boleh egois, aku harus berusaha demi Airin.'


*****

__ADS_1


Haiiii... It's time for Aiden's visual. Hope you like it readers. Like dan commentnya ya jangan lupa.



__ADS_2