
Aiden merasa rencananya hancur. Ia pikir Evelyn akan menyuruhnya masuk, memberinya minum yang Aiden sudah berencana untuk "tidak meminumnya", kemudian Aiden akan menyuruh Evelyn mandi atau membuatkan makanan untuknya agar ia bisa mencari sesuatu di sana. Tetapi yang terjadi malah penyerangan terhadap dirinya. 'Fokus Aiden..berpikir..Ok, makanan.' pikirnya.
"Tolong buatkan aku nasi goreng. Aku mau makan dulu, aku tidak ada tenaga kalau lagi lapar." ucapnya.
"Kamu lupa aku ga pernah makan nasi? Pesan online saja ya." Evelyn senang melihat perubahan Aiden. Ia mendekati Aiden ingin memeluknya.
"Kamu belum mandi ya? Mandi dulu ya, biar harum. Jadi enak 'mainnya.'" Aiden terpaksa tersenyum demi aktingnya. Evelyn yang mendengar itu, langsung tersenyum senang. Mencium bibir Aiden, lalu berbisik "Tunggu aku."
Sepeninggal Evelyn, Aiden langsung mencari sesuatu yang bahkan dia juga tidak tahu apa itu. Ia masuk ke kamar Evelyn dan melihat Darren yang berbaring di sana. Aiden membuka laci meja yang ada di sana. Ia tidak menemukan sesuatu. Ia merasa perjuangannya ke sana sia-sia. Lalu ia melihat kumpulan tas Evelyn yang digantung. Sekitar lima tas. Aiden harus cepat, ia masih bisa mendengar suara shower dari dalam kamar mandi. Satu per satu tas dibukanya. Dan ia menemukan dompet di tas keempat. Aiden membukanya dan memeriksa isinya. Beberapa lembar uang, KTP,SIM, kartu debit, kartu kredit, beberapa kartu member... Tunggu, Aiden melihat ada yang janggal dari salah satu kartu kredit yang sudah dilewatinya tadi. Ia melihat kartu platinum itu, Felix Suhendra. Nama itu..sama dengan nama penerima kartu undangan yang dibawa Evelyn ke kantornya. This is it!! Aiden mengeluarkan ponselnya dan memfoto kartu itu. Ia membereskan semuanya, menggendong Darren, dan keluar dari apartemen itu secepatnya. Evelyn hanya bisa berteriak histeris mendapati apartemennya yang sudah kosong. Harusnya ia menyadari sikap Aiden tadi. Namun Evelyn yang sudah sangat merindukan pria itu tidak bisa lagi berpikir menggunakan logikanya. Ia mengeluarkan ponselnya, menelepon seseorang.
"Kirim foto tadi ke alamat yang aku chat. SEKARANG!!" Evelyn terlihat marah.
"Kamu yang paksa aku melakukan ini Aiden, jangan salahkan aku!" Evelyn berkata masih dengan handuk yang melilit tubuhnya.
Aiden merasa bahagia. Ia merasa pengorbanannya tidak sia-sia. Bahkan ia langsung mengirim foto kartu itu ke orang suruhannya untuk menyelidiki hubungan Evelyn dengan pria yang bernama Felix Suhendra. Aiden yakin Evelyn tidak memiliki keluarga yang bernama Felix Suhendra, itulah mengapa ia sangat semangat atas penemuannya ini. Ia melihat Darren masih tertidur di kursi belakang. 'Tidak biasanya Darren tidur siang begitu nyenyak,' pikirnya.
*****
__ADS_1
Di waktu yang sama di kantor RAF, seorang pria yang mengenakan masker menitipkan sebuah amplop bertuliskan, "Untuk Ibu Airin". Karen menyerahkan amplop tersebut ke Airin yang sedang membahas pekerjaan dengan Richie. Airin membuka dan terdiam melihat isinya. Ia bahkan lupa bagaimana caranya bernapas. Udara seakan tercekat di tenggorokannya.
"Rin, kamu kenapa?" Richie mengambil beberapa foto di tangan Airin. Foto Aiden sedang berciuman dengan Evelyn di depan pintu kamar. Evelyn hanya mengenakan lingerie ungu. Sudut foto yang diambil pun sangat pas. Membuat kita yang melihatnya merasakan betapa dua orang di foto itu sedang dimabuk cinta. Airin jijik melihat foto itu. Baru seminggu lalu ia keluar dari rumah sakit. Dan sekarang sakit yang ia dapat berkali-kali lipat. Airin menangis. Ia sudah tidak sanggup lagi. Ia lelah dengan semuanya. Enam bulan pernikahan. Baru enam bulan. Richie hanya bisa memeluk Airin, ia tidak bisa berkata-kata. Ia ingin menenangkan Airin, namun ia sendiri merasakan amarah yang luar biasa melihat foto itu. Richie merasa bodoh telah menyerahkan Airin untuk pria seperti Aiden. Selama ini ia merasa Aiden pria yang setia dan sangat mencintai Airin. Namun kenyataan terlihat di foto itu. Jangankan Airin, Richie pun merasa telah tertipu oleh Aiden.
Waktu sudah menunjukkan pukul setengah tujuh malam. Airin masih belum mau pulang. Panggilan berkali-kali dari Aiden diabaikannya.
"Rin, aku antar pulang ya." bujuk Richie.
"Aku ga mau pulang Ric. Aku takut." Airin tidak menangis lagi. Ia merasa air matanya sudah mengering.
"Terus rencana kamu apa? Vely menunggumu di rumah." kalimat Richie membuat Airin teringat dengan Vely. Tapi sungguh ia tidak bisa bertemu Aiden sekarang. Airin tidak bisa berpura-pura tidak terjadi apa-apa. Membahas masalah inipun ia sedang tidak ada tenaga. Ia lelah menghadapi sumber permasalahan yang sama berulang kali. Dan sekarang Aiden juga menjadi bagian dari sumber masalah itu.
"Aku akan membantumu dengan satu syarat. Kamu harus selalu kasih aku kabar, apapun itu. Aku tidak mau kamu lari dari pengawasanku." Airin menyetujui syarat itu.
Richie mengikuti mobil Airin dari belakang, ia khawatir membiarkannya menyetir dalam kondisi seperti itu. Ia melihat Airin dari jauh, mengambil kunci rumah yang tersembunyi di salah satu pot bunga di teras rumah, lalu masuk ke dalam. Richie pun pulang.
Benar saja, tidak berapa lama, Aiden menelepon Richie. Richie hanya menjawab ia tidak tahu keberadaan Airin. Richie merasa bersalah melihat Aiden yang uring-uringan mencari Airin di jam 9 malam. Namun ia juga tidak bisa melihat Airin menjadi gila dengan semua masalah yang disebabkan oleh Aiden dan Evelyn.
__ADS_1
Airin mengurung diri di kamarnya. Kenangan akan Aiden yang menggendongnya ke atas di saat kakinya terluka membuatnya menangis lagi. Ia juga kangen dengan Darren dan terutama Vely. Namun ia masih tidak tahu bagaimana harus menghadapi Aiden di saat ia masih sangat emosi. Airin yakin ia tidak bisa menyelesaikan masalahnya dengan logika sekarang. Ia merasa kehidupan drama Korea yang ingin ia hindari malah balik menyerangnya. Tidak pernah Airin bayangkan ia akan kabur dari rumah. Tapi ia pasti akan kembali. Pasti.
*****
Aiden mendatangi kantor RAF jam 7 pagi, bahkan sebelum kantor itu dibuka. Ia tidak bisa tidur semalaman. Aiden juga tidak berani menelepon ibu mertuanya untuk menanyakan apakah Airin di sana. Ia memutuskan akan bertanya jika hari ini dia tidak bisa menemukan Airin. Bahkan pagi ini ponsel Airin sudah tidak bisa dihubungi.
Beberapa karyawan RAF sudah datang, Aiden bertanya kepada mereka kapan mereka terakhir melihat Airin. Mereka semua menjawab Airin terlihat bersama Richie di atas hingga tutup kantor. Aiden menunggu hingga Richie datang sekitar jam 9. Ia berusaha menahan emosinya. Aiden tahu Richie pasti mengetahui keberadaan Airin.
"Bangsat!! Kasih tau ga di mana Airin?!" Aiden tidak bisa lagi menahannya setelah Richie menghindari pertanyaannya denganĀ jawaban tidak tahu. Ia mendorong Richie ke dinding. Richie pun tidak kalah kuat, ia mendorong Aiden agar melepaskan cengkeramannya.
"Yang bangsat itu kamu! Harusnya aku tidak melepaskan Airin. Aku kira kamu bisa membahagiakannya. Tapi pria sampah seperti kamu ya pantasnya masuk ke tempat sampah seperti Evelyn. Kalian memang cocok bersama." Richie berteriak marah.
"Maksud kamu apa? Katakan! Aku yakin kamu pasti mengetahui sesuatu." Aiden terlihat lebih tenang, ia yakin Richie tahu alasan Airin tidak pulang dari apa yang dia katakan mengenai Aiden dan Evelyn.
"Nih!! Airin lihat itu kemarin." Richie melempar beberapa lembar foto di atas mejanya. Aiden mendekat dan melihatnya. Tidak percaya akan kelakuan Evelyn. Ternyata dia sampai menyewa orang untuk siasat busuknya. Aiden mencoba meyakinkan Richie, menceritakan semua kronologinya. Richie pun mencoba menimbang apa yang didengarnya dari Aiden dengan apa yang dilihat dari foto itu. Dan ia memilih untuk percaya dengan Aiden. But wait..
"Kamu bilang tadi Felix Suhendra?" tanya Richie. Aiden mengangguk.
__ADS_1
"Om ku juga bernama Felix Suhendra, tapi aku tidak yakin itu orang yang sama. Om ku sangat mencintai istrinya. Mungkin hanya nama yang sama." lanjut Richie. Ia lalu memberi tahu Aiden bahwa Airin kembali ke rumah lamanya. Richie sangat berharap mereka dapat menyelesaikan kesalahpahaman itu. Aiden pun tidak menunggu lebih lama lagi untuk menyusul Airin ke sana.