Bukan Pelarian

Bukan Pelarian
BAB 15


__ADS_3

*****


Airin tidak bisa tidur. Matanya terpejam tapi otaknya bekerja.


'Aku perlu kasih tau Richie ga ya Aiden ajak aku jalan?' pikir Airin dengan mata masih terpejam.


Airin merasa ia harus menjaga perasaan Richie setelah pengakuannya kemarin. Richie sahabat terbaiknya, setelah Vina tentunya. Dua tahun pertama setelah suaminya meninggal, Airin benar-benar menutup diri dalam masalah percintaan. Lalu Mama Rianti menasihatinya, jika Airin masih berniat untuk menikah, mulailah untuk membuka diri, mumpung Vely masih berusia tiga tahun. Sejak saat itu, yaaa..hanya satu seh yang Airin terima ajakan "kencan"nya. Itupun anak dari teman mama Rianti. Dan itu hanya bertahan dua kali kencan. Airin kurang sreg dengan pria yang terlalu banyak berbicara. Mungkin tanpa sadar, Airin suka membandingkan pria yang mendekatinya dengan Nathan, almarhum suaminya.


'Huuuhhh..' Airin menarik napas dalam lalu menghembuskannya kasar. Mengapa wanita selalu memikirkan sesuatu hingga A ke Z. Pertanyaan yang tidak perlu dijawab. Airin selalu menjawab seolah-olah tidak peduli dengan semua itu. Tapi jauh..jauh di bawah alam sadar Airin,itu menjadi tanda tanya besar.


'Tidur Airin, besok ada project baru di RAF. Semangat...let all of this flow!!' seru Airin dalam hatinya.


*****


"Rin, jadi kapan mau ketemu Pak Robby? Rin..Riiin.." Richie kesal omongannya tidak didengar oleh Airin yang sepertinya sedang sibuk membalas pesan chat di hp nya.


"Eh, oh apa Ric?" Airin seperti salah tingkah. Cepat-cepat ia menutupi sedikit layar hp nya. Tanpa ia sadari Richie sudah melihat nama yang tertera di atas layar tersebut. Hannah Fang.

__ADS_1


'Ngapain Airin chat an sama Hannah?' Richie bingung.


Tidak berapa lama, Karen mengetuk pintu ruangan mereka.


"Permisi Mba Airin, ada kiriman bunga." ucap Karen sambil membawa sebuah bouquet besar berisi bunga mawar putih dan merah.


Airin menerima bunga itu dan membaca tulisannya, "**Beautiful flower for the most beautiful Lady..See you tonight."* Airin tahu pengirim bunga itu. Tapi tidak dengan Richie. Dia mengambil kartu ucapan itu, membacanya sepintas, lalu menoleh ke Airin sambil mengangkat sebelah alisnya.


Airin seakan tahu apa yang akan ditanyakan pria itu.


"X Group?" Richie seakan tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Airin mengangguk.


Richie berusaha tampak tenang. Ia tahu ini pasti terjadi. Hanya saja tidak menyangka secepat ini. Baru sebulan lebih Airin mengenal Aiden. Sedangkan dia....


"Aku.. dipanggil papa ke kantor, nanti siang aku balik lagi kesini." ucap Richie pelan.


"Ok..save drive." Airin tersenyum kikuk.

__ADS_1


'Tuh kan..ada jalan keluar untuk semuanya.' pikir Airin lega. Lega karena ia tidak perlu mencari jalan untuk menceritakan semuanya kepada Richie. Mendadak Airin teringat dengan WA Hannah yang belum dia balas.


'Sori Han, dia ke kantor papanya sekarang. Siangan baru kesini lagi. Nanti kalau dia uda nyampe, aku WA ya.' balas Airin.


'Siip.. btw, thanx ya Rin. Sebenernya gw malu bersikap gini, tapi gw jarang banget lho suka ma cowok ampe segininya. Biasa kan cowok yang ngejer gw hahaha.. Pede banget gw. Tapi Richie..dia cuek gitu pas gw uda tebar pesona. Makin dia cuek, makin gw tahu kalau dia itu beda ma cowok lain.'* terang Hannah. Chat yang panjang dalam sekali kirim.


'Sama-sama Han..Richie itu sahabat baik gw, pesen gw cuma jangan sakitin dia ya. Buat dia bahagia.' pesan Airin.


*****


Richie uring-uringan di kantor. Dia bukan tipe pria bucin akut yang akan emosi tingkat tinggi jika gebetannya dikejar pria lain. Dia hanya merasa lebih putus asa akan peluangnya mendapatkan hati Airin. Sakit pastinya ditikung oleh orang yang baru ia kenal. Ia hanya berharap masih ada kesempatan untuknya. Richie tetap berharap Airin bahagia dengan apapun pilihannya. Bukannya itu yang dinamakan cinta? Simple kan.. Tapi entah apakah dia sanggup melakukannya.


******


Hai readers, ini author kasih visual Richie ya. Hope you like it..Happy reading ^_^


__ADS_1


__ADS_2