
Weekend pertama Airin setelah pengakuan cinta Aiden. Mereka berencana untuk mengajak Darren dan Vely karaoke. Airin berinisiatif agar sebaiknya mereka bertemu di tempat karaoke keluarga saja langsung.
Airin sampai di ruangan 206 bersama Vely, ternyata Aiden dan Darren sudah sampai terlebih dahulu.
"Kak Darren.." panggil Vely dengan keras.
"Mama ga bilang ada Kak Darren." lanjutnya. Aiden selalu senang melihat kelincahan Vely.
"Hai, Darren. Apa kabar? Kata Daddy, Darren mau ajarin Vely nyanyi pakai bahasa Inggris ya?" Darren mengangguk ke Airin.
Aiden memang bilang ke Darren untuk mengajari Vely karaoke lagu bahasa Inggris. Dan untungnya, Darren mengiyakan. Vely dan Darren sepertinya sangat menikmati moment itu. Sesekali Aiden mengenggam tangan Airin dan menciumnya. Tentu saja tanpa sepengetahuan anak-anak.
Tiga jam mereka berkaraoke. Mereka lanjut untuk makan siang yang sudah agak telat. Mereka masuk ke sebuah restoran Jepang. Baru saja duduk. Seseorang memanggil Airin.
"Airin, kok bisa dengan Pak Aiden?" Hannah mendekat ke arah mereka dan melepaskan gandengan nya dengan...Richie.
"Kami..." Aiden ingin menjawab namun kalimatnya dipotong Airin.
"Kami tadi ngajakin anak karaoke, kebetulan mereka satu sekolah." jawaban yang sungguh absurd.
Hannah sedikit bingung tapi dia merasa tidak etis untuk lanjut bertanya.
__ADS_1
"Gabung kami aja." Aiden menawarkan.
"Boleh, Richie sini yuk." Hannah memanggil Richie yang berdiri terpatung sekitar tiga meter dari meja mereka.
Richie mendekat. Ia merasakan sesak seperti dejavu ketika bertemu dengan potret yang sama di depan restoran seafood beberapa minggu lalu. 'Sampai kapan aku harus merasakan ini ya Tuhan? So hurt'.
"Hi Richie, duduk sini yuk." Aiden menyapa Richie yang tampak aneh menurutnya. Something wrong. Perasaan Aiden selalu benar tentang hal yang seperti ini.
"Kalian dari mana?" Airin merasa ia harus memecah keheningan antara dirinya dan Richie.
"Kami baru sampai juga. Emang rencananya mau makan di sini." jawab Hannah. Hannah merasa Richie mendadak berubah mood. Baru saja Richie ngobrol santai dengannya di mobil. Ia merasa ada yang aneh dengan situasi ini.
Aiden dan Hannah yang mengira bahwa makan siang bersama ini akan berlangsung seru, ternyata hanya ramai dengan ocehan Vely yang tidak henti-hentinya berbicara.
Sesampainya di rumah mengantar Darren, Aiden menelepon Airin.
"Ai, aku masih ingin bertemu. Aku ke rumah ya." Aiden membuat Airin tersenyum di ujung sana.
Sesampainya di sana, Airin keluar, masuk ke mobil Aiden. Masih dengan dress peach yang sama dengan tadi.
"Yuk, kita jalan saja. Vely tidur dari tadi di jalan pulang." ajak Airin.
__ADS_1
"Mau kemana Ai?"
"Pantai yuk..Aku merasa sesak.." Airin terlihat sedikit muram dan serius.
Aiden mengendarai mobilnya dalam sepi sekitar satu jam, pukul 16.20, mereka sampai di pantai yang cukup sepi. Aiden hanya merasa ia harus membawa Airin ke pantai yang tidak terlalu ramai. Asumsi dan keputusan yang Aiden ambil biasanya cukup tepat, itulah mengapa ia bisa sesukses sekarang tanpa bayang-bayang papanya lagi.
Airin turun dari mobil, menuju ke sebuah kursi panjang di pinggir pantai. Aiden mengikutinya dari belakang.
Sepuluh menit berlalu dalam keheningan. Airin menikmati suara ombak yang terdengar indah di telinganya. Sedangkan Aiden menikmati wajah putih merona Airin dari samping. Airin yang merasa diperhatikan seketika menoleh ke arah Aiden.
"Maaf, aku aneh ya?" kata Airin.
"Ga..Sikap kamu manis kok, aku bisa jadi pendengar yang baik. Kalau kamu berkenan Ai." Aiden tersenyum.
"Dulu aku dengan Nathan paling suka ke pantai." Airin memulai ceritanya dengan menyebut nama "Nathan". Aiden berusaha mengendalikan kecemburuannya yang mendadak muncul.
"Semenjak dia pergi, selama itu pula aku tidak pernah lagi ke pantai. Baru sekali ini, denganmu." lanjutnya sambil menoleh ke Aiden. Seketika itu juga perasaan Aiden menghangat.
"Aku sudah membulatkan hati untuk menghadapi semua ketakutan ini. Di sini, aku ingin Nathan melihat dan merestui kita dari sana." Airin mengambil tangan Aiden, menggenggamnya erat. Aiden menarik Airin ke pelukannya. Mencium kening wanita yang telah membuatnya berdebar kuat. Airin membalas pelukan itu. Ia merasakan kehangatan yang sama saat ia memeluk Nathan. Tidak... Ini beda.. Airin merasa pelukan Aiden bukan hanya menghangatkannya, namun melindunginya. 'Aku tidak bisa lagi membandingkan Aiden dengan Nathan. Ini bukan pelarianku, aku benar-benar menyukainya, mungkin perlahan aku bisa mencintainya.' batin Airin berkata jujur.
__ADS_1