Bukan Pelarian

Bukan Pelarian
BAB 46


__ADS_3

"Eva??" tanya Airin sambil menaikkan sebelah alisnya. Aiden berpura-pura sibuk bermain game, tidak terlalu mempedulikan pertanyaan itu.


"Panggilan sayang?" tanya Airin lagi sambil mengoles skin care ke wajahnya.


"Panggilan lama Ai." Aiden menjawab dengan hati-hati.


"Tapi aku baru mendengarnya tadi siang." jawaban Airin membuat Aiden berpikir keras apa lagi yang harus dikatakannya. Sebenarnya karakter yang dimainnya di dalam game sudah mati dari tadi, tapi Aiden tidak berani meletakkan ponselnya.


"Cuma akting Ai." Airin kembali ke tempat tidur sambil menatap suaminya. Tadi siang ia dan Richie mendengarkan rekaman yang dibawa Aiden ke RAF. Airin mendengar percakapan itu dengan geram, tapi ia berpura-pura bahagia karena Aiden berhasil mendapat bukti yang sangat penting.


"Biar dia yakin denganku." tambah Aiden.


"Terus abis disuruh pindahin mobil, kamu jadi cium dia?" Airin terus menginterogasinya.


"Kan aku langsung jalan, aku bilang mau balik ke kantor. Tidak ada suara kecupan kan?" jelas Aiden dengan sabar.


"Mana tahu ga pake suara." Airin sedikit cemberut. Aiden menyadarinya. Ia meletakkan ponselnya.


"Cemburu?" Aiden tertawa kecil melihatnya.


"Pastilah. Kadang otakku suka menerawang bagaimana wanita yang penuh obsesi dan seksi seperti dia memperlakukanmu dulu. Aku sampai merasa insecure. Tanpa sadar aku membandingkan diriku dengan dia. Aku takut aku tidak bisa lebih baik darinya dalam melayanimu. Apalagi di antara kalian ada Darren, sedangkan di antara kita tidak ada pengikat apapun." Aiden tidak menyangka Airin berpikir hingga ke sana. Ia memeluk Airin.


"Aku suka kamu cemburu. Tapi jangan pernah membandingkan dirimu dengan dirinya. Mungkin di masa lalu dia memang yang terbaik untukku. Namun sekarang, cuma kamu yang terbaik. Dan aku berharap 'sekarang' itu akan menjadi selamanya. Satu lagi Ai, kita tidak butuh pengikat. Kita sudah diikat di hadapan Tuhan saat kita menikah. Kita hanya butuh Darren dan Vely." Airin memeluk suaminya erat. Mungkin inilah mengapa Airin membahas tentang rekaman tadi siang. Ia tahu Aiden akan mengeluarkan kata-kata yang dapat menenangkan hati dan pikirannya. Airin menyukai itu. Itulah mengapa banyak yang bilang jika kaum hawa sangat lemah dengan apa yang didengarnya, sedangkan kaum adam lemah dengan apa yang dilihatnya. Dan sekarang ciuman lebih dari atau sama dengan lima detik itu datang lagi.


*****


Richie memberi tahu papanya tentang apa yang ditemukan Erwin. Papa Richie sangat marah. Ia memanggil Felix ke kantornya. Ketika Felix datang sudah ada Richie dan Erwin di dalam sana menunggunya.


"Jadi katakan sekarang, kemana perginya uang 1,5 milyar itu?" Andirawan bertanya ke adik iparnya. Felix sangat terkejut saat Erwin memperlihatkan cetakan transaksi keuangan yang dilakukan Felix menggunakan dana kantor.


"Ooh ini.. aku membayar pemesanan bahan baku untuk pembuatan tiang proyek." Felix jelas sekali terlihat gugup.


"Lalu mana barangnya? Richie sudah mengecek ke bagian gudang, tidak ada kiriman barang seharga begitu." papa Richie paling tidak suka dibohongi apalagi masalah uang dan itu dilakukan oleh keluarganya sendiri.

__ADS_1


"Aku..aku ditipu supplier Kak. Maaf harusnya aku memberitahumu lebih awal. Tapi aku takut kamu marah besar Kak." ucap Felix berharap kakak iparnya mempercayai ucapannya,


"Dan aku jauh lebih marah sekarang. Beraninya kamu menipuku. Dan sekarang kamu juga masih berpikir untuk membodohiku? Jika Richie dan Erwin tidak melaporkan hal ini padaku, kamu pasti tidak akan pernah menceritakannya sampai kapanpun. Lihat itu!" Andirawan melemparkan sehelai kertas ke Felix. Felix mengambil dan membacanya.


"Kamu tahu itu apa?" lanjutnya lagi. Felix tidak percaya mereka bisa mendapatkan nomor rekening tujuan uang yang ditransfernya, dan itu atas nama Jacques Marvelo, produser Evelyn di Prancis. Felix terdiam, merasa riwayatnya akan segera tamat.


"Aku tidak peduli hubungan apa yang kamu miliki dengan penyanyi itu. Aku hanya minta kamu mengembalikan uang yang kamu ambil. Oh iya, kamu mencairkan deposito perusahaan untuk transaksimu itu kan? Erwin, tambahkan bunga delapan bulan dalam utang Felix. Aku beri kamu waktu satu minggu untuk melunasi utangmu. Lebih lama dari itu, aku akan memintanya pada istrimu." Mereka semua keluar dari ruangan Andirawan.


Felix bingung di mana ia harus mencari uang 1,5 milyar dalam waktu seminggu. Uang Felix sebagian ia beri ke istrinya dan sebagian lagi ia beri ke Evelyn. Dalam masalah ini, tidak mungkin ia meminta uang ke istrinya. Felix memutuskan untuk meminta bantuan Evelyn.


"Aku mana ada uang segitu Mas. Aku akan beri kamu 50 juta." ucap Evelyn di apartemennya.


"50 juta? Aku menebusmu 1,5 milyar! Apa kamu lupa?" Felix emosi.


"Aku tidak lupa. Tapi apa aku pernah memintanya? Tidak kan? Kamu hanya minta aku jadi teman tidurmu dan itu sudah aku lakukan." jawaban Evelyn membuat Felix marah dan pergi dari sana.


'Bagus, sekarang aku punya alasan kuat untuk meninggalkan Mas Felix. Kita akan segera bersama Aiden sayang. Apa perlu aku menghubunginya sekarang supaya ia juga secepatnya bersiap meninggalkan istri mandulnya?'


Evelyn menelepon Aiden dan mengabarkan bahwa ia dan Felix akan segera berpisah. Evelyn mengundang Aiden ke apartemennya karena yakin Felix tidak akan kembali untuk sementara. Namun Aiden menolaknya dengan alasan akan ada rapat penting di kantor.


"Papa sudah mengetahui semuanya dan meminta tanggung jawab finansial ke om Felix. Untuk masalah dia dengan Evelyn aku tidak berhak ikut campur. Walaupun aku mengetahui ia mengkhianati istrinya, biarlah ia saja yang menyelesaikannya. Aku tahu papa juga pasti sudah mengetahui hal itu." ucap Richie.


"Aku mengerti. Aku dan Airin pun sebenarnya tidak mau merusak hubungan Felix dengan istrinya. Tujuan pertama kami sebenarnya hanya ingin mengurangi hak kunjungnya. Itupun kami lakukan karena niat buruknya untuk merusak hubungan aku dengan Airin." Aiden mengenggam tangan Airin. Jujur ia tidak menyangka tujuannya itu malah membuat masalah ini melebar hingga menyeret kasus penggelapan dana di perusahaan papa Richie.


"Aku berterima kasih atas nama papa untuk kalian. Secara tidak langsung kalian sudah membantu kami membongkar fraud yang terjadi di kantor." ucap Richie tersenyum.


"Makasih apaan sih Ric? Lupa kalau kita friendship forever?" Airin tertawa mendorong bahu Richie pelan, memecah keseriusan yang terjadi siang itu.


'Aku berusaha terus mengingatnya Rin. Friendship Forever. Bukan friendship sebulan atau setahun. Forever.' Richie tertawa, seperti Joker yang tertawa dalam tangisnya.


*****


Aiden memanggil Evelyn ke kantornya tiga hari setelah pertemuannya dengan Richie.

__ADS_1


"Halo sayang.." Evelyn masuk ke ruangan Aiden dengan rok mini ketatnya. Ia menghampiri Aiden berniat menciumnya. Namun ia merasa lengannya ditarik seseorang.


"Jangan berani menyentuh suamiku lagi Evelyn!" ucap Airin dengan nada tenang.


"Airin?" Evelyn terkejut. Tapi ia langsung tersenyum melihat Airin ada di sana.


"Oh, kebetulan. Aku yakin Aiden juga memanggilmu untuk memberitahumu sesuatu. Soal hubungan kami. Aku harap kamu bisa menerimanya dengan ikhlas dan bisa pergi tanpa paksaan dari kami. Benar kan sayang?" Evelyn meminta pembelaan dari Aiden.


"Memang benar aku meminta Airin istriku kemari." Evelyn tersenyum senang.


"Namun bukan untuk alasan itu. Duduklah Evelyn." sambung Aiden. Ia menelepon Valen untuk meminta seseorang masuk.


"Selamat siang, Pak Aiden." sapa Pak Sihombing.


"Selamat siang, Pak. Apakah suratnya sudah siap?" tanya Aiden. Pengacaranya mengangguk.


"Ada apa ini?" Evelyn bingung tapi masih berharap itu surat perceraian Aiden dan Airin.


"Begini. Pak Sihombing telah mengurus pencabutan hak kunjungan atas Darren untuk waktu yang tidak ditentukan." Aiden menjelaskan tujuan utama ia memanggil Evelyn ke kantornya.


"Apa maksudmu?" Evelyn mulai terlihat emosi. Aiden mempersilahkan pengacaranya untuk menjelaskan lebih lanjut.


"Begini Bu Evelyn. Saya telah memberikan bukti berupa kasus penipuan yang menjerat Ibu Evelyn di Prancis, juga tindakan perzinahan antara Bapak Felix Suhendra dengan Ibu Evelyn yang sudah dilaporkan oleh istri Pak Felix. Atas dasar bukti tersebut, dan menimbang bukti obat tidur yang pernah Ibu berikan ke Darren, maka hakim sudah memutuskan untuk mencabut hak kunjungan Ibu Evelyn Princessa Sudrajat terhadap Darren Kevin Alexander untuk waktu yang tidak ditentukan. Untuk pelaporan dari istri Pak Felix sendiri itu di luar ranah kami. Silahkan Ibu Evelyn menghubungi yang bersangkutan. Saya hanya berkuasa untuk mengurus permintaan dari klien kami yaitu Pak Aiden." Penjelasan panjang dari Pak Sihombing membuat Evelyn histeris. Ia berteriak seperti orang gila.


"Kamu menipuku Aiden. Kamu jahaaat!!" Evelyn mengambil vas bunga di depannya dan melemparnya ke arah Aiden.


"Airiiin!" Aiden berteriak. Ternyata Airin tanpa banyak berpikir maju menjadi perisai Aiden. Airin menyadari ada sesuatu yang mengalir di keningnya sebelum akhirnya ia hilang kesadaran.


"Satpam! Satpaam!" Aiden berteriak dan menatap marah ke Evelyn.


"Jika terjadi apa-apa dengan Airin, jangan harap kamu akan selamat!" ancam Aiden ke Evelyn yang terlihat ketakutan dengan apa yang telah diperbuatnya.


*****

__ADS_1


PS: Hai readers...satu episode lagi petualangan Airin dan Aiden akan berakhir ya. Dan di episode terakhir, Author akan membocorkan sedikit cerita untuk novel kedua. Stay tuned. Terima kasih. ^-^


__ADS_2