Bukan Pelarian

Bukan Pelarian
BAB 35


__ADS_3

"Aiden, aku di sekolah Darren sekarang. Aku mau jemput dia. Harusnya jadwal aku ketemu dia itu minggu lalu." Evelyn menelepon Aiden.


"Kamu ga bisa seenaknya Evelyn, sekarang Airin lagi di jalan mau jemput anak-anak." Aiden terdengar sedikit emosi.


"Ya kamu kesini donk, biar kita bisa pulang bertiga." Evelyn menantang Aiden. Aiden mendengus kesal.


"Tunggu aku, kamu jangan bertindak sendiri. Mengerti?" Aiden menutup panggilan itu, bergegas menuju ke sekolah.


Evelyn tersenyum senang. Siasatnya untuk bertemu Aiden berhasil. Ia sangat merindukan pria itu. Evelyn selalu membayangkan Aiden ketika dia bercinta dengan pria lain.


Tok..tok..kaca jendelanya diketuk dari luar. Aiden. Evelyn turun dari mobilnya.


"Ngapain kamu kesini? Kenapa ga telepon Pak Sihombing buat atur jadwal?" Aiden mencekal lengan Evelyn.


"Lepas sayang, sakit. Lembut dikit napa." Evelyn menarik tangannya.


"Otak kamu sakit ya? Pulang sana. Airin ga bisa jemput, jadi aku yang jemput anak-anak." ucap Aiden.


"Bagus donk. Untung aku datang. Ibu macam apa dia jemput anak saja tidak bisa. Mendadak pula." baru Aiden akan memarahi Evelyn karena berkata buruk tentang Airin, Darren dan Vely menghampiri mereka.


"Daddy..." Vely berteriak. Darren diam saja. Ia melihat mommy nya juga di sana.


"Hai Darren..Hai Vely, kenalin Tante mommy nya Darren." Evelyn berkata dengan suara manis ke mereka.


"Anak-anak, kita pulang yuk." ajak Aiden.


"Sayang, kalau hari ini kamu ga izinin aku ajak Darren makan siang, weekend nanti aku minta waktu lima jam." Evelyn berkata dengan suara keras. Aiden terdiam. Dua jam saja dia malas, apalagi lima jam.


"Yuk anak-anak, kita pergi makan. Kalian mau makan apa?" ajak Evelyn tanpa menunggu jawaban Aiden. Dengan pede nya, Evelyn duduk di kursi depan mobil Aiden.


Tiga jam kemudian, Aiden pulang bersama anak-anak. Ia menyuruh Evelyn untuk naik mobil online kembali ke sekolah Darren mengambil mobilnya. Aiden tidak sudi mengantarnya kesana.


"Kok kamu yang jemput anak-anak Kak?" tanya mama Shinta.

__ADS_1


"Airin ada urusan mendadak, Ma." Aiden duduk lesu di sofa tengah.


"Kan bisa minta Pak Tarno jemput." Aiden lagi malas menyebut nama Evelyn di depan mamanya. Sepulang dari Bandung minggu lalu, mama Shinta marah-marah perihal Evelyn yang datang ke pernikahannya. Aiden sudah meyakinkan mamanya bahwa tidak akan ada yang berubah dari hak asuh atas Darren. Makanya sekarang sebisa mungkin ia tidak mau menyebut nama Evelyn yang sebenarnya selalu membuat masalah.


Airin masuk ke mobil Aiden setelah melambaikan tangan ke Karen. Ia pulang terlebih dahulu karena Aiden sudah menjemputnya.


"Pulang aja yuk Ai, makan malam di rumah. Aku capek. Tadi mendadak harus susun ulang proposal. Maaf ya jadi kamu yang harus jemput anak-anak." ucap Airin tersenyum ke Aiden. Ia melepaskan high heels untuk merilekskan kakinya. Aiden balik tersenyum setelah mengiyakan. Ia mengendarai mobilnya sambil berpikir apakah ia harus menceritakan masalah Evelyn sekarang atau nanti. Ia memutuskan untuk membicarakannya setelah Airin mandi, biar pikrannya lebih dingin. Setelah sampai, Airin menunduk ingin mencari sepatunya yang agak bergeser ke bawah tempat duduknya.


"Ini punya siapa,Ai?" Airin mengambil sebuah lipstik di dekat sepatunya.


'****, Evelyn. Beraninya kamu!!' Aiden mengumpat dalam hati.


"Nanti aku jelasin Ai. Turun dulu yuk, kita cerita di kamar saja." Aiden berkata tenang. Airin pun mencoba menahan keingintahuannya itu. Mereka masuk ke rumah disambut anak-anak mereka.


"Mama tadi kami makan es krim." Vely bercerita riang sambil duduk dengan mamanya di ruang tengah.


"Oh ya? Sama Daddy pas pulang sekolah ya? Sayang banget mama ga bisa ikut." Airin berpura-pura sedih.


"Ada mami nya kak Darren juga Ma. Iya kan Kak?" Darren mengangguk.


"Tapi kok dia panggil Daddy sayang? Memang mami kak Darren sayang sama Daddy ya?" lanjut Vely.


SKAK MAT. Mata Airin melotot tajam ke Aiden. Namun ia masih bisa menahannya di depan anak-anak.


"Darren dan Vely ada PR ga? Sudah dibuat belum? Kak Darren bantu Vely ya. Nanti tidurnya jangan malam-malam. Mama lagi capek. Daddy mau pijitin mama dulu." Aiden berkata panjang lebar seakan ingin mengusir mereka. Darren pun mengajak Vely untuk membuat PR. Tanpa berkata-kata, Airin naik ke kamarnya.


"Jadi lipstik itu punya dia?" Airin mencoba tenang. Ia mengambil kapas, membersihkan make up nya, mengambil air putih, dan meminumnya. Aiden mencoba membaca situasi.


"Iya. Tadi dia ke sekolah anak-anak. Aku mengira tadinya kamu yang akan bertemu dia, Ai. Singkatnya dia ingin mengajak anak-anak makan jika aku tidak mau terjebak lima jam bersamanya weekend nanti." jelas Aiden.


"Aku tidak butuh singkatnya. Ceritakan semuanya, detail." Inilah yang disukai oleh Aiden. Profesi pekerjaan Airin selalu menuntutnya untuk detail sehingga tidak ada yang luput dari pemahamannya. Aiden menceritakan semuanya dari panggilan Evelyn hingga dia kembali ke sekolah sendiri. Airin bernapas panjang mencoba mencerna dan mencari komentar terbaik untuk semua yang didengarnya.


"Kesimpulannya adalah...hidup kita sekarang diatur oleh Evelyn." sebuah tanggapan yang tidak pernah terpikir oleh Aiden.

__ADS_1


"Dan dia masih terobsesi denganmu, aku rasa. Sial!!" Airin mendadak mengingat Evelyn yang memeluk Aiden dari belakang di kantor, mencium pipi Aiden di depan matanya saat pernikahannya, dan sekarang..panggilan sayang di depan anak-anak. 'Mau apa dia? Dia salah memilih lawan.' pikir Airin.


"Maaf Ai, aku yang salah. Aku terjebak oleh permainan Evelyn. Maaf." Aiden memeluk Airin mencoba menenangkannya. Ia  tidak melihat kemarahan di mata Airin untuknya. Oooh..sungguh ia mencintai wanita ini.


"Seharusnya aku memilih lima jam di weekend bersamanya dan aku akan mengajakmu. Tapi aku belum tahu jadwalmu minggu ini. Aku takut salah memilih. Kamu tahu kan, aku tidak pernah berharap dia kembali lagi. Dua jam  bersamanya, itu...apalagi lima jam?!" Aiden tidak bisa membayangkannya.


"Kita cari jalan keluarnya bersama. Aku akan memberitahumu jadwalku di setiap weekend, kecuali ada schedule mendadak ya. Aku..akan menemanimu. Enak saja dia melihat suamiku dua jam tanpa gangguan. Dan dia mau lima jam?? Tenang saja, aku bakal mengganggunya dengan Vely." Hahaha...Aiden tertawa. Ia tahu terkadang Vely bisa diandalkan untuk merusak suasana.


"Aku akan mencoba diskusi dengan Pak Sihombing adakah cara untuk mengurangi hak kunjung Evelyn. Aku merasa weekend kita selalu terganggu gara-gara hal ini." Airin mengangguk mendengarnya.


"Jadi mau ga aku pijitin?" Aiden tersenyum ke Airin. Senyuman yang Airin tahu apa artinya.


"Nanti saja lah Ai, aku mau mandi dulu. Gerah." Airin berjalan ke arah kamar mandi.


"Nah, sama donk. Aku juga gerah, pengen dimandiin. Nanti aku pijitin di dalam." Aiden berlari menyusul Airin yang terkekeh mendengarnya.


Bercinta bukan hanya sebagai bentuk pelampiasan. Itu adalah bentuk penyampaian bahwa "Kamu adalah milikku, hanya milikku. Tidak akan kubagi dengan orang lain." Tentu saja itu hanya berlaku bagi orang yang percaya cinta. So simple.


*****


"Oh Aiden, kamu hebat sayang.." seru Evelyn dalam hatinya ketika ia sedang bercinta dengan seorang pria. Mereka selalu melakukannya dengan lampu yang diredupkan, biar lebih intens alasannya. Padahal Evelyn tidak terlalu suka menatap lawan mainnya itu. Ia hanya membutuhkan raga pria itu lalu membayangkan Aiden yang melakukannya. Pria itu selalu puas dengan permainan Evelyn. Lama di Prancis memang membuatnya sangat ahli dalam hal itu.


"Kamu tidak jadi pulang ke Prancis kan?" ujar pria itu sambil meminum wine nya, masih di atas ranjang.


"Entahlah..Apa kamu membutuhkan aku?" tanya Evelyn.


"Tentu saja sayang. Kamu tidak usah memikirkan karir bernyanyimu lagi. Jika kemarin aku tidak membantumu, mungkin kamu sudah dipenjara sekarang." pria itu berujar bangga. Evelyn teringat kejadian mengerikan itu.


"Lalu apa yang harus aku lakukan di sini?" tanyanya lagi.


"Senang-senang..Kamu hanya harus siap kapanpun aku membutuhkanmu." pria itu mengeluarkan sesuatu dari dompetnya.


"Ini unlimited. Pakai saja." pria itu mencium leher Evelyn, melakukan apapun yang ia mau seakan Evelyn miliknya. Evelyn membencinya, namun ia harus menerimanya jika tidak mau menjadi gembel di kota besar itu.

__ADS_1


Jujur saja pria itu masih terlihat tampan di usianya yang sudah separuh abad itu. Masih kuat di ranjang tentu saja. Evelyn membutuhkan itu. Dan yang lebih penting, uang pria itu seakan tidak ada habisnya. Evelyn merasa ia hanya perlu mengorek uang pria itu sedikit lagi sebelum ia memutuskan untuk meninggalkannya dan mendapatkan Aiden kembali. Hanya Aiden yang dibutuhkannya. Jujur saja, Darren hanya alasan baginya untuk bertemu Aiden. Jahat memang. Tapi Evelyn benar-benar tidak merasakan perasaan ibu dan anak yang mendalam. Ya, dia tahu Darren anak kandungnya. Hanya saja, naluri keibuannya sedikit demi sedikit menghilang begitu saja. Kesibukannya di Prancis hanya mengizinkannya untuk mengingat Aiden. Pria hebat yang dipacarinya dua tahun, menikah dengan pesta yang begitu meriah. Ia hanya tidak menyangka pil KB yang diminumnya diam-diam tidak bekerja di bulan kelima pernikahannya. Ia sangat takut karir bernyanyi yang baru melejit harus hilang karena kehamilannya. Evelyn sungguh sangat ingin melakukan aborsi. Tapi dia tidak segila itu. Ia sangat takut Aiden marah dan meninggalkannya jika ia nekad melakukan itu. Dan benar saja, kontraknya diputus karena tidak mungkin penyanyi baru muncul di berbagai acara dengan perut besar. Evelyn menjalani kehamilannya dengan pura-pura bahagia. Setidaknya Aiden ada untuknya, sangat memanjakan dan mencintainya. Hingga Darren berumur lima bulanan, tawaran rekaman pun datang. Tapi sayangnya itu datang dari temannya di Prancis. Evelyn sangat bingung. Apapun yang ia pilih nanti, pasti ada dampak buruk bagi hidupnya. Evelyn tidak sanggup menolak tawaran itu, ia merasa tidak mungkin lagi memulai karirnya di Indonesia. Sudah tamat. Namun jika ia memilih Prancis, ia harus meninggalkan anaknya yang masih bayi dan Aiden yang sangat dicintainya itu. Akhirnya Evelyn memilih Prancis. Ia yakin jika Aiden sangat mencintainya. Evelyn berjanji akan kembali dan mendapatkan Aiden kembali apapun yang terjadi. Bersyukur jika Aiden masih sendiri. Namun sialnya, Aiden sudah menikahi wanita itu, Airin.


*****


__ADS_2