
Airin dan Richie memasuki sebuah ballroom hotel mewah. Di dalam sana sudah tampak banyak tamu yang berdatangan.
"Kamu cantik malam ini Rin." Richie berbisik di telinga Airin.
"Mulai deh gombal." Airin tertawa. Ia mengenakan gaun hitam backless panjang, rambut disanggul ke atas, mengekspos keindahan leher dan punggungnya yang putih.
Richie memperkenalkan Airin ke om nya, Dicky Andirawan, adik papanya. Acara ini tidak terlalu formal. Barang yang akan dilelang sudah dipajang di berbagai sudut ruangan tersebut. Ada guci keramik,lukisan, dan pahatan patung kecil, ditutup dengan kaca untuk menghindari hal yang tidak diinginkan. Jika ada yang ingin menawar, mereka bisa menghubungi petugas yang menjaga di sana. Berbagai makanan dan minuman pun sudah tersedia.
"Hai Richie, ga nyangka ketemu kamu di sini."
"Hannah... Wow, you look gorgeous." puji Richie. Hannah Fang pun tampak terbiasa dengan pujian tersebut.
"Hai Airin, kalian datang berdua?" tanya Hannah.
"Iya." jawab Richie cepat sambil merangkul pundak Airin.
'Apaan sih ni Richie. Main pegang aja.' pikir Airin.
Tapi Airin dan Richie pernah membicarakan hal ini. Hannah tampak tertarik dengan Richie. Ya itu bisa dengan mudah terbaca. Hannah berasal dari dunia artis yang selalu terbuka dengan semua tindakannya. Tapi Richie agak terkesan menghindar. Bagaimana dengan Airin? Mmh...Airin diam-diam berencana untuk membantu Hannah. Honestly, Airin sungguh ingin sahabatnya itu bahagia tanpa dirinya. Jika perlu, Airin ingin Richie menikah lebih dulu daripada dirinya. Memang Airin berharap menikah lagi?? Who knows...
"Richie, kesana bentar yuk. Ada yang mau aku kenalin." Hannah menarik lengan Richie. Refleks Richie menarik lengan Airin.
"Ric, aku mau ke toilet bentar, kalian duluan aja." Airin meninggalkan Richie yang terlihat kesal dan bingung.
__ADS_1
'Hannah, jangan sia-siain kesempatan yang aku berikan ya.' Airin berharap telepati itu sampai ke Hannah.
Setelah keluar dari toilet. Buugg.. Airin menabrak seseorang di depannya. Ia pun mendongak karena pria di depannya cukup tinggi.
"Maaf." ucapnya pelan sambil melihat ke arah wajah pria itu.
"Airin" "Aiden" mereka memanggil nama masing-masing bersamaan.
"Sama siapa?" Aiden bertanya lebih dulu.
"Richie. Dia lagi sama Hannah Fang di sana." Jawab Airin sambil sedikit menunjuk ke arah sudut ballroom.
"Ooh..sekarang kamu mau kesana?"
"Ga juga sih. Lagi bingung mau ngapain hehehe.. Ga ada yang aku kenal di sini." Airin terlihat kikuk.
"Udaranya enak ya." Airin menghirup wine dari gelas yang diberikan Aiden.
"Cantik banget Rin." Aiden menatap lekat mata Airin.
"Makasih." Airin memalingkan matanya menatap taman yang ada di depannya.
Sudah hampir seminggu berlalu sejak mereka bercerita tentang kehidupan pribadi masing-masing. Dan selama itu pula mereka belum pernah bertemu.
__ADS_1
Aiden tidak berhenti menatap Airin dari sampingnya. Ingin sekali rasanya mencium pipi putihnya yang merona itu. Tapi Aiden masih bisa menjaga sikap. Ia sadar yang dicarinya sekarang adalah sesosok ibu untuk anaknya. Dan Aiden yakin Airin pun mencari sosok yang bisa menjadi ayah untuk Vely. Jadi jangan bersikap murahan ok, be gentleman.
Airin terlihat menggosok lengannya. Tetapi seketika dia merasa hangat akan sesuatu yang menutupi belakangnya. Terlihat Aiden yang melepas jas nya untuk dipakaikan ke Airin.
"Pakai ini dulu." ucap Aiden.
"Airin, boleh ga aku ajak kamu jalan besok malam?" sambung Aiden.
Airin sedikit terkejut dengan ajakan itu. Entah keberanian dari mana Airin mengiyakan ajakan itu. Airin sedikit merasa nyaman dengan Aiden. Mungkin ia sedikit terpesona dengan sikap sopan yang selama ini ditunjukkan Aiden.
"Rin, kamu di sini? Aku telepon kamu ga angkat-angkat." Richie menganggukan kepalanya sedikit ke arah Aiden tanda hormat. Matanya menatap kesal jas yang berada di belakang tubuh Airin.
"Mana Hannah?" tanya Airin.
"Managernya sakit perut, jadi mereka pulang." jawab Richie ketus.
Airin menyadari jas Aiden di tubuhnya. Ia kembalikan secepatnya ke Aiden.
"Cari makan yuk, laper." Airin masuk tanpa menunggu jawaban mereka berdua.
__ADS_1