
Jam 6 pagi Airin sudah mulai dimake up. Acara pemberkatan akan dilakukan di taman hotel pukul 10.00 dipimpin oleh seorang pendeta. Resepsi dijadwalkan pukul 6 sore di ballroom hotel yang sama. Pemberkatan pun hanya akan dihadiri oleh pihak keluarga.
Pendeta sudah siap di depan altar yang dipenuhi dengan bunga mawar putih. Aiden berdiri di depan, siap menyambut Airin yang didampingi Om Teddy. Airin memandang pria di depannya dengan penuh cinta. Setelan jas putih membalutnya tampan. Aiden pun melihatnya. Airin yang sangat cantik dengan gaun pengantin sederhana yang sengaja dipilihnya untuk upacara pemberkatan yang sakral. Lantunan musik Canon pun dimainkan. Airin berjalan perlahan ke arah Aiden. Mata mereka tetap menyatu hingga tangan Aiden menyambutnya hangat.
Akhirnya mereka resmi menjadi sepasang suami istri. Bukan hanya mereka yang bahagia, keluarga besar mereka pun merasakan hal yang sama. Mereka menikmati santapan yang telah disiapkan di sepanjang sisi taman itu. Sembari menunggu acara resepsi, mereka dapat beristirahat di kamar hotel masing-masing.
Airin dan Aiden pun beristirahat di kamar, tentu saja Vely dan Darren mengikuti mereka. Airin melakukan touch up. Setelah selesai, Airin duduk di sebelah Aiden yang sedang melihat hp nya.
"Sudah selesai Ai?" tanya Aiden, membantu Airin duduk yang tampak kesulitan dengan gaun yang baru digantinya.
"Sudah. Aneh ga make up nya? Aku ga biasa di make up gini." Kata Airin.
"Cantik banget. Semuanya cantik di kamu." kata Aiden. "Aku tidak sabar untuk menghapus make up mu nanti malam." bisiknya lagi. Airin bersemu merah.
"Apaan sih kamu?" Aiden tertawa melihat Airin yang terlihat malu.
__ADS_1
Aiden dan Airin memulai acara resepsi yang telah dihadiri banyak tamu dengan menyanyi lagu kesukaan merekadi tengah ballroom.
Kamu dikirim Tuhan untuk melengkapiku
tuk jaga hatiku...
Kamu hasrat terindah untuk cintaku
takkan cemas ku percaya kamu...
karena kau jaga tulus cintamu
Lagu Afgan dan Rossa yang sering diputar mereka jika sedang bersama.
Darren dan Vely berdansa di dekat orang tuanya. Dansa yang baru diajarkan oleh Richie setelah pemberkatan selesai. Richie bahagia melihat Airin dan Aiden. Ia merasa hatinya sudah mulai menerima semua itu. Cintanya ke Airin sudah melewati level untuk sekedar memiliki, ia hanya ingin belajar untuk melepaskan Airin karena ia terlalu mencintai Airin.
__ADS_1
Keluarga dan teman Airin yang diundang tidak terlalu banyak, tidak sampai seratus undangan. Lalu dari mana munculnya barisan tamu sepanjang ini yang sedang menunggu untuk menyalami kedua mempelai?? Keluarga Aiden tentunya. Sepertinya benar Mama Shinta membagi habis seribu undangan. Airin tetap tersenyum kepada semua orang yang menyalaminya walau ia sudah merasakan lecet di kakinya itu. Vina dan suaminya. Richie dan Hannah. Chris dan teman prianya. Teman-teman kantornya. Ya, tidak banyak yang Airin kenal selain keluarganya. Dan satu lagi yang ia ingat parasnya, Evelyn. Orang tua Aiden yang terlebih dahulu menyambut salam dari Evelyn pun kaget, tapi pura-pura tidak peduli karena banyaknya tamu.
"Selamat ya, Aiden." Evelyn mencium pipi pria itu. Aiden menahan marahnya. Airin pun merasakan marah dua kali lipat karena Evelyn melewatinya tanpa memberi selamat.
Aiden pun mengenggam tangan Airin mencoba menenangkannya. Airin langsung teringat kejadian yang sering ada di aplikasi media sosial dengan judul "Jangan undang mantan!".
Akhirnya Aiden dan Airin bisa beristirahat di kamar hotel. Berdua. Setelah acara drama Vely yang ingin tidur dengan mamanya. Akhirnya Vely luluh dengan bujukan Darren yang akan mengajarinya piano di rumah. Darren sang penyelamat Aiden hahaha...
"Kamu ngundang dia?" kalimat pertama yang keluar dari bibir Airin setelah mereka di kamar. Airin duduk di pinggir tempat tidur masih dengan gaunnya.
"Mana mungkin Ai, aku ga segila itu. Dia itu sengaja mau cari masalah sama aku. Awas kalau aku ketemu dia nanti." Aiden diam. Pura-pura marah agar Airin tidak menyalahkannya lagi.
"Sabar Ai. Kayaknya memang dia sengaja sih. Masa tangan aku dilewatin begitu saja. Sudahlah jangan bahas dia lagi. Males." Airin menuju meja rias, mencoba membuka jepit-jepit di rambutnya. Aiden membantunya.
"Ini mau dibuka juga ga Ai?" Aiden bersiap membuka resleting belakang gaun Airin. Airin tahu maksud pria yang sudah menjadi suaminya itu. Mereka sama-sama pernah menikah dan hal ini bukan yang pertama untuk mereka berdua.
__ADS_1